Mie Instant Perlambang Bencana diHari Kemenangan

Lebaran hari kedua versi nasional, kali ini mencoba mengunjungi rumah Tante di lereng Gunung Merbabu, yang terletak persis dijalan yang menghubungkan Salatiga dengan Magelang. Sore itu iseng membantu jaga toko kelontong yang nampak agak ramai pembeli dan beberapa pengendara motor, mobil yang melintas untuk membeli kebutuhan diperjalanan.

Saat asyik melayani pembeli, nampak seorang Gadis kira-kira 15tahunan yang nampak dengan pakain sederhana. Kontras sekali dengan suasana lebaran yang serba baju baru, atau layak untuk merayakan momment lebaran.
“beli apa dik…?” sapa saya…
“mie yang 700an mas… dua” jawabnya.
“buliik mie yang 700an apa ya…?” tanya saya kepada tante.
“ntuh yang pojok, yang masih banyak” jawab tante.
“nie dik mie nya dan 100 kembaliannya, terimakasih”.

Akhirnya selesai juga, dan sepi kembali, tetapi mata ini tidak tahu kenapa menatap tumpukan mie yang dipojok yang nyaris tidak laku. Merk tidak jelas, murahan, kemasan tidak menarik, tetapi ada juga yang membeli. Iseng bertanya sama tante tentang mie yang tidak laku-laku tersebut.
“ntuh mie, hanya anak tersebut dan ibunya yang beli, karena murah dibanding yang lain”, “merekan barusan pindah dari luar daerah kesini dan menetap untuk bertahan hidup, dan tau sendirilah janda dengan 2 anak”, “lebaran ini mereka tidak punya suguhan apa-apa, makan saja dengan mie” stooop……

Nanar mata ini melihat sebuah realita drama kehidupan, ini contoh nyata dari sekian banyak yang ada dan terjadi. Disaat lebaran semua serba baru, menang atas puasa 1 sebulan penuh, makanan melimpah, uang banyak, tunjangan hari raya, tetapi ada yang bertolak belakang dan itu nyata terjadi. Disaat semua serba berkelimpahan, masih ada juga yang bergelut dengan segala kekurangannya, disaat semua bersuka cita bersilaturahmi, ada juga yang sedih dikesendirian.

Mie instant telah menjadi sebuah simbol akan kondisi saat ini. 10-20 tahun yang lalu, mungkin mie instant dianggap sebagai barang mewah dan mahal. Teringat masa kecil dulu, makan nasi lauknya supermie, sarimi dan mie mie yang lain. Pada saat ini saya bisa sedikit definisikan dari sebuah sudut pandang yang eksentrik, bahwa mie instant adalah lambang bencana.

Teringat beberapa tahun yang lalu saat tsunami menghajar Aceh, berapa banyak mie instant yang dikirim, saat gempa Jogja maka mie juga yang menjadi andalan. Saat tanggal tua dikost, maka mie juga yang menjadi andalan, apalagi saat tengah malam terjaga dan perut lapar, mie juga jadi pengganjal. Mie instant yang tercipta untuk sebuah kepraktisan, saat ini dijadikan alternatif terakhir untuk sebuah makanan saat dirasa terpaksa. Tanpa mengabaikan aneka macam merk, rasa, harga, tetap mie terkesan praktis.

Saat ini orang mulai tersadar akan dampak negatif mie instant, yang konon bisa bikin kangker, tipes, maag, atau mules-mules. Saya yang termasuk korban kesadaran tersebut mulai menjauhi mie, kecuali terpaksa dan tidak ada pilihan untuk makan. Naik gunung yang dulu mie instant dijadikan pilihan sekarang sudah beralih ke havermuut, beras, roti, itupun setelah sekian lama dan setelah tahu perbandingan kalori dan baik buruknya.

Belajar dari simbol mie instant yang melekat unsur bencana dan keterpaksaan akan sebuah pelajaran. Coba saya merenung dan berandai-andai, bilamana malam takbiran ribuan petasan dan kembang api tidak dinyalakan, niscaya bisa merobek simbol mie instant untuk janda dan kedua anaknya. Saat semua sibuk ber sms ria yang isinya forward-an, coba disisihkan reply untuk sebuah hidangan Janda dan anaknya.

Teringat dalam sebuah ayat, “kunjungilah janda dan anak yatim, berikanlah sukacita, maka itulah ibadahmu yang sejati”, KH Zainudin MZ “masih banyak janda-janda dan anak yatim yang perlu kita santuni….”. Sudahkah kita menang selama sebulan penuh “belum” masih banyak medan perang yang dilalui.

Ngetik sambil makan asyik juga, teringat kisah mie instant “Tuhan berikanlah kami makanan yang secukupnya” dan sabda nabi Muhamad “dibutir nasi terakhir adalah berkat dari makananmu”. Makanan saya sudah cukup, dan butir nasi terakhir tidak boleh terlewat, makan habiskanlah makananmu “kalau tidak habis, ayamnya mati lho”.

Semoga menjadi inspirasi

Salam

DhaVe
Toko Nani, 21 September 2009; 15:00

Advertisements

23 thoughts on “Mie Instant Perlambang Bencana diHari Kemenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s