100X Mendaki Gunung, Apa yang Ku Dapat?

Sak duwure gunung ana dengkul…
Sak duwure dengkul ana gundul…
Sak duwure gundul ana sing Maha Luhur…
(diatas gunung ada lutut, diatasnya ada kepala dan paling atas ada Tuhan).
Kira-kira begitulah ungkapan dalam salah satu buku petunjuk pendakian. Nah saya mencoba mencari sudut pandang sisi menarik dari sebuah pendakian. Pendakian yang nyaris dilihat sebelah mata dan identik dengan nyrempet bahaya, gondrong, rokok, tidak mandi, keras, kasar, mie instant, bau badan, omongan kotor, makian, jorok dan banyak hal negatif lain yang sudah dijustifikasi orang.

Tidak munafik dan tidak bisa menghindar dari semua sisi negatif diatas, tetapi bagaimana mencoba sisi menarik dari aktifitas alam bebas tersebut. Saya mencoba melihat berdasar kaca mata pengalaman, dan tulisan ini saya tulis setelah 100 kali naik gunung, sengaja saya ketik di Pos1 Jalur Cuntel, Gunung Merbabu. Saya hanya membagikan apa yang sudah saya dapatkan selama 100 kali naik gunung, tentu saja hal yang baik saja, berikut diantaranya.

PERSAUDARAAN, ketulusan saya peroleh saat naik gunung. Memebri bantuan walau hanya seteguk air saja, serasa nikmat luar biasa berkatnya. Membagi cerita dan pengalaman dalam dunia pendakian, terasa lebih enak daripada searching di google. Banyak teman baru yang saya temukan. Bahkan dari naik gunung, bertemu teman, bisa mendaki Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan tanpa mereka itu mustahil sekali. Turun gunung, kawan menjadi saudara, tanpa membedakan status, kasta, pekerjaan, kapasitas otak, yang ada adalah rasa percaya dan persaudaraan yang tulus.

KEKUATAN, beban dengan volume 120liter, sekitar 45KG mampu saya gendong dengan bertumpu pundak dan lutut, tanpa porter berkelana sendiri Sembalun Senaru. Andai kata itu terjadi dibawah, tidak mungkin bisa dan kuat saya lakukan. Setapak demi setapak kaki melangkah, tidak ada shortcut atau jalan instant, tetapi harus melalui tahap demi tahap untuk mencapai sebuah tujuan. Cucuran keringat, hembusan nafas, dan degub jantung seolah seirama dengan langkah kaki dan ayunan tangan. Kekuatan fisik bukansegalanya, tetapi power mental penyeimbang. Dalam menghadapi situasi saat tersesat; keterasingan, ketakutan, kekawatiran, sakit, lelah, letih dan tertekan, mentalah yang menentukan kemenangan dari sebuah masalah. Kekuatan fisik dan mental akan berjalan seirman dengan kekuatan spiritial “semakin saya takut, semakin dekat dengan Tuhan” benar dirasakan, hanya sikap pasrah dan berserah kepada yang Kuasa, serta rasa syukur atas semuannya.

KULINER, apa makanan yang paling enak? “makan saat lapar berat” nah, apapun makanannya, saat kondisi lapar “singkong racun pun sikat juga”. Mencoba menghargai setiap tetes air dan sebutir nasi, akan terasa saat mendaki. Rasa haus dan lapar menjadi bumbu saat makan, apalagi dalam suasana kebersamaan, katakanlah dibawah saya tidak sanggup nelan, tetapi saat digunung bisa menjadi penyapu ranjau. Acara masak digunung adalah hal yang paling istimewa daripada sebuah restoran mewah, semua beban berat seolah tanggal saat memasak dibawah teras tenda sambil menikmati matahari terbenam. Secangkir kopi dan sepiring nasi goreng sayur seolah nikmat tiada tara.

