Antre Lift buat Beli Tahu Campur

Antre adalah budaya hormat-menghormati dan menghargai siapa yang duluan atau dibarisan terdepan untuk mendapat giliran pertama dan seterusnya. Semua orang jelas ingin di utamakan, didahulukan dan dilayani. Tak ayal demi untuk mendapat giliran pertama orang rela untuk datang lebih awal. Nah bagaimana jika deretan yang namanya antrean dinodai? apa yang harus dilakukan….?

Tinggal disebuah desa, adat antre begitu diagungkan, bahkan sampai-sampai orang tua (sepuh) mendapat perlakuan khusus. Yang Tua-pun acapkali tidak mau mengalah untuk mendahulukan yang muda, filosofi rikuh pekewuh nampaknya masih mengakar kuat. Saat didesa ada acara selamatan dan mengundang para tetangga untuk hadir, maka coba dilihat deretan tempat duduknya. Orang yang pertama datang, biasanya akan duduk di mulut/dekat pintu masuk, selanjutnya bergeser-bergeser semakin ke dalam. Apabila ada yang dirasa lebih tua/dihormati maka langsung akan disuruh masuk, tetapi akan diawali dengan duduk dimulut pintu dahulu sebagai tanda jika datang belakangan. Berbeda dengan fenomena saat ini diluar desa, siapa cepat dia dapat dan kalau bisa paling depan, tanpa melihat siapa yang dibelakang.

Hari ini, lari tergopoh-gopoh seperti biasa pulang mudik dengan seabrek barang bawaan. Niat mau belanja perlengkapan komputer disalah satu mall dilantai 5. Datang pertama, pencet tombol UP disebuah lift. Angka lift berangsur-angsur turun 7, 6, 5, 4,3, lalu datang beberapa orang yang tak mau kalah untuk mengantret. Ting lift turun di angka 2 datang seorang mBak-mbak dengan badan yang cukup bongsor menggeser barisan saya. Ting lift menuju angka 1 datang sepasang kekasih sambil bergandengan tangan.

Sebelum pintu lift terbuka, ada sebuah tulisan “Dahulukan yang Keluar”, begitu terbuka keluar sekitar 8 orang dan terlihat berjubel. Maka menyingkirlah sementara untuk memberi jalan yang keluar. Terlihat mereka yang antre pada berebut yang masuk dan tinggal saya sendiri yang tersisa. Mencoba masuk dan tuuuuut……..”OVER LOADED” seoarang satpam yang didalam mengusir saya untuk keluar. Terpaksa keluar, “busyet kan saya antree duluan”… karena buru-buru, maka lewat tanggal eskalator sambil melihat naiknya lift pelan-pelan menuju lantai demi lantai.

Setelah berjuang dengan 5 tangga eskalator, saat sampai lantai 5 “tiiiing” bersamaan dengan pintu lift dibuka. Satpam yang tadi mengusir saya heran dan nyeletuk….
“lho kok cepat sekali Mas… “
“lho saya kan antree duluuan… makanya pantes donk sampai duluan” sambil ngusap kringet dan ngos-ngos an… Misi pertama selesai, saatnya ngisi perut dengan tahu campur dilangganan saya “Tahu Campur Sophie Martin”. Nama penjual tahu yang saya plesetkan dari kata “ibu Sopiah” dan dipanggil mak Sopi….

