Mau Jadi PNS* Gampang Kok..?

Sekolah sampai perguruan tinggi adalah dalam rangka memperoleh ilmu dan bekal masa depan, tentu saja pekerjaanlah yang nantinya menjadi pelabuhan terakhir. Siapa sih yang tidak ingin masa depan cerah? semua pasti menginginkan, terlebih lagi kerjaan enak dan gaji tinggi. Nah orang tua berlomba menyekolahkan anaknya agar bisa memenuhi harapan orang tua.

Menjadi pegawai pemerintah, adalah dambaan setiap orang, apapun pekerjaan dan instansinya tidak masalah yang oenting PNS. Bermacam cara dilakukan, dari yang murni ikut tes, bahkan sampai cara licik lewat pintu belakng. Seolah menjadi dambaan dan gengsi bilamana sudah memiliki NIP dan seragam KORPRI. Sekolah tinggi-tinggi, namun ujungnya PNS juga.

Saya mungkin termasuk orang yang pesimis dengan PNS dan bahkan muaik, walaupun orang tua saya juga PNS. Beberapa kekecewaan bermuara dari PNS dan semakin membuat antipati terhadap mereka. Lulus kuliah pertama mencoba peruntungan untuk mencoba sebuah instansi pemerintahan, penolakan dan cibiran saya terima gara-gara dari Perguruan Tinggis Swasta “Uxxx apa mutu?”. Nama besar Universitas yang selama 7 tahun saya menimba ilmu, dibilang “ora mutu”. Saat dikatankan seperti itulah mulut clutak saya berkata
“wali kota, wakil, ketua DPRD kan lulusan Universitas saya, berarti mereka juga gak mutu, kalau pimpinan ndak mutu apalagi anak buah seperti anda” gubrak pintu saya banting “BLACK LIST”.

Belom nyerah juga saya ikuti seleksi CPNS, ini yang ke dua kalinya ikut, dan lagi-lagi harus menelan pil pahit. IPK PTS minimal 3.00 dan PTN minimal 2.75 skalla 4.00. Sebuah diskriminasi terhadap perguruna tinggi dan cap 7 tahun kuliah lebih memberatkan untuk tidak lolos. Akhirnya pulang dengan tangan hampa dan kekecewaan menjejali otak ini. Dalam hati “andai aku ambil PTN di Semarang…”.

Akhirnya tidak mau yang ketiga kalinya masuk lobang kecewa, tetapi mencoba haluan di sebuah perusahaan swasta. Setalah training 1 bulan, akhirnya diterima dan setelah 4 bulan lalu diangkat menjadi karyawan tetap. Suatu saat mendapat sebuah undangan untuk simposium yang diselenggarakan sebuah instansi Pemerintah. Dalam simposium tersebut mata saya menjadi setengan terbuka dan berbisik
“ini tho kwalitas PNS”, acara carut marut, apalagi saat sesi tanya jawab, terlihat “plegak-pleguk” (terbata-bata tidak bisa).

Menjadi ajang balas dendam terhadap sebuah akar pahit kekecewaan. Semua pertanyaan sadis dan menohok coba saya lontarkan, walau mereka “gregetan” saya cuek saja, “gak bakal dipenjara untuk sebuah pertanyaan”. Lagi-lagi kekecewaan yang ada, tak satupun jawaban mereka yang menjadi titik terang dari sebuah pertanyaan. Kesan menutupi dan menghindar terlihat jelas, apalagi melihat audience yang berbisik-bisik tanda tak puas.

Kisah berlalu tanpa ada jawaban, dan kali ini mendapat undangan pelatihan laboratorium di lab milik Pemerintah. Seorang berbaju cokelat memberi arahan sambil mengenalkan peralatan lab yang ada. Cakap sekali kelihatan orang ini, masih muda, pintar, PNS pula. Iseng saya bertanya..
“bapak dulu kuliah dimana..? kok ahli sekali”
“saya lulusan Biologi UxxxP angkatan 2003” lha Mas dulu dimana…?
“ehmm..emm UxxW, Biologi 2001, kelihatannya pernah lihat, dulukan Bapak pernah berkunjung di UxxS untuk beli alat dan bahan”
Pembicaraan terhenti, karena sang pegawai pucat pasi dan hilang konsentrasinya. Tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi.

Selesai pelatihan, disamperin dan mendapat sebuah pesan
“Mas kapan-kapan main kesini, ajari kita-kita…”
“Insya Allah Pak… Assalamualaikum”
Wah seharusnya bisa donk saya jadi PNS, ilmu dan kemampuan saya tidak jauh berbeda, kenapa saya tidak bisa…?
Terkubur sudah harapan tersebut dan sekarang mencoba membuka lapangan kerja baru saja, daripada gaji buta dan harapan pensiunan.

Waktu berjalan, tetapi kenapa saya malah bercita-cita menjadi PNS*. Mungkin semua kalau ditawari jadi PNS* yang satu ini tidak akan menolak. Mari bermimpi menjadi PNS*

PNS* (Pengangguran Neng Sugeh) pengangguran tapi kaya

kerjaaa…kerjaaa…. ngempi melulu..ayooo kerja… hehehe PNS gak bisa ngeMPi loooh…..

Salam

DhaVe
Lab Mikro, 2 November 2009; 14:40

Advertisements

19 thoughts on “Mau Jadi PNS* Gampang Kok..?

  1. hahahahaha**pernah merasakan jadi capeg IIA malah udah ikut prajab, berhubung bapak ga setuju saya di Instansi p***k yang katanya dulu sarang korupsi, akhirnya memutuskan keluar. Padahal bapak PNS lho **

  2. @alex; semoga beruntung mBak… haram-haram ya qolu… membahagian orang tua adalah mulia…@sulis; saluuuud…. saluuuud… enakan PNS*… pemotret ning syahduuuuu….

