Upeti yang Ditolak oleh Sang Penguasa

Pemerintah, Abdi Negara ataupun instansi syarat akan kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Tak ayal, maka pungutan liar, upeti atau setoran pintu belakang sudah menjadi rahasia umum dibeberapa kalangan wiraswasta. Apa daya tanpa kuasa, yang ada bagaimana mensiasati kelakuan-kelakuan para pegawai dengan embel-embel NIP.

Siang itu mungkin hari apes, karena harus mewakili juragan untuk meeting dengan sebuah instansi pemerintah untuk membahas kebijakan ekspor. Semua perusahaan satu kawasan industri hadir dalam pertemuan tersebut, agar usahanya tetap lancar. Disebuah ruangan hotel bintang 5 dengan jamuan mewah, mendapat pencerahan dari aparat pemerintah. Terlihat banyak sekali yang tanya jawab tentang kebijakan tersebut dari beberapa perusahaan sandang, pangan dan mesin. Mungkin jurusan pendidikan yang tidak nyambung atau saking bebalnya otak mengenai ekspor – impor, cukup anggukan kepala tanda setuju mengiringi saat ketok palu pengambilan keputusan.

Tiba saat makan siang, tanpa diminta dan disuruh semua yang hadir menuju ruang makan. Masing-masing yang hadir agak aneh sepertinya, seolah akan ada pameran, karena penasaran maka bertanyalah.
“lho pada bawa apa itu pak? mau ada pameran”
“oh ini sampel produk, biasa biar licin, apa gak baca disurat undangan, jika masing-masing perusahaan bawa sampel”
“wajib ndak Pak….?”
“Tidak juga, tapi biar lancar dan kelar urusannya kenapa tidak”.
Cilaka…cilaka, karena tidak baca undangan maka tidak tahu kalau harus bawa sampel. Terlihat banyak sekali sampel dari puluhan perusahaan, baik hanya sekedar brosur, katalog ataupun barang jadi. Bakalan di omelin juragan besar nie sampai kelewatan.

Sambil makan, mutar otak-mutar otak gimana nanti kalau disamperi Pegawai Pemerintah. Akhirnya ada 3 bapak-bapak dengan seragam safari mendatangi meja makan, dengan rasa hormat dan “cling” ada ide.
“silahkan duduk bapak-bapak… ada yang bisa saya bantu?”
“begini Pak… bisa kah kami meminta sampel dari produk bapak”
“boleh…boleh… maaf tidak terbawa, tapi nanti bisa saya kirim dikantor bapak-bapak semua, kebetulan tidak tahu ukuran bapak berapa apalagi agak gemuk dan subur begini hehehehe…..”
“wah..wah… jangan dikantor, langsung dirumah saja biar enak nantinya” sahut seorang pegawai.

Perbincangan dilanjutkan sambil terus makan.
“kalau boleh saya minta alamat bapak semuanya dan tinggi badan bapak serta lingkar perut”
Kemudian 3 pegawai tersebut dengan antusias menulis alamat rumah lengkap dengan nomer telpon, dan ukuran tinggi badan dan lingkar perutnya.
“cuma 3 saja nie Pak… sampelnya, jika ada yang mau minta dengan senang hati bisa kami kirim” sembari menerima selembar kertas.
“3 dulu saja, nanti kalau bisa minta lagi masih boleh kan”
“wah tentu saja boleh pak… dengan senang hati kami kirim”
“loh usaha bapak ini dibidang konveksi, pakaian jadi atau apa kok minta tinggi badan ama lingkar perut..?” tanya seorang bapak.
“ndak kok pak… maklum usaha warisan leluhur yang sekarang sudah ekspor ke Eropa dan Asia Timur”
“lantas produknya apa..? kok sudah melanglang buana dipenjuru dunia gitu” tanya seorang bapak yang kelihatan tidak sabar.
“ehmm…ehmmm PETI MATI Pak… ada yang dari kayu jati, suren, sengon atau fiber glass… bapak minta dari bahan apa…????”
“maaf..maaaf ndak jadi minta sampel…silahkan makannya dilanjutkan dan permisi…!!!”
“loh pak… gimana nie.. jadi ndaaak…pak…!!!

Kembali ke kantor pabrik, sambil nunjukin undangan di bagian produksi, tak berapa lama sampel 2 KG ikan laut kering beku sudah keluar dari ruangan berpendingin.
“mas mau dibuat apa ini….?” tanya kepala produksi
“baca dulu nie undangan… kalau tidak jelas baru tanya, juragan yang suruh..!!!” dengan gaya muka sedikit kesal (kadalnya keluar).
“oke..oke paham, terus sekarang mau kemana?”
“mau naik gunung….hehehehe… bye..bye.. sampe ketemu senin yach makasih……!!!”
Akhirnya digunung bisa makan sampel ikan seharga $20 per kilonya. Lebih baik dinikmati bersama teman-teman dan sahabat alam, daripada diberikan kepada pejabat yang sudah kaya raya, makmur namun masih serba kurang..kurang dan kurang, tanpa meilihat berat badannya yang bulet dengan perut buncitnya.

Salam

DhaVe
OTW ke Gunung, 27 November 2009, 08:00

27 thoughts on “Upeti yang Ditolak oleh Sang Penguasa

  1. dhave29 said: siap-siap bawa gelang rantai sendiri-sendiri…

    @harataya; matur sembah nuwun mBak.. suwun..@elok; xixixixiiii… yang keren orangnya ya hehehe…@centna;njepret rampok ya hehehe… senjata makan tuan dunk…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s