Perut lapar, sambil nunggu antrean untuk diracik tahu campur. Diwarung itu ada 3 orang yang masih antree, satu…. dua… orang sudah selesai dan saat orang ketiga dibuatkan datanglah sebuah mobil plat merah dengan 4 penumpang berpakaian Korpri. Nampaknya sudah langganan Tahu Campur Sophie Martin. Nah akhirnya tiba giliran saya untuk mendapat tahu campur, namun tiba-tiba Ibu Sopi berkata;
“mas diselake 4 disik ya Mas…?” (mas saya dulukan bikin 4 ya…).
“oh silahkan bu ndak papa…. silahkan saja…” sambil beranjak berdiri dan tanpa pamit.
“loh mas kok malah lungo” (lho mas kok pergi) tanya bu Sopi.
“antre tempat lain saja bu…. saya ndak bakalan ngantree sini lagi”.
Sambil melirik, terlihat orang-orang yang barpakaian korpri nampak cengar-cengir saja, tanpa ada itikad baik. Otak ini semakin anti pati saja dengan seragam abdi negara, yang seharusnya tahu bagaimana menjadi perpanjangan tangan rakyat.

Antree..wufhh antreee sebuah budaya yang saya idamkan seperti diluar negeri yang terlihat begitu disiplin, santun, tertib dan mendahulukan yang memang layak didahulukan.

Salam

DhaVe
BRT, 30 November, 11:00

Advertisements

35 thoughts on “Antre Lift buat Beli Tahu Campur

  1. @addict; coba ada tulisan “antre urut elek” gak bakal rebutan… mungkin hanya dikau yang paling depan hahaha…. ciaaaaaaaaaaaak kena tungkak….@tjah; bethul mas.. Masarakat maju dan sadar… jadi iri yo ama nipon…

  2. orang2 kita kalau suruh antrekok susah banget ya, ga di jalan ga bayar di kasir maunya nrobot aja, pantesan jalannya kerap bottle neck, dan macet rugi sendiri, yang harusnya dengan antri jadi lancar malah jadi lebih lama karena ga sabaran dan ga mau antri, makanya sering dimarahi orang bayar di kasir superngampret suka nyerobot (ini banyakan ibu2 katrok), pantesan negara susah majunya, la wong hal sederhana seperti antri aja susah

  3. Ini baru masalah antri urutan yang praktis. Coba kita lihat dalam penerimaan siswa baru dsb. Banyak yang sudah memenuhi syarat, lulus ujian dan diterima eeeeehh …………. akhirnya tergusur oleh orang-orang yang bahkan tidak lulus persyaratan dan ujian hanya karena orang-orang itu punya pengaruh lebih besar entah karena kuasa atau karena uang. Di satu sisi ada orang tua yang begitu mencintai anaknya dengan memperjuangkan untuk masuk sekolah favorit entah bagaimana caranya. Di sisi lain ada anak yang telah berjuang mati-matian untuk masuk sekolah favorit namun terlindas oleh tindakan tidak sportif. Tragis deh!

  4. sulisyk said: pantesan negara susah majunya, la wong hal sederhana seperti antri aja susah

    Weh, eling mas. Dalam banyak event para tukang potret juga pada egois. Kalau sudah berseragam dan bersenjata trus “menangan”, ga inget kalau kehadirannya sering menutupi penonton, mengganggu jalannya acara dsb. Semoga tupo-tupot pun makin tahu diri ya.

  5. hearttone said: Weh, eling mas. Dalam banyak event para tukang potret juga pada egois. Kalau sudah berseragam dan bersenjata trus “menangan”, ga inget kalau kehadirannya sering menutupi penonton, mengganggu jalannya acara dsb. Semoga tupo-tupot pun makin tahu diri ya.

    sindirlah tupot yang suka ngaling2i penonton mo hahahahahaha**ngaciiiiiiiiiiiiiiiirrrrr

  6. sulisyk said: sindirlah tupot yang suka ngaling2i penonton mo hahahahahaha

    Haha, saya ga suka nyindir kok. Kalau terjadi dalam event penting apalagi sakral ada tupot yang sampai mengganggu apalagi intervensi acara biasannya dengan lembut saya kasih pilihan: “Salah satu harus keluar, baiknya anda atau saya?” Hahaha.

