3 Sial Menembus Hujan diHajar Pacet (reportase jalan-jalan di Gunung Ungaran 17-18 Oktober 2009)

10 tahun sudah, tradisi Pendidikan dasar alam bebas saya ikuti setiap tahunnya. Saya menjadi angkatan 8, dan saat ini sudah angkatan 19, cukup tua juga ternyata. Bersama rekan-rekan senasib waktu Diksar dulu, kita mencoba kembali merengkuh memori 10 tahun yang lalu.Menjelang Maghrib kami bersepuluh sampailah disebuah lokasi yang bernama Mawar. Entah kenapa disebut Mawar, padahal tak ada satupun bunga mawar yang terlihat.

DiMawar, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Saya kemudian mengeluarkan kompor Trangia dan tranggila. Membuat air panas untuk menu teh hangat, kopi, susu dan membuat mie rebus untuk mie goreng. Beraneka minuman hangat segera tersaji dan siap dinikmati teman-teman, begitu juga mie goreng yang terasa nikmat sekali malam itu. Entah kelaparan atau tidak ada pilihan, terasa begitu mahal untuk sebuah sensasi rasa dan momment. Perut kenyang, bdanpun hangat, tetapi kami harus melanjutkan menuju dusun Peromasan.

Tepat jam 19:15 kami mulai berangkat dari mawar menuju hutan pinus yang sudah mulai gundul. Perjalanan awalnya biasa dan enak-enak saja, tetapi setelah sekitar 30menit berjalan cuaca terlihat kurang begitu bersahabat. Langit berubah menjadi murka, awan putih menjadi hitam kelam, angin sepoy berubah dasyat dan suara guruh hujan terdengar hujan. Setetes air jatuh dimuka dan alam sudah memberi pertanda “bersiap-siaplah hadapi kami”.

Hujan deras turun menguyur hutan yang lebat. Kami pontang-panting dan kalang kabut. Saya baru sadar, kalau tidak membawa jas hujan, atau rain coat, bahkan payung yang biasa menempel ditas pun tak terbawa. Kami segera bersiap menghadapi apa yang terjadi, segera payung, jas hujan, ponco dikeluarkan untuk melindungi diri dari hujan. Saya, Dinar dan Hasan adalah manusia yang lalai dan ceroboh dan konsekwensinya adalah basah kuyup.

Hujan semakin lebat seakan ingin menumpahkan air matanya, membuat badan lekas mengigil dan melemah. Saat itulah, mental kami di uji seberapa kuat kita. Sepanjang perjalanan menembus hujan, kami masih sempat bercanda untuk menghilangkan ketegangan, kadang berteriak atau sekedar mengumpat dan bernyanyi. Hampir 1 jam lebih kami berjalan, tetapi hujan masih lebat.

Tujuan kami adalah sebuah pondokan, tetapi sia-sia juga, sebab pondokan atapnya bocor semua. Istirahat sebentar sambil melemaskan otot kaki sambil terus berfikir bagaimana keluar dari keadaan ini. Terlintas di otak kami untuk segera menuju kolam, sebab disana ada beberapa rumah dan bisa digunakan untuk berteduh. Bergegas kami berjalan menuju kolam, dan sesampainya disana kami dipersilahkan masuk oleh penjaganya. Segera Dinar membuat perapian untuk menghangatkan badan dan mengeringkan baju yang basah kuyup. Kami segera berganti baju yang kering agar kondisi tubuh tetap terjaga.

Makanan kecil kami paksa untuk mengisi perut agar ada asupan kalori. Akhirnya jam 22.00 hujanpun reda, kembali kami melanjutkan perjalanan menuju Peromasan. 1 jam berjalan, sampai juga diperomasan, segera 3 tenda kami dirikan dibawah gerimis. Tenda berdiri, semua masuk dan hangat. Alat masak dikeluarkan dan kami pesta nasi goreng dan teh hangat, sembari makan roti bakar. Hampir jam 01.00 kami bergadang, dan segera di akhiri dengan masuk dalam kantung tidur masing-masing.

Pagi pukul 05.00 kami sudah bangun dan bersiap untuk membuat santap pagi, menu kali ini adalah nasi goreng bumbu ikan. Semua gagal dan urung dilakukan karena lupa bawa minyak goreng, maka cukup nasi putih dan telur rebus ditambah teh hangat. Kembali kami masuk kantung tidur untuk sebentar melanjutkan mimpi yang tertunda.

Jam 08:00 kami ikut acara susur sungai dengan melewati air terjun yang cukup indah. Dinginnya air yang jernih membuat kami memanjakan diri untuk berendam. Keasyikan bermain air, tak sadar ada monster mengerubuti kami, Hirudo Medicinalis atau Lintah/pacet. Sempat kami memeriksa diri dan saling memeriksa tubuh teman kami. Benar saja, beberapa bagian tubuh teman kami ada lintah yang sedang asyik menghisap darah. Saya hanya senyum, untung aku bersih dan tak ada, walau sempat menemukan tetapi belum menghisap.

Selesai berendam kami kembali ke tenda, disaat membuka sepatu. “WAAAAAAAAA PACEEEEEET….!” teriak kami bersama. Ada sebuah lintah yang sudah segede jempol menghisap betis kanan, sebelumnya tidak terlihat karena tersamar kaus kaki. Setelah saya dokumentasikan, segera di sikat oleh teman-teman untuk bahan pembantaian. Tragedi pacet selesai, dan segera kami berkemas pulang dengan kenangan yang pahit asam manis.

Kehujanan, lupa bawa minyak goreng, donor darah pacet.
Makasih; Jesus Christ, Dinar, Hasan, Joko, Anik, Ria, Dia, Rheepo, Lia, Fitria.

Salam

DhaVe
Mawar, 18 Oktober 2009

Advertisements

19 thoughts on “3 Sial Menembus Hujan diHajar Pacet (reportase jalan-jalan di Gunung Ungaran 17-18 Oktober 2009)

  1. hahaha…nek ra minyak goreng kurang le nggowo, mesti lali ra nggowo minyak goreng, hehehe penyakit yang susah sembuh…untung cedak promasan, iso nempil minyak karo penduduk-e hehehehe…

  2. @andi;penyakit kronis hehehe… wah gak wani nempil… akhirnya mutung masak…tidak ada kata nempil..tapi mbuh piye carane….@tjah; wah ayooo kapan nostalgila lagi..ke level yang lebih tinggi tentunya…@addic; anda benul..tapi tak terasa, tau-tau udah sak jempol hehehe…

  3. pilaryogya said: Hahaha.. gmn rasanya di kunjungin pacet :ppergi nya mas ke ungaran ada yg nggak ridho tuh hihihi..:pskrng orangnya kemana nih.. masuk angin ya šŸ˜€

    udah ngantor,,,nieh gambarnya udah nongol..silahkan dinikmati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s