Hidup lebih HIDUP disaat Memanjat Batu Vertikal

3 tahun sudah dan hampir lupa bagaimana cara dan teknik untuk sampai disebuah ujung batu. Membelai batu, menyisipkan jemari dicelah batu, menginjak tonjolan, bahkan jikalau terpaksa harus memaku batu nan cantik untuk gantungan nyawa. Sungguh tidak tahu apa yang aku lakukan saat itu, apa untung rugi yang bisa diperoleh. Bergelantungan dengan seutas tali dan bergelut dengan ketinggian, menjadi satu dengan gemetar rasa taku, histeria teriakan dan cucuran keringat, tetapi hanya kekuatan doa dan keyakinan yang bisa mengalahkan.

Panjat tebing, sebuah aktivitas yang jarang digeluti banyak orang. Mahal, berbahaya dan terkesan aneh menjadi trade mark olah raga ekstreem yang satu ini. Saya mengakui, bahwa fobia ketinggian adalah hama psikis diotak ini. Jangankan manjat genting, lihat kebawah jembatan saya gemeteran, apalagi memanjat batu cadas. Dengan tekad bulat saya mencoba mengalahkan rasa takut tersebut.

Berawal dari SMA, panjat tebing sudah mendarah daging dalam diri ini. Peralatan yang sederhana, tali rami, webbing, karabiner baja menjadi senjata pokok untuk gantungan nyawa. Bersama rekan mencoba iseng mendaki bebatuan jembatan buatan Belanda. Tonjolan batu jembatan menjadi ajang berlatih power dan teknik, semua dilakukan murni tanpa ada alat bantu dan hanya pengaman sekedarnya.

Menginjak mahasiswa barulah mengerti tentang peralatan panjat yang modern. Makin gila aktivitas pemanjatan, pembuatan jalur, atau hanya bercengkrama dengan bebatuan vertikal puluhan meter. Setiap akhir pekan, puluhan meter tali carmantel, besi kaitan, paku tebing, bor batu, pita pengaman, palu, magnesium carbonat, helm menjadi kawan setia sehidup semati.

Pernah suatu hari di ajak out bond dan ditantang teman kantor untuk flying fox, “huuuwa…haaaaaaaa….” bukan teriakan histeris atau ketakutan, tetapi sebuah lelucon kekanak-kanakan. Jaman dulu, sudah kenyang dengan luncuran antar tebing puluhan meter, lah ini dikasih mainan anak-anak. Jatuh 25m, kaus kejepit descender, terbelit tali, kena pukul palu, terhempas ditebing wuifff…. hidup terasa lebih hidup.

Saat ini mencoba kembali sebuah kehidupan yang nyrempet bahaya. Pijakan dan rekahan pertama memberikan sensasi dan memory yang dibalut serbuk kapur. Tetesan keringat mengucur deras, tangan, kaki dan gigi seolah berkerja sama, berpijak, mengunci, menggigit tali, memasang runner. Saat tangan terhempas dan kaki tak kuat berpijak “fall” juru selamat dengan sigap mengamankan dari bawah. Mencoba memanjat kembali setahap demi setahap, berulang kali mengoyangkan tangan agar kembali lemas. Akhirnya sampai juga di roof top, puncak tertinggi dari akhir pemanjatan. Puas, lega, bangga, sujud syukur untuk sebuah pencapaian, hidup terasa berharga dan tak ternilai.

Ditebing, tidak ada belas kasihan dan kesalahan sekecil apapun, yang ada semangat, tekad dan sebuah keyakinan.

Terimakasih
Jesus Christ, berkatmu tiada tara… makasih banget my God
Agus Ason Supha, yang setia mem-belay dan back up
Dinar, buat cleaning jalur
Pras, teknik dan pencerahannya…
Teman-teman PINOES…

Salam

DhaVe
Kali Pancur, 4 Oktober 2009, 21:00

17 thoughts on “Hidup lebih HIDUP disaat Memanjat Batu Vertikal

  1. membaca tulisan Mas Dhanang yang satu ini, seperti membaca sebuah perjuangan keras kehidupan di kota metropolitan seperti Jakarta… ternyata, hutan belantara dan hutan semen, sama2 memerlukan perjuangan… tebing batu dan tebing gedung, sama sama memerlukan keberanian untuk mencapai tingkat atasnya…. i always love your stories, Mas! keep ’em coming!…..

  2. Sekali nyoba dulu, tp merayp di papan milik Paskhas lalu ketagihan..Akhrnya nempel lagi di salah stu Univ.. Wah.. Masih nagih..Tapi kalau batu..Cuma saat berburu kelelawar dulu wktu SMA.. Itupun cuma modal tali tambang.

  3. Sekali nyoba dulu, tp merayp di papan milik Paskhas lalu ketagihan..Akhrnya nempel lagi di salah stu Univ.. Wah.. Masih nagih..Tapi kalau batu..Cuma saat berburu kelelawar dulu wktu SMA.. Itupun cuma modal tali tambang.

  4. Ternyata kodok bisa panjat tebing!Om Dhanang: nais setori! Tapi tetep ga pengen panjat tebing! Hehehe.. Kasian talinya,bisa-bisa protes “gile ni gantungan! berat bener!!” hehe!*padune wedi ndadak alesan macem-macem!*:))

  5. @ndipe; racooonku biar semakin akuuut…. mencari orang-orang yang ingin tersesat hidupnya wuehehehe… ayo ditunggu dikau ditebing vertikal… dinar siap jadi rinso (cleaning) dan si Ason (adiku) mbuka jalur… pras jadi belayer nya… aku tukang poto sajah..@addic; wah dicoba lagi asyik kayaknya… Om… @alex; tenang mbak, tali kita mampu menahan beban sampai 3 ton, andaikata tidak mampu nanti tak pinjemin tali tambang kapal tanker…. kalau masih putus ya udah, kasih tali asih sajah…. pisss 😀

  6. mas, kumpul2, karabiner etc tolong sediaiin sekalian, terus nyari papan panjat yang bisa dipakai gretong, saya ngikooottt :))*8lah iki judule gretongan yak wakakakaka

  7. sulisyk said: mas, kumpul2, karabiner etc tolong sediaiin sekalian, terus nyari papan panjat yang bisa dipakai gretong, saya ngikooottt :))*8lah iki judule gretongan yak wakakakaka

    alat ada Mas… tapi papan panjat atau wall climbing kita kurang suka, lebih afdol di tebing langsung, maksute kita ndak mampu ,makasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s