  3. Kerja apa aja yg penting halal. Emang bukan rejekimu jd PNS, jd jgn menyalahkan apapun, siapapun. Itu ketentuan Sang Khalik. Jauhkan diri kita dr kesombongan, msh bnyk org2 yg lbh baik dr kita. Maaf jk tdk berkenan. Piss.. ^_*

  4. Wah.. baru mao posting ttg PNS hahaha thanks mas keduluan..kmrn kan ada Pendaftaran CPNS wil salatiga ikut ndak ? argh daku telat.. huhuhu.. katanya taon depan Pensiunan PNS di Tiadakan .. hehehe.. *katanya lho*

  5. Statistik Penerimaan CPNS…Posisi yang ditawarkan dalam satu instansi 2-3 posisi….Jumlah Pelamar… beberapa ribu (untuk satu posisi)Jumlah yang “ditipkan”… beberapa puluh orang…Jadi Peluang diterima sebagai CPNS 0%Hei.. Get Real Dude

  6. jangan terlalu membenci sesuatu……….mang PNS yang ada sekarang jauh dari harapan banyak pihak.hendaknya terus diadakan perbaikan,mulai dari kemurnian seleksi sampai berbobotnya materi seleksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas….Menurut gw sistem di PNS yang membuat banyak celah untuk korup………Contoh waktu gw PTT, biaya transpor pulang pergi dari tempat gw lulus ke kabupaten t4 ptt di ganti.Biaya transport diganti sebesar tiket kapal.Nah temen gw ada yang naik pesawat,buat ngedapatin uang ganti, dia di suruh nyari tiket kosong.gw heran npa harus nyari tiket kosong?apa ga bisa waktu laporan lampirkan aja tiket pesawatnya n tetap berikan seharga tiket kapal ke teman gw tersebut.tetep aja di suruh cari tiket kosong……hala hal semacam ini peluang buat korup (mungkin)…..lo ga ke mana mana lo kasih aja tiket kosong :-)PNS merupakan aparatur negara,hendaknya kita berharap menjadi lebih baik……..apa sih yang di cari dari PNS?jaminan hari tua?sekarang udah ada asuransi buat hari tua so kalo kerja di swasta juga bisa kok ada jaminan………..bikin ndiri

  7. @Vivi; terimakasih mBak.. ini hanyalah sebuah celotehan dan ungkapan kekesalan saya sajah… setuju, tak semua PNS seperti yang ada di otak saya… oke pisss juga..@pilar; keduluan ya hehe… kagak masuk je.. PTS…kelaut aja sanah hahaha… @arief; kok ikut-ikutan.. trauma kah?@alex; benar juga… peluang kecil, mungkin hanya wahyu keprabon yang bisa… ngarepin komet nukik kalee ya… suk yen dadi bupati mblambangan… tak repormasine..@agnes; hehe.. nyimut juga ahhh..yuuuk mareee….@youli23; kalu baik seeh saluuud… kebetulan yang saya temukan yang bobrok je… haha…. liat ntuh di mall, pasar, haha apa kata dunia..Saluud juga buat yang bersih dan penuh dedikasi, gak sia-sia bayar pajak buat mereka..makasih mBak buat share-nya…. cerita yang bagus..@mBang; PNS…. perjaka neng sugeh… pengangguran namun sukses.. hahaha… mau..mauuuu…mauuu?

  8. kembali kepada paradigma orang tua yang mengagungkan pns dan menganggap rendah pegawai swasta hanya karena tidak mendapat pensiun huh itu yang membuat kita sebagai anak menjadi serba salah satu sisi jika dilawa dianggap tak berbakti di sisi lain hooooooiy sapa sih yang gak tau klo masuk pns bayar ???? please deh tetep aja yang keterima bisa ditebak lah bukan berpransangka buruk karena saya mengalami dan melihat sendiri akhirnya saya dapat berkata itu hmmmmmmm apa hanya ini yang mereka liat kasian kan, makanya aku menerapkan mindset berbeda ke anak didikku semoga berhasil

  9. kalo pengen tahu kemakmuran bangsa ini jadilah PNSgajinya naik terus, kerjaan nyantai terus*, kehidupan dijamin terus, enak tho, mantep tho, makmur tho*tergantung pribadi msg2

  10. @elok; saya dukung….. tanamkan moral dan ahklak yang bener buat generasi mendatang.. jangan lebih bobrok…. hehehe saluuud…@lala; sudah rasain ya.. enaknya hidup ditanggung negara… mateb… siapa mau?

  11. Jane jd PNS tu ga enak. Mau sekolah aja,ndadak ijin sana sini. Ditolak bolak balik. Orang sekolah jg pake duit-duit kita. Mereka revot.Ya apa mau dikata bapak pensiunan PNS, Ibu msh jd kepsek di SD Negeri. Ya,harapan mereka pgn anaknya bs jd kek mereka. Biar hari tuanya kepenak. Wah jebul mereka pengalamane dikit. Ga kenal jamsostek. Ga kenal asuransi perumahan..Nyenengke wong tuwo.. ‘ne anake dadi PNS,Bapak Ibu ayem…”nggih pak… nggih bu…, lha ne mboten ketampi? Lak nggih tetep dados PNS to? Pengusaha Nembak Sanasini..’hehemohon maaf bila tidak berkenan..

  12. @alexa; wah getu yaw… bener juga.. susah juga… gak bisa napa-napa, termasuk ngeMPi hehe… suwun mBak sudah berbagi… suwun..suwun…@mbam; ngepet…ngipri hehehe… wis suk aku sing jogo liline cak…Sampeyang sing keliling.. yen emergency..aku d sms apa miskol, ngko tak sebule… hehehe 😀 pissss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s