Karma Sandal Mungil Tersesat di Hutan Bakau

Seharian berkutat dengan mesin-mesin produksi, alat laboratorium membuat jenuh super jenuh (padahal kemarin baru pulan hunting sampokong), bisa dijadikan alasan. Segelas dedak skotlandia diseduh air panas ditambah rebusan putih telur cukup untuk olah raga sore.

Keledai besi oranye-hitam sudah nangkring diparkiran menunggu tuannya berdandan. Celana strit, kaus lengan panjang, helm, kacamata dan sebotol air, tidak lupa tas kamera dan komunikatrok. Pelan kukayuh keledaiku sembari berpacu dengan dinosaurus yang bergandengan, kubelokan disebuah papan nama PANTAI 4KM.

Putaran pedal memacu roda untuk selalu berputar, mendekati persimpangan rel tengok kanan, kiri, aman jalan. Saat melintas dekat rel, mata tertuju pada sebuah sandal anak kecil. Putaran roda berhenti, memperhatikan sebuah sandal mungil. “lah usahlah…” terus sepeda saya kayuh menuju arah panati.

Didepan berpapasan dengan sebuah motor, terlihat ada gadis kecil duduk ditangki. Terlihat ada yang aneh, “kok sandalnya cuma sebelah” dalah hati berkata. Entah mengapa mulut ini berteriak “mas sandalnya dekat rel…..!!!” seperti orang tak sadar, kenapa saya teriak begitu sambil menertawai diri sendiri “hahaha…bego..gebleg” dan “yaa… dekat rel ya….” dari kejauhan ada yang menyahut.

Masalah sandal hilang begitu saja, lalu tidak tahu mengapa kok pengin belok ke arah yang tidak saya kenal. Kata orang, jalan tersebut buntu dan tidak bisa ditembus. Penasaran juga ingin mencoba, kukayuh sepeda dengan ban besar yang saya sengaja untuk jalan tanah yang tidak rata. Masuk dalam kumpulan pohon bakau yang tidak begitu lebat, tambak udang, sungai besar. Tak seorangpun kutemukan dalam kayuhan demi kayuhan. Terlihat hampir 2 jam naik keledai beroda.

Perasaan was-was muncul, hari semakin gelap tidak tahu jalan pulang. Rencana mau balik arah, tetapi butuh 2 jam untuk bertemu, berarti jam 8 malam, mana hari semakin gelap dan sunyi. Suara burung menambah seram senja itu, “sialan tersesat nie”. Berharap bertemu orang, malah bertemu burung kuntul, gotho (kepiting beracun), kecipak ikan “bajigur..kampret…gimana ini?”.

Jalan semakin sempit, kiri kanan tambak, apes lagi mata sudah susah melihat pematang. Setelah keprosok beberapa kali, akhirnya keledai kutuntun sambil jalan beriringan. “wah nginep ditambak ni malam, wah gak gagah lagi, masak nyasar ditambak dan hutan mangrove”. Semakin gelap langit terlihat, kringet dingin keluar, tiba-tiba dari kejauhan terlihat 2 sosok putih melambai-lambai.

“bajirut… apa kui…” jress sir…hati ini, setelah kucek-kucek ternyata orang baru pulang mancing. “woi mas..lewat sini, sepedanya dipanggul saja” teriakan dari seberang tambak. Saya ikuti perintahnya “uww..dasar wedus…gedong sepeda kie” umpat saya, tapi “slamet..slamet…!”. Sampai juga disebrang tambak, trus ditanya
“kok dari tadi mutar-mutar ditambak, mas mau kemana?”
“mau cari jalan keluar mas” jawab saya
“mari saya antar, memang disini susah jalan keluarnya, kalau belum pernah kesini pasti nyasar”

Kemudian saya diantar menuju jalan yang berbelok dan berliku, seingat saya cuma ada 2 belokan (kanan dan kiri). “busyet dah susah bener keluar dari tempat ini” pikir saya.
“mas saya antar sampai sini, nanti jalan lurus saja jangan belak-belok, terus nanti pol ada pertigaan belok kiri, sekitar 2 Km ada ketemu jalan kampung” sambil garuk-garuk kepala yang gatel dan berharap diantar sampai jalan besar. Belum sempat mengucapkan terimakasih sudah hilang dua sosok dalam hutan bakau.
“mas matur suwun ya….!!!” teriak saya…
“yooo….” terdengar jawaban dari gerumbul bakau.