PETUALANGAN, bagi yang suka hal baru dan menantang, gunung adalah surganya. Mencari tantangan untuk mengetahui kemampuan diri seberapa batasnya menjadi cara paling ampuh untuk bisa menikmati sebuan pendakian. Pengalaman, jam terbang, cerita menjadi sebuah ilmu yang tak ternilai dan tidak mudah dicari serta didapatkan. Seberapa nyalinya akan mudah dilihat dan diukur saat melintasi igir-igir dengan jurang menganga, keputusan tepat dan tindakan cepat akan menjadi senjata ampuh.

HABBIT, prilaku juga akan tergerus kerasnya alam. Egoisme seolah menjadi realis sosialis. Rasa kebersamaan dan persaudaraan melebur menjadi satu. Teringat saat bergabung denga tim SAR menjadi relawan, diri ini seolah tidak terpikir, tetapi yang ada hanya bagaimana mereka selamat, sehat dan kita berhasil menemukan dalam keadaan selamat. Dalam film “vertical limit”, menyelamatkan 2 orang rela mengorbankan 6 nyawa, nah itulah prilaku yang mengeras dalam pribadi pendaki. Solidaritas begitu melekat, begitu juga dengan disiplin dan konsistensi akan terbentuk oleg ganasnya alam.

BANGGA, bukan rasa hebat sudah bisa menaklukan gunung, mencapai puncak tebing atau keluar dari tragedi tersesat, tetapi bangga sudah bisa mengalahkan diri sendiri. Meleburkan ego menjadi sebuah kebijaksanaan dalam bersikap dan bertindak. Orang akan mengakui seseeorang sudah bisa mencapai puncak impian, tetapi sulit diri ini untuk mengakui sudah bisa menaklukan diri sendiri. Nah kebanggaan akan muncul saat kita turun dengan sebuah kerendahan hati dan persahabatan.

Semoga memberi inspirasi

Terimakasih
Jesus Christ
Andi dan kawan-kawan..

Salam

DhaVe
Pos1, Watu Putut, Gunung Merbabu 27 September 2009, 13:30

43 thoughts on “100X Mendaki Gunung, Apa yang Ku Dapat?

  1. @sulysik; makasih Om.. ndak menyangka nie udah ke 100.. mau jalan yang ke 1000 hehehe… lanjuuut@tjah;proses yang panjang untuk sampai 100, berawal dari tahun 98..wufhhh… ayook kapan kita hajar bareng…

  2. @vivi; haha kalao cuma nitip tas ndak masalah, asal isinya tidak hahaha…. bawa kamera juga beban berat, hati-hati, ndak boleh kena embun, wuihhhh susah… bukan kura-kura yang jadi masalah, tapi cangkangnya ntuh looh?@angel; haha pos 2.. dah bagus ntuh wehehe.. view dah oke banget… reach the tpo, touch the sky… kaya hetsot dipesbuk-ku hehehe…. mantab….

  3. @ndipe; kembali kasih, kapan-kapan kita masak besar lagi… wingi durung puas masake… nasgor watu putut, sup buah sendang dinar, migor cunthel, mendoan pos1, tahu bakso kornet, bakwan kornet trangia, wadduuuh apa meneg menune ya…? sampe lali…@alex; wees ayooo kapan hajar lageee

  4. @nakamura; walah Om Wawa jangan begitu…. saya masih panjang jalannya buat belajar, bukan berapa banyak mendakinya, tetapi apa yang kita peroleh saat turun gunung buat oleh-oleh…. matursembahnuwun…Harataya; yo wis… pokoke… sing 200mm 300mm 600mm gelang merah… hehehe…

  5. hmmmm sangat bangga berada diataskeajaiban banyak terjadi semacam ada yang mengerakan adrenalin ketika sesuatu itu berat menjadi ringan, harus bisa dan kuat, menjadi lapar itu kenikmatan bisa menghargai air dan makanan shg ada rasa eman ketika membuang makanan.pelajaran berharga sekali dan alam telah mengajari kita berbagi mas🙂

  6. oke meth bers beres deh wekekelo saya gak meminta reportasesaya tau kebiasaan anda yang harus melalui peroses editing dahulu wekekekesaya hanya mengkomentari bacaan lama sebelum saya jadi kontak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s