Turunkan Hatimu dari Puncak Gunung

Menjelang petang kami masih bergelut dengan hutan pinus yang cukup lebat. Ditemani lampu LED dijidat dan hembusan nafas kami terus berjalan dan berjalan, tujuan kami adalah ketinggian 2635mdpl yang akan menjadi night camp. Pelan namun pasti, ransel ukuran 90 liter menjadi kewajiban kami untuk diantar menuju camp 1.

Disela-sela perjalanan, kami istirahat disebuah batang pohon yang telah tumbang. Nampak dibelakang sebuah rombongan yang tak kalah hebatnya dengan kami, ransel besar dan style pendaki sekali. Disela-sela iringan terdengar lantunan lagu dari sebuah ponsel yang syairnya begitu familier sekali. Rombongan tersebut akhirnya bergabung istirahat dengan kami setelah bertegur sapa dan bercengkrama, tetapi yang menarik perhatian saya adalah syair lagu tersebut…

Mendaki melintas bukit
…..
Mahameru sebuah legenda…
Puncak abadi para dewa….

Saya perhatikan darimana sumber suara tersebut, dan terlihat ada seorang gadis yang sedang mendengarkan sambil bersenandung. Saya tunggu lagunya sampai selesai dan iseng saya tanya.
“mbak itu lagu bagus banget yach….”
“iya Mas… menceritakan tentang gunung Semeru”
“wah pernah donk ke puncak semeru?
“pernah sekali Mas, itu saja hampir mati”
“hah hampir mati..? coba donk ceritakan dan bagi pengalaman”

Sang Gadis pun bercerita panjang lebar tentang pengalaman mendaki Semeru. Kami yang belum tahu apa-apapun mendengarkan dengan seksama.
“saat di cemoro tunggal, kami hampir kejatuhan batu gedeee banget, untung bisa selamat”
“di Kali Mati kami kehabisan air, tapi untuk ada mata air di Sumber Mani”
“di Ranu Kumbolo wah.. danaunya keren hebat.. rasanya ndak mau pulang”
Cerita yang dasyat dan menajubkan saat sang gadis tersebut cerita panjang dan lebar.
“gila..edan.. dan extreme pengalaman kami.. wah pokoke hebatlah”.

Disaat cerita seorang teman kami nyeletuk sambil menghembuskan asap rokoknya.
“ceritane ngluwihi pucuke Mahameru” (ceritanya melebihi tingginya puncak Semeru).
Ternyata kesimpulan saya dan teman-teman sama, tetapi kami terus menanggap hiburan gratis tersebut. Bagi yang risih, langsung memalingkan wajahnya dan asyik dengan utak-atik GPS atau sekedar lihat preview dari DSLR.

Sang Gadis melanjutkan ceritanya dan teman-temannya yang saat itu ikut serta ke Semeru menambahkan bumbu-bumbu cerita yang semakin sedap dan kelihatan hiperboliknya. Cerita yang dasyat dan heroik, mirip saat TV One di Mt. Elbrus 17 agustus kemarin. Semua terkesan dilebih-lebihkan dan dibumbu manis agar kelihatan garang, extreme, gila, edan, dasyat, spektakuler dan hanya mereka yang mampu.

Saat cerita usai, kami segera bangkit berdiri dan kembali berjalan, cerita bubar. Ada seorang teman yang nyeletuk
“Cak dolan ke Jongring Saloka berapa kali”
“tau berapa kali, seingatku mulai tahun 86, dan tiap tahun minimal sekali”
Semua diam, semua beku, semua sadar akan sebuah keangkuhan, kesombongan dan besarnya kepala saat terdengar sebuah jawaban “tau berapa kali”.

Ingat cerita saat Clara Sumarwati menjejakan Kaki di Everest 2006 dan PPGAD yang nyata sampai di atap dunia. Tak ada sebuah cerita heroik dan istimewa, bahkan sebuah pengakuan pun tidak ada. Akhir kisah adalah masuknya Clara Sumarwati di rumah sakit jiwa. Dia Wanita Asia Tenggara pertama yang di akui History of Himalaya telah sampai di puncak Everest, tetapi tidak di akui oleh berbagai pihak yang menjadikan dirinya depresi hebat.

Teringat sebuah akhir pendakian yang dilakukan oleh Peter, anak dari Sir Edmund Hillary, orang yang diakui dunia menginjkan kaki dipuncak Everest bersamaan dengan Tenzing Norgay. Saat turun dari puncak Everest, sebuah pesan moral terucap “turunlah dengan segenap kerendahan hati, tak ada gunung yang lebih tinggi selain hatimu”.

Semoga berkenan…
“cak sekarang sibuk apa…?”
“biasa ngurusi Malboro Adventure Team di Colorado”

Salam

DhaVe
Depan Mikroskop, 24 Oktober 2009; 09:15

27 thoughts on “Turunkan Hatimu dari Puncak Gunung

  1. ternyata mendaki gunung dapat mengajarkan banyak sekali hal dalam hidup…. sayangnya saya ga beranian sih orangnya…. baru liat gunung ato laut dari jauh ajah udah ngeri….hehehhee….

