Kuli dan Tukang Poto okelah…

Masih berbicara tentang persepsi visual, dimana mata memegang peranan penting dalam sebuah penilaian atas kenampakan morfologi. Pepatah “jatuh cinta pada pandangan pertama, atau dari mata turun ke hati”, semua berwal dari mata, walaupun akhirnya pupus dan kandas ditengah badai kehidupan. Beberapa pengalaman mendapat perlakuan yang berhubungan dengan visual, mungkin dilihat dari tampang dan penampilan, sehingga siapa tahu bisa jadi spionase cap cermin mletek.

Menjelang perjalanan menuju Gunung Rinjani, persiapan yang matang mutlak diperlukan. Perjalanan solo dimana beban semua harus ditanggung sendiri, maka harus meminimalisir dan memaksimalkan barang bawaan. Matras/alas tidur yang saya rasa terlalu besar dan lebar, membuat saya untuk berfikir ulang membawanya. Bersama seorang teman akhirnya diputuskan untuk membeli matras lembaran yang jauh lebih murah di Toko Besi, yang nantinya akan dipotong sesuai keiinginan. Hanya dengan celana pendek, kaos oblong saya bersama teman menuju Toko Besi dekat kost kami.

Terlihat pembeli banyak sekali, karena kami biasa belanja disitu maka langsung menuju ruang belakang untuk memilih matras. Nah diruang belakang yang berisi aneka macam matras, karpet, plastik, terpal tak ada karywan disana. Saat asik memilih matras, tiba-tiba ada yang memanggil. “wuihhhh cewek coy….cewek coooy…”
“hey Mas.. tolong ambilkan karpet warna merah ama biru…”
“yang ini mBak…” jawab saya sambil menunjuk gulungan karpet.
“iya..cepet bawa sini, saya mau liat” jawab mBake dengan ketus, karena diminta tolong tak apalah ngangkat gulungan karpet yang segede pohon kelapa.
“uhwh..uhwhh….ini mbak…”
“ntuh yang biru sekalian…”
“ba..bbaik mBak..” sambil gotong karpet
“ya udah.. saya ambil yang merah, tolong bawa kedepan dan yang biru dikembalikan ditempatnya”
“baik mBak…”.

Akhirnya saya dan kawan gotong segulung karpet merah dan sebuah matras kebetulan juga berwarna merah, nah saat di kasir.
“ini mBak karpetnya”
“wey..wey… ngawur…kamu.. saya cuma beli karpet.. ngapain bawa perlak gituan.. dah kembalikan.. saya ndak beli..”
“lha wong saya yang beli kok mBak” jawab teman saya
“eee… ngece yo Sampean… Cik… kulimu kui gimana toh, kok pada gak bener kerjanya” adu mBake ama kasirnya.
“kuli yang mana mBak” tanya kasir
“itu loh yang 2 orang yang peke kolor tuh… kerjanya ngawur”
“wah itu mahasiswa yang kost di sebrang situ, mau beli matras katanya” jawab kasir
“ya udah… nie saya beli karpet merah, berapa?”
Selesai dibayar Karpetnya, gantian kami yang bayar matras.
“mBak karpetnya dibawain sekalian ke mobil nDak?” celetuk kami sambil ngeloyor pergi….

Sore bersama teman-teman fotografer dari Malang, kita mencari peruntungan di Masjid Agung Jawa Tengah. Saat sampai diatas menara, tak tau kenapa otak ini beku dari inspirasi dan ide. Akhirnya kamera digantung aja di leher sambil duduk ngesot dilantai. Tak berapa lama datanglah seorang ibu dan anaknya yang merengek.
“masnya tukang poto ya…? anak saya nangis minta dipoto” sambil menunjukan anaknya yang Mblebes.
“ehm..ihmm… iya..yaaa.. baiik.baik…bu” jawab saya
cekrek… cekreek…cekrek… selesai sudah
“berapa mas? trus poto dan kelisnya jadi kapan bisa diambil” langsung shock mendengarnya.
“ndak usah bu..ndak usah…bu.. minta alamatnya saja, nanti saya kirim”
“yang bener mas.. nanti ndak dikirim atau ndak jadi…” sahut ibu
“tenang Bu.. yakin dah, ini sudah jadi” sambil nunjukan LCD kamera.
“ya sudah, nanti kalau sudah jadi habisnya berapa saya ganti” sambil mengatakan alamat dan nomer HPnya. Teman-teman tukang poto yang lain cuma senyam-senyum “payu..payuuu… laris..larissss”

Selang 2 hari, setelah edit sedikit lalu dengan modal glossy paper dan minjem printer kantor, foto ekslusif ukuran A4 siap dikirim ke Jepara. Secarik kertas terselip “semoga berkenan buat ibu dan adik, salam” dan surat kaleng saya titipkan pak Pos.

Masih banyak lagi kejadian, seperti saat pulang minjem gitar dan pas naik bis, seorang ibu-ibu berkata “nek meh mbarang lek ndang nyanyi mas”/kalau mau ngamen buruan nyanyi. Jangankan gitar, nyanyi aja gagal total, pak sopir bisa banting stir kalau dengar genjrengan dan nyanyian lagi.

Nasib…nasiiib…. episode depan, bersama istri yang sedang hamil….

Salam Pagi

DhaVe
Kost, 14 November 2009; 07.00

35 thoughts on “Kuli dan Tukang Poto okelah…

  1. @laptop; emang berbakat… minimal punya modal tampang dulu… hehe@mbam; ngakak habiss… yoook ngakak…@ariesca; yukkk sambil senyum dipagi hari….@sulis; 2-3 jam lagi episode Ibu Hamil terbit wehehe… ditunggu…

  2. elok46 said: dari malang ya hikzzzz hikzzgak bilang

    bwakakkaaaa…. nasibmu Dhave….. manager RnD sing disio-sio… haghaghag… tapi its Okay Dhave mending kita yang low under ajah, di anggap rendah tapi punya “care” yang lebih daripada orang “berlebih” itu sendiri…:D

  3. dhave29 said: @vivi;maunya mBak.. tapi kok kebagian yang ngenes-ngenes getuuu thaw.. 😀

    kalo disangka bos ya malah jadi dirimu bisa “gede kepala”, mendingan kaya gitu tho…supaya kaki kita tetap menapak bumi… keep the faith brader… 🙂

  4. dhave29 said: @vivi;maunya mBak.. tapi kok kebagian yang ngenes-ngenes getuuu thaw.. 😀

    @centna; mesti mikir; calo, preman, pedagang asongan, pengamen, kuli panggul, kernet wuahahaha…. mirip…miriip hehe… hayuuu apa lagee?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s