Dia Korban Sapi, Saya Korban Perasaan

Idul Adha, atau masyarakat menerjemahkan sebagai hari raya kurban. Diawali dari kisah nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya Ismail, namun atas kehendak Allah digantikanlah seekor domba gemuk, dari peristiwa tersebutlah diawalinya dengan hari raya kurban. Kaum muslim seolah dan sepakat, setiap tanggal dan kurun waktu tertentu diadakan idul fitri setiap tahun sekali.

Sebuah makna simbolis tentang sebuah pengorbanan dari seorang nabi, entah cerita tersebut dari mana yang bisa menjelaskan kronologinya secara detail. Mungkin dari beberapa sumber saya coba rangkum, dimana Nabi Ibrahim, anaknya dan pengawalnya berjalan disebuh tempat. Menjelang sampai dilokasi, Nabi Ibrahim memerintahkan pengawalnya untuk berhenti, dan hanya Beliau dan anaknya yang melanjutkan perjalanan, singkat cerita anaknya digantikan domba untuk korbannya.

Sebuah filosofi yang sedikit melenceng saat ini dan menjadi sebuah tregedi kemanusiaan. Pengawal nabi Ibrahim malih rupa menjadi seorang pencari berita, pewarta kabar, atau penggosip yang melantangkan, si A mengorbankan sapi sekian ekor, si B mengorbankan sekian ekor kambing dan lain sebagainya. Apakah harus seperti itu bersikap dalam menjalankan sebuah ibadah dan niatan yang tulus?. Tidak salah juga diberitakan dalam rangka transparansi, tetapi apabila terlalu di ekspose terlalu dalam kayaknya naif sekali “pemirsa..mari ikut saya kepasar hewan… saya mau beli sapi untuk saya korbankan… ehh pak..boleh ditawar gak..ogah ah..itu kemahalan… ini aja..tawar dikit yah…nah pemirsa ini sapi yang akan saya sumbangkan di masjid dekat rumah saya.blaa..blaaa dan blaa…”.

Penerima korban juga jauh lebih menyedihkan, tanpa mengurangi rasa hormat dan maaf atas kelancangan saya “mendadak miskin hanya untuk sekilo daging”, seolah harga diri dan perasaan malu terkoyak sudah oleh pisau sang jagal. Mereka rela antri, berdesak-desakan, berebutan, bahkan saling injak, dorong, hanya untuk segumpal daging yang habis dalam sekali telan tanpa melihat siapa dikanan kiri, depan belakngnya, pokoknya harus dapat. Tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang merasa benar, asalkan dapat selesai perkara. Lebih ironis lagi, daging hasil jerih payah seharian mengantre dijual kembali, nah orang berduitlah yang menikmati.

Sebuah makna sakral yang ternodai oleh gengsi, prestis, ketamakan, keserakahan. Nah yang menjadi pertanyaan, apakah hanya setiap 10 zulhijah untuk korban sapi dan kambing? Naif sekali jika diwajibkan harus berkorban saat momment tersebut. Lantas apakah kaum berada atau mampu yang wajib berkorban? tidak menutup kemungkinan kaum bawahpun bisa berkorban. Tidak perlu dengan sapi, kambing, tetapi dengan niat tulus dan iklas untuk membantu sesama adalah berkorban dalam arti sesungguhnya. Makna berkorban dengan segala keterbatasan adalah jauh lebih mulia daripada dari kelimpahan baru berkorban.

Mari membantu sesama dengan talenta, kelebihan, kepakaran dan semua talenta yang diberikan Tuhan apapun bentuknya… dengan tulus iklas pasti Tuhan yang membalas…

salam

DhaVe
Bakaran Sate, 28 November 2009; 11.00

18 thoughts on “Dia Korban Sapi, Saya Korban Perasaan

  1. banyak kejadian seperti itu sekarang inidan ironisnya ini seperti dimaklumi ahhhhhh dasaryang saya liat sendiri malah lebih sadisjadi pembagianya adalah orang yang berkumpul ditempat penyembelihan itu mendapat bagian lebih banyak dan yang dirumah sedikit padahal yang berkumpul ditempat penyembelihan kebetulan rata rata orang mampu orang berada mereka bermobil tapi masih tega melakukan itu.dimana rasa itu hilang padahal ada orang yang sama sekali belum pernah makan daging tida mendaat bagianmas aku gak bisa ngomong lagiini sebuah ketidakadilan tapi ketika aku berbicara aku dianggap soksuci lantas apa dayakudiam kah jawabannya ???

  2. @elok;makasih sudah menambahi fenomena ini… sedih dan tragis sekali… memang tidak bisa ngomong, mungkin berdiam diri adalah jalan yang terbaik sambil teriak-teriak ditulisan seperti ini…mungkin bisa jauh lebih didengar daripada gembar-gembor bak ustadz kesiangan..makasih..makasih…

  3. iya seperti sedihnya aku saat inimerancau kalimat tak jelasseakan protes terhadap waktubukan kusesali hanya sedikit mengeluh terkadang melihat yang tak wajarah serasa menambah sumpek suasana hatikacau pikiran terbit puisi merancau hahahaha :)sudah waktunya reparasi otak lagi waktunya ke dokter lagi wkwkwkwmet weekend

  4. @elok; hehehe… tumpahkan semua dalam tulisan…. semangat..@centna; bukankan yang berkorban dikayu salib sudah memberi contoh solusi… itu jawabnya…. πŸ˜€ (ngelesdotkodotaidi)

  5. dikembalikan pada (sebagian) warga Indonesia ini yang masih “miskin” jiwanya… sebagai esensi Idil Adha bukan hanya sekedar “daging kambing/sapi”, tapi bisa nggak kita mengorbankan semua kcintaan “duniawi” untuk kecintaan terhadap pada sang Pencipta, agar kita menjadi manusia yang lebih “bijaksana” dan lebih peduli terhadap sesamanya dan bukan hanya sekedar mengorbankan harga dirinya untuk sekilo daging…. imho

  6. vivianaasri said: Rendang sapi, dendeng + empal dah mateng neh. Gk usah ngantri, qt mkn brg aj, blh nambah koq. Hehe.. Nyem3x..

    @alex; setuju Mr. Hamz… yups bijaksana… makasih sudah menambahkan…@vivi; saya juga mau… mau… eh gak makan daging dink… rumputnya sajah gimana?@lala; yups… kembali ke hakekat korban… seperti para nabi mencontohkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s