Kambing Hitam Itu Puntung Rokok, Padahal Banyak Kambing Gunung (metro..metro…tipi)

Pulang kerja, badan lelah, pikiran sumpek langsung sahut remot TV dan lihat berita di Metro TV. Pas pencet langsung muncul sebuah berita yang menggelikan dan ditampilkan apa adanya (mentah). Berita tersebut mengabarkan adanya kebakaran hutan Jati di Tuban, dan kesimpulan berita tersebut “kebakaran disebabkan puntung rokok yang dibuang sembarangan penduduk”. Mungkin mbak Frida Lidwina yang membaca itu sadar tidak dengan teks yang naik dari layar dimonitor sebagai panduan untuk pembaca berita.

Lucu-lucu, sebuah stasiun televisi kelas atas, isi beritanya seperti orang jualan krupuk “asal jeplak”. Anak kecil pun apabila ditanya, apa penyebab kebakaran? “apiiiii” jawabnya. Yach untuk sebuah jawaban anak kecil bisa dimaklumi, polos jujur dan apa adanya. Memang api adalah sumber kebakaran, tetapi yang menjadi masalah dari sumbernya? korek api atau puntung rokok.?

Lupakan dulu kebakaran di hutan Tuban yang tidak jelas asal muasalnya, saya hanya sedikit mau berbagi informasi dan pengalaman apa yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Bukti penyebab kebakaran benar-benar saya temukan, dan itu nyata didepan mata, tanpa ada praduga tak bersalah.

2003, bulan september tanggalnya lupa, waktu itu saya turun dari gunung Merbabu sisi Barat (jalur Wekas). Saat turun, saya jalan paling depan dan berjalan jauh meninggalkan teman-teman. Saat asyik istirahat dibalik semak belukar, tiba-tiba “pletak..tak pletak” asap mengepul. Terkihat ada seorang penduduk yang membakar tumpukan dahan kering, lalu timbulah api yang membesar. Sontak saya berlari memadamkan api dengan kayu sambil bag-big-bug, tetapi terlihat aneh, petani tersebut ikut memadamkan api yang dibuatnya saat meilhat saya memadamkan api.

Base camp Cuntel, iseng mendengarkan Penjaga Base Camp (pak Tono). Beliau bercerita saat ada pertemuan penduduk dengan pihak Taman Nasional, dan ada sebuah pernyataan yang mengejutkan “lha sebenarnya yang membakar gunung ya penduduk”. Weleh, sebuah pengakuan yang jujur dan polos dari penduduk, mereka takut dipenjara, makanya ngaku biar dapat pemutihan dan pengampunan.

1 bulan yang lalu saat saya naik gunung yang sama, kebetulan jaga tenda, terdengar sebuah suara api yang cukup besar sedang membakar. Spontan saya berlari ke arah api tersebut, sambil bersembunyi disemak-semak saya perhatikan apa yang terjadi. Seorang petani menumpuk dahan, ranting dan daun kering dibawah pohon akasia lalu membakarnya. Api yang membesar diharapkan bisa membakar pohon akasia, dan nantinya bisa dijadikan alasan untuk ditebang, karena pohonnya mati dan kering.

Coba saya dokumentasikan yang terjadi didepan mata saya. Semua saya potret, termasuk petani yang membakar, tetapi begitu melihat saya dan kamera, petani tersebut kabur lari tunggang langgang. Segera saya berlari untuk mengejar, tapi sudah hilang dibalik hutan, yang tertinggal harus segera memadamkan api. Pantang pulang sebelum padam, begitu padam segera kembali menuju tenda.

Ditenda iseng saya membuat eksperimen kecil-kecilan untuk membuktikan ada tidaknya kambing hitam yang bisa membakar gunung. Sebatang rokok saya nyalakan lalu saya taruh di tumpukan daun-daun yang kering, saya tiup-tiup supaya timbul api dan membakar. Hampir 1/2 jam hasilnya nihil dan nihil, hampir habis 2 batang rokok, tak satupun yang bisa membakar daun, semak-semak kering.

Malam hari bersama teman iseng membuat api unggun. Ranting, dahan, dan dedaunan kering kami kumpulkan, dengan guyuran spiritus kami buat starter api. Blum… nyala api besar dan membakar, hangat sekali saat itu. Saat spiritus habis, bara api pun belum jadi, kami coba membakar plastik-plastik sampah, tetapi hanya bertahan sebentar. Bara api kecil dikipas-kipas, ditiup-tiup, yang ada hanya asap, asap dan asap yang membuat nafas sesak dan mata pedih. Sungguh susah untuk membuat api digunung.

2006 kebakaran hebat terjadi di gunung Merbabu, yang menjadi kambing hitam “pendaki gunung yang membuang puntung rokok sembarangan dan perapian api unggun”. Sungguh ngawur, dan asal tuduh tanpa sebuah bukti. Pendaki gunung yang baik, saya kira sudah tahu dan paham kode etik-nya dan tidak perlu saya jelaskan, tetapi kenapa masih dijadikan kambing hitam gara-gara rokok dan api unggun.

Saya yakin, anda jauh lebih bijak dan cerdas dalam menarik sebuah kesimpulan, dibandingkan dengan jurnalis MetroTv.

Semoga memberi inspirasi, dan maaf buat yang kurang berkenan.

Salam

DhaVe
Office, 8 Oktober 2009; 19:40

59 thoughts on “Kambing Hitam Itu Puntung Rokok, Padahal Banyak Kambing Gunung (metro..metro…tipi)

  1. harataya said: kita? yakin? wuehehhee…kalo saya bukan di gebleg2in…tapi diniat2in…wuehehehhe!!….hawakadaaah!!….kkhkhkhkhss…..

    lebih enak mencari kambing hitam daripada mencari kambing putih hehehe itulah yang tidak tau faktanya pasti begitu mereka enak menyalahkan putung rokok karena setelah itu selesai permasalahan rokok kan tidak mungkin protes hehehe nah klo manusia yang diprotes nti protes berabe panjang ceritanya nti harus ada penyuluhan agar tidak membakar sampah kering atau apa wah repot kan itu menuryut saya tapi wallahualam saya tidak ingin berburuk sangka heheh walaupun sudah ya ?????no no no terkadang para pencari berita sekarang lebih mementingkan gossip daripada kualitas berita payah ah

  2. harataya said: kita? yakin? wuehehhee…kalo saya bukan di gebleg2in…tapi diniat2in…wuehehehhe!!….hawakadaaah!!….kkhkhkhkhss…..

    @elok; yups anda benar, bukan saatnya mencari kambing hitam… tetapi ada permasalahan apa dibalik itu.anda bener, kwalitas berita kita turun, karena mengikuti kebutuhan pasar, kesimpulannya “masyarakat, sebagian juga turun kan dan mengkonsumsi berita yang ber kwalitas… enak gosipnya”makasih… salam

  3. harataya said: kita? yakin? wuehehhee…kalo saya bukan di gebleg2in…tapi diniat2in…wuehehehhe!!….hawakadaaah!!….kkhkhkhkhss…..

    @elok;kibord laptop haha…. tak pijeti terus sampe tulisane ilang haha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s