  7. sulisyk said: sindirlah tupot yang suka ngaling2i penonton mo hahahahahaha

    untung saya ga suka naik2 sampai altar kalau motret pengantin, cukup sadar diri saja, dan kebetulan seringnya saya malah ga motret event kok mo hehehe

  8. sulisyk said: orang2 kita kalau suruh antrekok susah banget ya, ga di jalan ga bayar di kasir maunya nrobot aja, pantesan jalannya kerap bottle neck, dan macet rugi sendiri, yang harusnya dengan antri jadi lancar malah jadi lebih lama karena ga sabaran dan ga mau antri, makanya sering dimarahi orang bayar di kasir superngampret suka nyerobot (ini banyakan ibu2 katrok), pantesan negara susah majunya, la wong hal sederhana seperti antri aja susah

    siapa cepat dia dapat Om….

  9. hearttone said: Ini baru masalah antri urutan yang praktis. Coba kita lihat dalam penerimaan siswa baru dsb. Banyak yang sudah memenuhi syarat, lulus ujian dan diterima eeeeehh …………. akhirnya tergusur oleh orang-orang yang bahkan tidak lulus persyaratan dan ujian hanya karena orang-orang itu punya pengaruh lebih besar entah karena kuasa atau karena uang. Di satu sisi ada orang tua yang begitu mencintai anaknya dengan memperjuangkan untuk masuk sekolah favorit entah bagaimana caranya. Di sisi lain ada anak yang telah berjuang mati-matian untuk masuk sekolah favorit namun terlindas oleh tindakan tidak sportif. Tragis deh!

    bethul Om… itu baru sekolah..PNS, TNI, POLISI gimana…. sama nasibnya, kalah dengan silau rupiah dan kekuasaan. Makasih Mo sudah nambahi.. salam

  10. hearttone said: Weh, eling mas. Dalam banyak event para tukang potret juga pada egois. Kalau sudah berseragam dan bersenjata trus “menangan”, ga inget kalau kehadirannya sering menutupi penonton, mengganggu jalannya acara dsb. Semoga tupo-tupot pun makin tahu diri ya.

    injih Romo… siap laksanankan…. yook cari lensa yang bisa molor..supaya bisa jarak jauh…tamnpa harus jadi makro lagee…

  11. lalarosa said: antrilah di loket untuk beli tiketinget ga ma lagu ini??kesadaran diri yang kadang kalah dengan ambisi

    wakakakakaka…. bebek ajah bisa baris.Gw demen tuh sidiranmu mas.. ^_~aku jg antipati ama org yang ga mo ngantre…pernah makan di warung yang notabene orang2 kantoran semua yang makan yang jelas2 berpendidikan dan perlente dan cantik.halah kaga ada yang mo ngantri. sampek2 aku bilang ajah. Lah yang dari tadi aja ga dilayanin (dengan muka jutexnya) lalu yg dateng mo nyelak pada mundur perlahan. wakakakakakaka…..

  12. lalarosa said: antrilah di loket untuk beli tiketinget ga ma lagu ini??kesadaran diri yang kadang kalah dengan ambisi

    budaya antri sudah memudar dari kita, karena kita merasa penting dan juga keacuhan kita.antri banyak anggapan orang untuk kaum lemah saja sedang yang kuat dia dahulu, dia yang berkuasa itu yang terjadi didaerahkusedih jelasnya karena harusnya ibu2 yang harus dilindungi jadinya dibuat kalah kalahan saja sedih šŸ˜¦

  13. lalarosa said: antrilah di loket untuk beli tiketinget ga ma lagu ini??kesadaran diri yang kadang kalah dengan ambisi

    sedari kecil diajari budaya ngantri,udah gede dengan sendirinya meniru budaya nyerobot…

  14. rirhikyu said: wakakakakaka…. bebek ajah bisa baris.Gw demen tuh sidiranmu mas.. ^_~aku jg antipati ama org yang ga mo ngantre…pernah makan di warung yang notabene orang2 kantoran semua yang makan yang jelas2 berpendidikan dan perlente dan cantik.halah kaga ada yang mo ngantri. sampek2 aku bilang ajah. Lah yang dari tadi aja ga dilayanin (dengan muka jutexnya) lalu yg dateng mo nyelak pada mundur perlahan. wakakakakakaka…..

    makasih mBak,,,,kalau saya, lebih baik mundur dan mengalah untuk cari tempat lain, nah kalau sudah begini siapa hayoo yang rugi? apalagi kalau saya gembar-gembor ama yang lain…yah diemin aja,,,, tinggal pergi sajah hehehe….

