Atas Nama Profesionalisme Mulur Mungkret untuk Batu Loncatan

Kehidupan manusia bak karet gelang yang mulur mungkret, seperti yang dikemukakan Ki Ageng Suryo Mentarem dalam sebuah buku yang berjudul “Filosofi Hidup Bahagia”. Keinginan manusia dianalogikan, mulur dan mungkret, dimana mulur (melar, molor, memanjang, mengembang, meregang) dan mungkret (mengecil, menciut). Terkadang keiinginan itu mulur, sudah dapat sepeda, pengin motor, motor sudah ditangan mencoba membeli mobil, bahkan kapal selam. Keiinginan juga bisa mungkret, tidak punya motor, sepeda ya tidak masalah, jalan kaki pun oke.

Siang ini dikantor terasa sepi dan sunyi, di laboratorium hanya saya seorang yang nongol dari 6 orang yang ada. Gerangan dimana ya, kok tumben ada sebuah pesan di meja “tolong sampel dan kerjaan saya dihandel hari ini, kami ada test, trims dari A,B,C,D dan E”. ” Yang benar saja, kerjaan 5 orang suruh nelen sendiri”, atas dasar profesionalisme, harus diselesaiakan. Tenaga, Hati dan pikiran disatukan, akhirnya kelar juga kerjaan 5 cecurut-cecurut brengsek tersebut.

Cecurut saya sebut mereka, karena tiap hari kerjanya tanya melulu, tanpa mencari tahu atau belajar, semua instant “TANYA”. Hampir tiap ada masalah saya bingung bukan kepalang, tetapi cecurut masih bisa tertawa. Setiap meeting mencak-mencak, adu argumentasi, ide dan pendapat, cecurut hanya “diam sejuta bahasa” dan sumpah pekerja “satu ide, satu nasib, satu bayaran”. Tak ada ide, sumbangsih atau apalah, yang ada cuma rutinitas kerja dan bayaran. 804 kode mereka, dateng jam 8 kontribusi nol pulang tet jam 4. Andai aku jadi boss atau HRD udah tak tendang jauh-jauh manusia dengan kwalitas seperti itu, tetapi karena mereka katrolan (cangkingan) HRD dan manajer ya apa boleh buat.

Iseng dan selidik, apa yang mereka lakukan, buka-buka folder, file yang ada dikompi lab. “Bujubuneng, nangka gondal-gandul” klik…krek..krek…krek… pantesan mereka minta saya motret mereka dengan baju formal, ternyata inilah yang terjadi. Lowongan Calon Pegawai Negri Sipil, Balai Pengawasan Obat dan Makanan. Gila..gila..edaan..edaaan… merekan mau daftar di BP POM, yang bener saja, mereka bisa apa “hahahaha…hahaha….”, “analisa gula, bakteri, kadara air, garam aja belepotan”.

Bukan mengkerdilkan kwalitas mereka, tetapi memang kerdil. Iseng pernah saya ng-tes mereka dengan basic laboratory, tak satupun yang benar-benar menguasai dengan baik dan benar, padahal hanya sebatas teori. Nah mau jadi apa BP POM andai mereka diterima, tetapi saya berharap saja mereka bisa diterima, tetapi kalau bisa ditempatkan di staff tata usaha saja.

Kondisi mulur mungkret terjadi, dimana pekerjaan secara ekonomi diartikan, timbul rasa mulur untuk mencapai. Andaikata, pencapaian tersebut dirasa terlalu berat, maka mungkret kembali dengan apa yang ada, bahkan turun grade. Heran bercampur geli, pada masa mencari pekerjaan dan nafkah susahnya minta ampun, masih saja bermain apai dalam SPBU. Tak dibayangkan, apa kata orang apabila ketahuan mendua dan mencari selingkuhan baru. Ini real dan syah-syah saja dilakukan, tetapi apakah harus memunafikan kode etik dan profesionalisme pekerjaan.

Andaikata saya manajer, sudah tak tendang ke lapisan eksosfer mentalitas seperti itu. Tidak memiliki dedikasi dan profesionalisme, entah apa kata orang-orang yang menganggur atau sedang mencari pekerjaan, sumpah serapah dan makian bakan terlayang mungkin. Saya hanya berharap untuk bisa sebaik mungkin bekerja, penuh dedikasi dan tetap profesional pada porsinya, sambil mencari sebuah peluang tanpa menanam sakit hati.

Batu loncatan, atau batu pijakan, terserah pada anda untuk menafsirkan, intinya syukuri yang ada walau terkadang mulur atau mungkret, semoga berkenan dan maaf bila kurang berkenan.

