Pemimpin Dunia Takluk di Tangan Anak 12 tahun

“saya mengaku tidak lebih pintar dari anak kelas 5 SD” sebuah kalimat yang dilontarkan seorang lulusan Master cum laude yang harus takluk dengan pertanyaan IPS kelas 3 SD. Sebuah stasiun televisi mengadakan kuis yang menantang orang dewasa dengan anak kelas 5 SD, dan hasilnya adalah sebuah pernyataan “tidak lebih pintar”. Sebuah acara yang saya kira menarik, karena bisa memberikan pelajaran kepada kita yang telah lulus dari kelas 5 SD untuk tidak meremehkan anak-anak.

Savern Suzuki, 12 tahun pelopor ECO (Enviromental Childrens Organization) telah membungkan pemimpin dunia, wartawan, dan semua yang hadir dalam pertemuan PBB. Melalui pidatonya, semua yang hadir merasa malu dan tertampar akan tindakan yang selama ini dilakukan. Severn Suzuki dengan lantang menantang para pemimpin dunia yang hadir berhubungan dengan kondisi lingkungan yang terjadi saat ini.

Tahukan anda, banyak anak-anak yang kelaparan, namun tangisnya tak kalian dengar, banyak binatang yang sekarat yang tak anda lihat. Saya takut pergi keluar kerana lapisan ozon yang berlubang dan takut bernafas karena bahan kimia di udara yang tidak kami ketahui. Saya hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu bagaimana pemecahannya. Apakah anda tahu bagaimana cara menambal lapisan ozon, mengembalikan hewan dihabitatnya, mengembalikan hutan yang sudah menjadi gurun?.

Disekolah kami di ajarkan untuk berbuat baik, tidak berkelahi, tetapi kenapa timbul kekacauan, pembunuhan dan pengrusakan adalah anda penyebabnya dan mengapa anda tidak melakukan apa yang telah anda ajarkan. Anda akan dikenang karena perbuatan anda, bukan kata-kata anda. Saya menantang anda untuk mewujudkan kata-kata anda.

Semua yang hadir memberikan tepuk tangan haru dan ketua PBB menyambut Saver Suzuki atas pidatonya “hari ini saya malu terhadap diri saya dan baru saja dikalahkan anak 12 tahun yang berbicara tanpa teks, sedangkan saya maju dengan selembar naskah yang dibuat asisten saya”. Saya telah dikalahkan anak umur 12 tahun.

Sepenggal kisah dan cerita, dimana seorang anak kecil ternyata bisa membungkam mulut dan memaksa pemimpin dunia untuk bertekuk lutut. Sebuah pesan moral mengenai kondisi lingkungan hasil dari perbuatan kita yang lebih tua untuk menjaga dan menghentikan kerusakan lingkungan yang terjadi. Generasi mendatang mungkin tidak bisa melihat kerbau, sapi, kambing yang telah dibantai habis untuk konsumsi pangan.

Berhati-hati terhadap perkataan dan tindakan, jangan sampai ditantang anak masih kencur untuk nambal ozon dan menghidupkan dinosaurus. Akibat ulah kita mereka menantang kita, apakah tanggung jawab dan tidakan kita sekarang, cukupkah dengan sebuah pengakuan.?
Mari bertindak, berbuat jangan hanya berkata dan menulis.
ECO…………lanjutkan..!!!!!!!!

salam

DhaVe
Office, 19 November 2009, 09:15

32 thoughts on “Pemimpin Dunia Takluk di Tangan Anak 12 tahun

  1. sulisyk said: Mulai dari diri sendiri dulu yuk, dari hal-hal kecil, karena hal2 besar berawal dari hal-hal kecil

    bethul om..bethul mari kita lakukan…mariiiiiiiiiiiiiiii….mariii yuk mariiiiiiiiiiiiiiiiii… hehehe😀

  2. centna said: hmm..apa karna anak2 melihat putih ya putih dan hitam ya tetap hitam?kalo orang dewasa cenderung memputihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih..dunia memang semakin tua…

    bisa gradasi ya… bagaima dengan masa depan mereka?

  3. centna said: hmm..apa karna anak2 melihat putih ya putih dan hitam ya tetap hitam?kalo orang dewasa cenderung memputihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih..dunia memang semakin tua…

    pelajarane bocah saiki uangel2aku yo ngaku kalah

  4. alexandraprisnadiani said: Waktu PPL,kita diberi tawaran mau PPL di mana,antara SD Negeri,ato SD Swasta yg jd 1 sama SWCU. Tapi kami sudah ketakutan dulu. Kami takut kalo’ kami memang tidak lebih pintar dr anak kelas 3 SD. Hehetfs..

    hahaha…. eduuun… makane ati-ati mbe cah cilik sak iki..kembali kasih mBak..

  5. alexandraprisnadiani said: Waktu PPL,kita diberi tawaran mau PPL di mana,antara SD Negeri,ato SD Swasta yg jd 1 sama SWCU. Tapi kami sudah ketakutan dulu. Kami takut kalo’ kami memang tidak lebih pintar dr anak kelas 3 SD. Hehetfs..

    mas gpp koq wakakakaka🙂

  6. alexandraprisnadiani said: Waktu PPL,kita diberi tawaran mau PPL di mana,antara SD Negeri,ato SD Swasta yg jd 1 sama SWCU. Tapi kami sudah ketakutan dulu. Kami takut kalo’ kami memang tidak lebih pintar dr anak kelas 3 SD. Hehetfs..

    Saya menantang anda… apakah anda semua bisa mengcapture semua “keindahan” yang sudah dianugrahkan kepada anda semua dengan metering 0 (*baca : dengan jujur)…

  7. alexandraprisnadiani said: Waktu PPL,kita diberi tawaran mau PPL di mana,antara SD Negeri,ato SD Swasta yg jd 1 sama SWCU. Tapi kami sudah ketakutan dulu. Kami takut kalo’ kami memang tidak lebih pintar dr anak kelas 3 SD. Hehetfs..

    @elok; oke lanjoooot….@alex;wah nie anak umur berapa? berani nantang..nantang… saya mengaku “tak lebih pintar dari anda untuk metering nol” jujur ini…jujur ini… tapi “dengan tindakan akan saya buktikan kata-kata anda…!!!”

  8. alexandraprisnadiani said: Waktu PPL,kita diberi tawaran mau PPL di mana,antara SD Negeri,ato SD Swasta yg jd 1 sama SWCU. Tapi kami sudah ketakutan dulu. Kami takut kalo’ kami memang tidak lebih pintar dr anak kelas 3 SD. Hehetfs..

    @hitungmundur; gak salahkan..? terbukti..!!@sam; yups…. makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s