  2. @addic; wah layak di coba Om… untuk membuktikan kalau gravitasi itu benar-benar ada…@harataya; banyak sekali Om…. “pendekar turun gunung” nah…. berarti untuk menjadi pendekar harus naik gunung hehehe…. banyak hal bisa kita dapatkan, tidak usah dengan Om Mario Teguh, coba naik gunung dengan segenap hati, pikiran dan tenaga..niscaya bisa mengalahkan diri..salam

  3. Ceritanya mangstab om… TfsKalo dr kacamata saya yg pendaki amatiran, justru keadaannya terbalik. Sangat wajar sang cewek bercerita secara hiperbolik dengan pendakian semeru yang pernah dia lakukan. Kali aja dia mengalami euphoria berlebih dengan prestasi itu. Dan ini sangat wajar kalau dia memang baru mulai menggeluti dunia pendakian dan baru sekali mengunjungi semeru. Justru euphoria ini yang akan membuatnya ketagihan untuk tetap mendaki. Euphoria sepanjang tidak ada unsur kesombongon is ok. Lama2 nanti dia jg akan belajar menginterpretasikan sebuah pendakian shg euphoria yang dia omongkan bukan lagi sebuah kesombongan melainkan sharing yang bermanfaat. Pendengar dlm cerita td sudah cukup bagus memposisikan diri yaitu menjadi pendengar yang baik. Tapi ujung2nya rasanya gimana gitu. Kadang bisikan hati kita bilang kita merasa lebih senior dan berpengalaman shg kita meremehkan orang bercerita (meskipun kelihatannya mendengarkan tp substansi dr yang dibicarakan sebenarnya meremehkannya). Sy bbrp kali menemui kejadian tmn “yg merasa senior” bertanya pd pendaki lain yg kelihatan msh newbi unt bercerita ttg pendakian2nya, seolah2 tmn yg merasa senior tsb blm tau gunung a atau gunung b pdhl sering mendakinya, pd suatu titik penbicaraan tiba2 yg “nyeniori” td cerita yg mengisyartatkan kl dia is senior dan akhirnya orang yg newbi td jadi down. Kasian ya…. Seringkali kita terperangkap dengan sikap kita, kita ingin dianggap low profile/rendah hati dgn cara tdk memamerkan prestasi2 yg kita capai dlm pendakian, tp sbnrnya hati kita merasa paling senior shg kadang menganggap remeh cerita dan pengalaman orang lain. Persepsi orang akan gunung berbeda. Begitu pula dalam memaknai sebuah pendakian. Tp menurut pendapat saya, kl mendaki gunung sdh menjadi hobi, kita tidak butuh lagi yg namanya euphoria, prestise, dan penghargaan yang berlebihan. Ngapunten menawi mboten berkenan nggih, hehehe. *lg anter annapurna konsultasi di rumah sakit*

  4. @amsiku; Matursembah nuwun… sudah memberikan tambahan dan masukan yang baik. Kiranya apa yang gunung berikan bisa memberikan pembelajaran bagi kita…. terimakasih untuk share-nya… Salam buat Annapurna, baik-baik saja yach… 😀

  5. satujuh dengan mas amsi nih mas danang… :Djika saya menjadi pendengar, saya pribadi akan lebih mendengarnya sebagai sharing yang bermanfaat dengan segala yang bisa gunung ajarkan kepada kita..maafinsisayahygsoktau..:p

  6. @polarbugs; oke dah diterima…. bener mbak setuju dengan pemikiran anda…. siiiplahSaya hanya share ditulisan saja…. “saya” siapa ya?@lala;bisa aja, tapi apakah harus naik gunung dulu….

  7. @elok;whayuuuuk lewat tretes yukk kangen ma Cak Anjar nie… atau masih penasaran Lali Jiwo lewat Lawang…. Pondokan juga syahduuuu….. asoy…yuk…yukkk…. ajak akuu..

  8. tjahjokoe said: ya wis akhir taon..arjuno

    @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

  9. dhave29 said: @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

    dan akhirnya…. langit yang sebiru itu, awan yang bergumpal padat…. wash out semua… haghaghag… gara-gara.. “cari metering itu… ukur atasnya, trus ukur bawahnya… kmudian cari nilai tengahnya..?” resep yang sempurna buat langit yang putih memplak… dari photographer lulusan Amrik (*baca: Wash Out) haghaghaghag…..

  10. dhave29 said: @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

    @alex; ya getuuu dah… aku yooo ikut bingung harus ikuud yang mana… hehehe..

  11. dhave29 said: @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

    wah ayooooooooo mas

  12. dhave29 said: @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

    @elok; kate nang ndi mBak? arjuna welirang tah… wes ayo ndang mangkat… nyegat land mudun pasar buah pandaan trus golek land nang tretes hehehe… kangen pet bocor

  13. dhave29 said: @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

    @dhave: nice story. Mari sama2 berkaca, kdg qt jg melakukan itu. Menjadi sombong atas sesuatu yg kita miliki. Saatnya utk dkurangi, kl bisa dhilangkan.”udah naek gng brp x?” saya jwb:”belum pernah. so what gitu loh…” Hehe.. Piss brader.

  14. dhave29 said: @tjah; mas Andi biasa berkata “manuuuut dan mangkaaaaaaaaaat” hehehe…@alex; iyah…yah…. jadi minder pake kit…. tapi minder lagi yang pake 5D gak bisa dulinan metering hahaha… apalagi suhu berkata “metering kok dilangit…hantam sajah langsung”…. sakiiiiiiiiiit…sakiiiiiiiiit……………

    @vivi; terimakasih mBak… yach mari belajar dan belajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s