Bulan Purnama Kalah Terang dengan Cahaya Modernisasi

Yuk prokonco dolanan neng njobo…
padang mbulan…mbulane kaya rina.
kayae..sing ngawe awe…nandakae aja turu sore-sore..
Sebuah lagu anak-anak yang biasa didendangkan saat bulan purnama datang. Malam yang terang benderang sinar bulan dimanfaatkan anak-anak desa untuk bermain disebuah pelataran yang luas. Beraneka permainan tumplek blek disitu, tak terkecuali remaja dan orang tua ikut bergabung bersama. Sungguh suasana romantis yang saat ini hilang, setelah 20 tahun ditelan jaman.

Masih ingatkah permainan anak kampung; dakon, benthik (patil lele), engklek (congklak), egrang, petak umpet, gatheng dan masih banyak lagi yang lain. Mungkin anda yang sudah berumur kepala 3, diwaktu kecil pernah mengalami atau menjadi jagoan dicabang dolanan tersebut. Selepas pulang sekolah atau sore hari, biasa anak-anak berkumpul ditanah lapang, atau pelataran yang cukup luas dan strategis (mudah diakses) untuk bermain bersama. Meeting point biasanya didatangi anak-anak desa sebelah untuk bergabung bermain atau hanya sekedar menonton.

Setelah lelah bermain, bersama-sama mandi disungai untuk membersihkan badan. Walau 1 sabun untuk bersama atau hanya gosokan dengan batu kali, itu sudah cukup bagi anak-anak. Bermain air sepuasnya, bercengkrama, berenang menjadi agenda sore itu. Puas mandi disungai, kembali kerumah masing-masing untuk ganti pakaian, makan malam, mengaji dan belajar.

Selesai belajar atau mengerjakan PR, kembali menuju meeting point, seolah tanpa dikomando untuk hadir. Bahkan rumahnya yang paling jauh, datang sambil menyamperi dari rumah kerumah untuk diajakbermain. Sinar bulan purnama yang terang benderang tanpa ada tabir awan membuat suasana semakin ramai. Malam hari biasa bermain petak umpet, dingklik oglak-aglik, atau sepuran, mengingat keterbatasan cahaya. Anak-anak, remaja, tua muda semua ikut berkumpul ditempat yang biasa dijadikan ladang permainan. Di saat anak-anak bermain, remaja memadu kasih dan tebar pesona, para orang tua sibuk mengobrol dengan rokok mengepul dan secangkir kopi, sedangkan ibu-ibu asyik dengan gosipnya. Sungguh romantisme masa lalu yang lenyap dimakan modernisasi dan budaya pendatang.

Tak ada pembeda status di meeting point tersebut tanpa peduli; miskin kaya, jelek buruk, pintar bodoh, semua melebur menjadi satu. Andaikata ada yang membawa singkong rebus, maka semua akan segera diserbu tak tersisa, menandakan penghargaan kepada yang memberi. Malam semakin larut, permainan, obrolan dan roman percintaan berakhir untuk pulang kerumah masing-masing dan kembali esok malamnya.

Saat ini, sungai jernih tempat bermain dan mandi telah kering dan sesekali mengalir cairan cokelat keruh dan berbau menyengat tak sedap. Kolam bermain dan mandi kami sudah menjadi jalan limbah beracun. Coba saksikan saat bulan purnama datang, lapangan luas dan pelataran nampak kosong, sepi dan menyayat hati. Sungai sudah digantikan water boom yang harganya selangit, bulan purnama sudah diganti internet. Seolah lagu, “yuk prokonco dolanan neng njobo”, sudah dibungkam oleh kemajuan ponsel yang bisa memanggil “yuuuk preenn… maen ke mall yoook…!”.

Semua telah berubah, saat asyik membayangkan bersembunyi saat petak umpet, dikagetkan status “hidden/invisible” dalam sebuah jejaring dunia maya. Ingin rasanya main perang-perangan seperti dulu, jadi penjahat dan lakonnya, walau hanya dengan “debog”/pelepah pisang, sekarang sudah diganti Notifikasi “your friends invite you on MAFIA WAR”. Egrang dan congklak yang membutuhkan keseimbangan, keberanian, kepercayaan diri, sudah diganti dengan tambatan tali dan pengaman ala operator out bond. Peraduan cinta, para remaja dulu yang biasa bertemu di mushola, “lirak-lirik, curi pandang, surat cinta” hilang oleh aroma kafe dan free sex. Obrolan bapak-bapak yang “medok dan gayeng” sambil ditemani kopi dan rokok, sekarang sudah diwakilakan ketua RT, rumpian dan gosip ibu-ibu sudah diambil alih infotaintment.

Disaat genderang ditabuh untuk menuju meeting point, semua sibuk dengan charger, note book, komputer dan televisi. Tombol power dipencet, connect to internet, pilih chanel. Bermain dan kumpul bisa lewat online tanpa harus menuju lapangan yang panas dan berdebu. Bercinta tanpa harus ke Mushola, cukup dari layar ponsel, menggosip cukup didepan televisi. Saat mau mandi disungai, siapakan uang yang cukup untuk bermain sepuasnya di waterboom tanpa harus takut mandi dengan kerbau atau kaki dicapit kepiting.