  15. elok46 said: budaya antri sudah memudar dari kita, karena kita merasa penting dan juga keacuhan kita.antri banyak anggapan orang untuk kaum lemah saja sedang yang kuat dia dahulu, dia yang berkuasa itu yang terjadi didaerahkusedih jelasnya karena harusnya ibu2 yang harus dilindungi jadinya dibuat kalah kalahan saja sedih šŸ˜¦

    hukum rimba berlaku disini, siapa yang berkuasa, siapa yang kuat dialah yang tedepan.Andai kata ada huku kasih “kasihinilah sodaramu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”, alangkah indahnya hidup ini… ngimpiiiiiiiiiiiiiii… bangun..banguuun….

  16. centna said: sedari kecil diajari budaya ngantri,udah gede dengan sendirinya meniru budaya nyerobot…

    soalnya waktu itu banyak yang tutup warungnya. puasa pertama.. hiks…kl kaga siy saya jg dah pindahtempat dech. Malessssss… >_<!–

  17. dhave29 said: mas diselake 4 disik ya Mas…?” (mas saya dulukan bikin 4 ya…).”oh silahkan bu ndak papa…. silahkan saja…” sambil beranjak berdiri dan tanpa pamit.”loh mas kok malah lungo” (lho mas kok pergi) tanya bu Sopi.”antre tempat lain saja bu…. saya ndak bakalan ngantree sini lagi”.

    hahaha….*tepuk tangan*harus disentil kayak gitu mas.

  18. ariesnawaty said: hahaha….*tepuk tangan*harus disentil kayak gitu mas.

    @alam; nGaya…mBois gak kie hehehe….@agnes; bebek nya udah antre masuk wajan penggorengan…. hiks..hiks…@alex; pancen gombal… manis ditulisan, pahit dipelaksanaan… wuisin aku..wuiiisin… oh 024…. enak 0298….

  19. ariesnawaty said: hahaha….*tepuk tangan*harus disentil kayak gitu mas.

    once again, always..nice posting, Mas…. dulu juga saya sering BT gara2 udah cape2 ngantri, tapi di selak….waktu saya kerja jadi kasir, kalo ada yang nge cut antrian dan saya layani, saya kena SP…. kalo disini kok manajer toko ga negur pegawainya ya?…hehehhee…

  20. ariesnawaty said: hahaha….*tepuk tangan*harus disentil kayak gitu mas.

    @alam; horeee horeee aku mBoiss sitik gapapa….@harataya; makasih mbak.. memang budaya dan mental yang masih ada sisa orang primitif dan barbar susah diatur, disuruh tertib juga susah.. menang-menangnya sendiri sak enak ususe…setuju..kasih SP syukur ada yang nyerobot kasih denda…. hehehe… ndak ada budaya malu dan rikuh pekewuh… suwun

  21. ariesnawaty said: hahaha….*tepuk tangan*harus disentil kayak gitu mas.

    @alam; horeee horeee aku mBoiss sitik gapapa….@harataya; makasih mbak.. memang budaya dan mental yang masih ada sisa orang primitif dan barbar susah diatur, disuruh tertib juga susah.. menang-menangnya sendiri sak enak ususe…setuju..kasih SP syukur ada yang nyerobot kasih denda…. hehehe… ndak ada budaya malu dan rikuh pekewuh… suwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s