Turis Kere dan Gereh Bakar

Tak ada angin, tak ada petir, setelah 7 tahun tak ada kontak maka datanglah sebuah surat elektronik dari kawan lama. Adam, bule asal Australi memberi tahu kabar kalau sedang berada di Indonesia bersama sohib kentalnya, Peter asal Inggris untuk kembali menjelajahi gunung dan tebing di Indonesia. Tak tahu apa yang ada di pikiran mereka untuk berkelana, layaknya pendekar-pendekar pada masa lalu.

Saat hardtop melintasi jalanan menuju Ranu Pani, ada 2 bule yang berjalanan kaki dengan 2 ransel besar dipunggung, sepertinya tujuan mereka sama. Akhirnya mereka hilang ditelan debu jalanan dan tak terlihat sampai berlanjut di pendakian. Perkenalan di awali saat kita camping di Ranu Kumbolo, setelah 2 hari bercengkrama menembus puncak Semeru. Nah dihangatnya udara Semeru yang menembus angka 4C, membuat 7 orang mengelilingi api unggun. Beralaskan matras kita saling bercengkrama dan memperkenalkan diri, dan kebetulan salah satu dari kita ada yang kuliah mengambil sastra Inggris, sehingga cukup menjadi kamus berjalan.

Kita saling memperkenalkan diri, dan 2 bule tersebut juga bergabung dan tak kalah kocaknya malam itu. Adam bule ostrali memperkenalkan diri, bekerja di sebuah pertambangan, kumpul duit buat keliling Indonesia. Tak beda dengan Peter, rakyat dari Ratu Elizabeth tersebut rela keluar dari sebuah Bank ternama hanya untuk back packer ke Indonesia. 2 bule tersebut bertemu dan berkenalan saat sampai di bali, mungkin karena bernasib sama, maka berkawan kariblah mereka.

Tanpa melihat sejarah nenek Moyang mereka, dimana orang Ostrali adalah kumpulan penjahat yang dibuang orang Inggris untuk dipekerjakan di pulau Kanguru. Terlihat mereka akrab dan gokil abis dilihat dari gaya mereka yang kocak dan konyol. Aksi bule gila ini terlihat saat sibuk mencari kaleng minuman, lalu bagian atas di potong, kemudian sisa-sisa kopi dari 5 gelas kopi kami dijadikan 1 ditambah air sampai penuh dihangatkan sebentar diatas api unggun dan secara bergantian disruput oleh Adam dan Peter. Tak ada rasa jijik atau risih saat harus minum kopi sisa, padahal kami menawarkan untuk membikinkan mereka kopi, tetapi ditolaknya “lebih enak ginianhaha” jawab mereka.

Nasi akhirnya sudah matang, dan selembar plastik kami gunakan sebagai alas pengganti piring. Kami undang Adam dan Peter untuk bergabung dan dengan senyum lebar mengiyakan ajakan kami. Menu yang sederhana “gereh bakar” (ikan asin yang dipanggang di api unggun). Dengan “muluk” (makan tanpa sendok) bule tersebut tak kalah lahap dengan kami menyantap nasi putih hangat dengan gereh bakar. Selesai makan, obrolan dilanjutkan sampai benar larut malam dengan penuh gelak tawa dan menghangatkan malam itu. Acara ditutup dengan masuk ditenda masing-masing dan berselimut sleeping bag untuk menghabiskan malam terakhir.

Pagi yang cerah dan bersiap untuk turun, semua barang sudah dipacking termasuk 2 bule edan tersebut. Nah ditas ransel Peter, dibagian cover-nya ada sebuah tulisan “TURIS KERE”, tertarik dengan tulisan tersebut, maka sambil berjalan coba bertanya. Sebuah jawaban dengan diawali cerita, dimana Dia pernah berkunjung di Jogja dan makan di warung emperan hanya dengan Nasi, Sayur sop dan segelas air putih, cukup dengan 2 ribu perak sudah kenyang. Saat akan meninggalkan warung tersebut ada yang nyeletuk “ow.. dasar turis kere”, kata-kata tersebut di ingatnya lalu bertanya kemari apa maknanya. Setelah tahu, maka nama itu di abadikan di tasnya dengan harapan selalu dapat harga yang murah mengingat dia Turis Kere.

Sebuah cerita dan perjalanan yang indah, membuka pintu mata saya, tak selamanya Bule yang bersliweran ditempat wisata punya banyak duit. Pelajaran berharga dari Peter dan Adan dalam berpetualang, persahabatan dan bersosialisasi. Perjalanan akhirnya terpisahkan, karena mereka akan melanjutkan jalan kaki ke Bromo, secarik kertas dengan alamat Email menjadi cinderamata kami, selain foto-foto kocak.

Sekian tahun berlalu dan sudah hilang ditelan waktu, tapi kini mereka muncul kembali untuk menjelajah. Tulisan terakhir dari Adam “best regards, Adam and Peter (Turis Kere)”. Selamat berpetualang kawan, nanti pasti ketemu lagi dan nikmati “salty fish burn”, saya balas dengan nomer ponsel (sebab dulu belom punya HP).

Salam

DhaVe “Kere Juga”
Office, 16 November 2009, 09:30

32 thoughts on “Turis Kere dan Gereh Bakar

  1. @thebangsat; bener bang Kirno… kere kere dan kere… justru yang kere itu yang bener-bener enjoyfull…@laptopmini;yups…cuma dipandang sebelah mata… yang ada cuma dinasti kekayaan dan nguras duit negara…@pilar; orang pintar minum…… orang kaya naik pesawat…yang kere cukup naik gunung….

  2. dhave29 said: bener lah..pokoke ditunggu deh

    Menyenangkan ketemu teman2 sehobby … Lucu juga, turis kere hehehehe…Ceritane ok pisan ieuh mah… Persahabatan bagai kepompong. Tp klo ini persahabatn bak ikan asin/gereh… Selalu memberi rasa .. Weks

  3. dhave29 said: bener lah..pokoke ditunggu deh

    @sam; iyes… kaya getulan persahabatan…@centna;keren haha… yoooks kita mbakar gereh lagee yook..yoook…@alam;wealah nDuk… yo ngganteng, temen iki… weh aku yo naksir..tapi mesakno..kono ae lagi kere..haha.. temen keren loh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s