Apakah ada yang salah dengan diri ini, apakah tidak siap menghadapai kondisi jaman ini, apakah tidak bisa beradaptasi…..? sebuah tanda tanya besar muncul. Pergeseran nilai sosial terjadi begitu drastis dan menakutkan apabila ditilik jauh kebelakang. Generasi mendatang; mungkin hanya bisa mengenal masa lalu budaya ini lewat catatan sejarah yang tertulis di lontar dunia pendidikan. Tidak munafik dengan budaya yang ada saat ini, tetapi bagaimana mempertahankan budaya leluhur yang telah membesarkan republik ini sampai saat ini. Orang jepang boleh bangga dengan kabuki, ikebana, origami, orang eropa boleh bangga dengan budaya mereka, tapi ini INDONESIA yang jauh lebih kaya akan budaya, kenapa harus meniru mereka. Bangga dengan budaya sendiri… jangan sampai di klaim….!!!!

Sebuah keinginan untuk jilung pet, gobag sodor, benthik, lompat karet, dan naik gledekan bambu…. (saya tidak bisa main PS, mesti kalah melulu, makanya nulis ini, kalau bentik saya berani taruhan hehehe..).

Salam Padang mBulan

DhaVe
Kali Legung, 4 November 2009; 11:05

Advertisements

26 thoughts on “Bulan Purnama Kalah Terang dengan Cahaya Modernisasi

  1. hahaa ayo ta bentikan wai aku mas hahahasetiap kemajuan jaman pasti ada yang tersingkir atau dikorbankan atau menghilang apapun lah namanya.kembali ke faktor uang para pembisnis butuh melebarkan sayapnya merambah ke desa, pemerintah dengan alasan modernisasi ikut okeh saja dan masyarakat yang siap ya ayuuuk saja yang tidak siap ya siap siap tergusur dan dibilang UDIK, sebuah harga yang mahal untuk sebuah kemajuan teknologi tapi kita bisa apa??? kalo aku seh anak sd suka aku jak mainan bentikan ma baksodor nah termasuk melestarikan bukan ???

  2. @elok; setuju.. bagaimana dengan permainan yang lainn hehehe…. ayo sebelum di klaim lagi hihi… lanjooot…@tjah; yukkk mas… sekarang dolanane lensa sodor molor modot haha hayoooo ngakuuu?@lave; rina dewi yach hehe… yo udah ganti Rino sajah… wes ayuuuk….

  3. hehehe.. ayo dolanan pathil lele… aku menangan lho… opo engklek :pmumpung kakiku masih kuat iki. hehehe….sing pasti ojo ajak aku adus nang kali, mengko aku digepuki ibukQ koyo biyen. hehehehe….

  4. @alam;wealah jagoan pathillele juga tho… 20010 sudah masuk olimpiade lho.. sapatau bisa mewakili Indonesia haha… temen wis waras sikile? hehehe…Lha adus Mu neng kali porong, pantesan ibukMu ngaploki hehe…. coba neng kali brantas apa pekalen, adus mbe numpak prau karet… ayooo..ayooo…

  5. Hayuk sesekali jumpa darat ora mung hunting moto,…Mau gak main Egrang, gobak sodor, benthik, atau main karet… haha…Nanti aku sing motret deh…. ( maunya!)Dulu jamanku paling seneng jethungan, saat listrik belum tersebar merata..Lamaaaa banget aku ngumpet,..kok ga ada yang nyari, gak tahunya pada takut gelap2an hehe…

  6. @agnes; boleh… boleh… yuk kapan kopdar hehe… sekalian benthik hehe…untung mumpete gak tekan isu… tibake digondol wewe gombel hehe…wes lek ndang gage ora nganggo sue wehehe…”rembulanee..e sing ngawe..awe….” ralat

  7. dhave29 said: @pilar; bethul ntar sore motret temen merit… bahagia, karena sudah berkurang se ekor orang2 yang kena kutukan hehe.. πŸ˜€

    @pilar; kapan..kapan… saja; asal ndak jadi juru kunci sajah wehehehe…. ntar cari ceceran tulang rusuk wuahaha..

  8. dhave29 said: @pilar; bethul ntar sore motret temen merit… bahagia, karena sudah berkurang se ekor orang2 yang kena kutukan hehe.. πŸ˜€

    Cari ceceran tulang rusuknya jgn sampe salahperlu bantuan hubungin saya ( halah.. promosi diri ) πŸ˜€

  9. dhave29 said: @pilar; bethul ntar sore motret temen merit… bahagia, karena sudah berkurang se ekor orang2 yang kena kutukan hehe.. πŸ˜€

    bocah saiki dolanane psiseh bayi2 cekelane wis keyboard karo nonton layar biruora ono sing gagas mbulan 😦

  10. dhave29 said: @pilar; bethul ntar sore motret temen merit… bahagia, karena sudah berkurang se ekor orang2 yang kena kutukan hehe.. πŸ˜€

    @lala; hehe… mari kita temani malam ini bersama bulan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s