Kayuhan semakin cepat mengejar cahaya yang remang-remang, gak pedulu melibas batu atau lobang hajar terus. Hampir 1 jam melewati hutan bakau, tambak tidak nampak juga kampung. “busyet malem jumat lagi…” deg..deg..sir semakin mempercepat aliran adrenalin, dan akhirnya menemukan jalan aspal. Bimbang kanan atau kiri, ah kiri saja modal ngawur. 1 Km setelah itu nampak kampung dan jalan arteri pantura. Wah selamat deh, sejenak kayuhan mulai pelan, sambil termenung dan tersenyum.

“andaikata saya cuekin sandal mungil itu, mungkin saya bermalam dihutan bakau dan bakal jadi santaman nyamuk tambak”. Entah ada hubungannya atau tidak dengan hukum tabur tuai, karma, sebab akibat, tetapi sungguh nyata apa adanya. Ikatan benang merah karma tidak peduli siapa obyek dan subyeknya dan seolah menembus ruang dan waktu. Sebuah pelajaran kecil tentang karma sandal mungil yang menuntun kejalan yang benar.

Semoga menjadi inspirasi

Terimakasih
JC
Sandal Jepit
Mas-mas baju putih diseberang tambak
my iron-Donkey

Salam

DhaVe
kost, 10 September 2009; 22:51

17 thoughts on “Karma Sandal Mungil Tersesat di Hutan Bakau

  1. @mbam; tau Om dedak dari mana, havermut kan biasa buat makan kuda di Inggris dan Scotland hehehe… pokoke sehat dan wareg@lave; kan masih ada ponsel… call aja tho hehehe… ngeri gimana, kelihatan bodo-nya iyah hahaha..šŸ˜€

  2. @vivi; iya… gara-gara cari penyakit nieh hahaha… gebleg….gebleg hehehe@lave; iyah nyasar ke madiun dan gak balik lagi… asyik dunk ada yang nemu hehehe… piss…  :p

  3. woi menegangkan hahahaha, kalau mau meluncur ke hutan mangrove jangan sore2 mas, orientasi medan bisa kacau. saran saya yang ga perlu dipikirkan ganti hengpon yang ada gps terus diplot, wes mesti iso mulih :))

  4. @sulisyk: hahaha… enakan nyasar diekbon mangrov, timbang nyasar ditengah kota hahaha…. Garminerikson kali ya.. bawa GPS, topografi map, flare pistol, HT… mendingan duduk diam (pinjem cangkir kopi-nya Om..) bikin kopi ABC trus buat balon udara… “woi ada orang gebleg nyasar” hahaha… trus dibales “syukur…tunggu sampe pagi..” walah sampe pucet tenan ikie hahaha…. suwun..suwun… besok tak sangu benang hahaha

  5. @alex; daku sudah kembali Sir…. besok tak ulang lagi hahaha…. kapook…@harataya; iy mbak… selesai deg-deg an… langsung ditelp Anda hehehe… asyik, parno tenan hehehe… mantab…

  6. dhave29 said: Keledai besi oranye-hitam

    “what goes around comes around, what goes up must come down”cerita simple yang sangat menginspirasa, saya juga selalu berpikir demikian, tetapi terkadang menjadi ketakutan tersendiri karena tak selamanya saya berbuat kebaikanšŸ˜¦

  7. dhave29 said: Keledai besi oranye-hitam

    @harataya; sapa bilang murah Mbak… aku ndak pernah telpon, sms saja, singkat padat jelas, bermakna, ada bukti, bebas disadap KPK hahaha…. ngirit kamsute ….@hearttone; salam balik dari my donkey hehehe… katanya “kapan gowes bareng?” ya.. murah, meriah, sehat…alias gak mampu beli motor, enakan buat eos ma lensa sajah hahaha…@lala; yia..resiko dari sebuah perbuatan hehehe… makasih banyak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s