Salam
DhaVe
Bis Kota, 12 Oktober 2009; 08:05

18 thoughts on “Atas Nama Profesionalisme Mulur Mungkret untuk Batu Loncatan

  1. banyak terjadi, bahkan di tempat saya macul, seperti sudah pernah saya ceritakan…dah jadi budaya banget para atasan ngankutin keluarga atau kerabat/temen dekat tapi kualitas nol..

  2. dhave29 said: Keinginan manusia dianalogikan, mulur dan mungkret, dimana mulur (melar, molor, memanjang, mengembang, meregang) dan mungkret (mengecil, menciut).

    Kok seperti lensa juga ya mas, kebanyakan mesti molor-mungkret, kalau pakai yang fix berarti orangnya yang mesti maju mundur. Atinya flexibilitas tetap merupakan sebentuk kebijaksanaan dalam hidup. Siiiip.

  3. dhave29 said: Keinginan manusia dianalogikan, mulur dan mungkret, dimana mulur (melar, molor, memanjang, mengembang, meregang) dan mungkret (mengecil, menciut).

    @sulis; ya dimana tempat mungkin seperti itu… akan lebih sedih kalau prinsip batu loncatan, padahal berpijak saja belum becus ehhh sudah mau meloncat, kalau jatuh merengek-rengek….

  4. dhave29 said: Keinginan manusia dianalogikan, mulur dan mungkret, dimana mulur (melar, molor, memanjang, mengembang, meregang) dan mungkret (mengecil, menciut).

    @heart; betuuul Mo, semua mesti molor mungkret, lensa 10-800mm (gak ada ya?) ama yang fix tetap mulur dan mungkret, begitupun yang lain, yang tetap adalah fokusnya sajah… matur suwun Mo…

  5. dhave29 said: Keinginan manusia dianalogikan, mulur dan mungkret, dimana mulur (melar, molor, memanjang, mengembang, meregang) dan mungkret (mengecil, menciut).

    @pilar;benul juga… manusia yang mencoba untuk tidak merasakan…

  6. dhave29 said: Keinginan manusia dianalogikan, mulur dan mungkret, dimana mulur (melar, molor, memanjang, mengembang, meregang) dan mungkret (mengecil, menciut).

    kasih applause ah buat mas dhave..berhasil menyelesaikan tugas kawan2nya..:D

  7. pilaryogya said: Tak bantuin dengan doa aaah…:D

    aku pernah ketanggor orang gituan, tapi manajer langsung bilang”Mbak Lala, tolong kalau dijaga ya, obrolan dan tingkah laku sama mbak yang satu itu, karena dia adik terkecil pak owner, kalau bisa diemong ya” Gubraksssss dehpendidikan dan usianya jauh lebih tinggi dari saya, lha kok aku disuruh momong emang aku melamar jadi baby sitter? apa daya aku cuma bisa mengangguk dalam hati dan memaki yah namanya juga buruh. duh. susahnya jadi buruh yg mesti nurut ma atasan yg geblek yg bermodal kuasa.Lebih sial lagi akhirnya kerjaan lari ke orang lain karena dia ga bisa kerjain piye jal….

  8. lalarosa said: aku pernah ketanggor orang gituan, tapi manajer langsung bilang”Mbak Lala, tolong kalau dijaga ya, obrolan dan tingkah laku sama mbak yang satu itu, karena dia adik terkecil pak owner, kalau bisa diemong ya” Gubraksssss dehpendidikan dan usianya jauh lebih tinggi dari saya, lha kok aku disuruh momong emang aku melamar jadi baby sitter? apa daya aku cuma bisa mengangguk dalam hati dan memaki yah namanya juga buruh. duh. susahnya jadi buruh yg mesti nurut ma atasan yg geblek yg bermodal kuasa.Lebih sial lagi akhirnya kerjaan lari ke orang lain karena dia ga bisa kerjain piye jal….

    lempar aja ke laut….๐Ÿ˜€

  9. lalarosa said: aku pernah ketanggor orang gituan, tapi manajer langsung bilang”Mbak Lala, tolong kalau dijaga ya, obrolan dan tingkah laku sama mbak yang satu itu, karena dia adik terkecil pak owner, kalau bisa diemong ya” Gubraksssss dehpendidikan dan usianya jauh lebih tinggi dari saya, lha kok aku disuruh momong emang aku melamar jadi baby sitter? apa daya aku cuma bisa mengangguk dalam hati dan memaki yah namanya juga buruh. duh. susahnya jadi buruh yg mesti nurut ma atasan yg geblek yg bermodal kuasa.Lebih sial lagi akhirnya kerjaan lari ke orang lain karena dia ga bisa kerjain piye jal….

    jegur kee nang kaligawe….,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s