Belajar dari Pangeran, Bukan Minterin biar jadi Pintar

Persaingan sekolah dan perguruan tinggi saat ini semakin menggila. Komersialisasi pendidikan semakin terasa saat semakin sempitnya mendapatkan pendidikan murah. Orang-orang berduit berlomba mencari sekolah favorit untuk anaknya, walau berapapun biyaya yang dikeluarkan. Bagi orang yang tidak mampu, berharap cemas ada bangku kosong yang digratiskan.

Pendidikan mutlak dan wajib bagi generasi saat ini. Pada masa sekarang banyak sekali anak-anak indigo (punya daya linuwih) dan anak-anak cerdas lainnya. Berbeda dengan jaman saya, satu kelas saja yang pinter cuma gurunya, sampai kadang guru stress sendiri dalam mendidik anak-anak bebal seperti saya dan rekan-rekan. Saat ini pintar tidaknya anak, diukur dari kumulatif nilai dan sudah di anggap presentasi dari kwalitatif anak. Dulu paling takuk kalau rapor ada merahnya, bisa bakal jadi bencana satu caturwulan, tetapi saat ini, dapat nilai 6 atau 7 bisa menjadi bencana. Jaman saya dulu anak yang langganan nilai 5 ada beberapa yang sukses menjadi pengusaha dan guru, sedang yang kumlot 9, malah apes kawin muda dan jadi mak-mak.

Saat ini persaingan semakin ketat dan orang tua mengharuskan anak menjadi yang terbaik, dengan jalan cari sekolah terbaik, less tambahan, kursus, guru privat dan dicekoki segala fasilitas dan hasilnya ada yang jadi dan tidak banyak yang gagal netas. Anak yang jadi, hasilnyapun tidak maksimal, terkesan anak karbitan dan pinter dadakan. Anak hanya berjerih payah berfikir, tetapi tidak merasakan jerih payah berkerja, akibatnya otak oke, badan bongsor muka bego.

Coba menerawang pendidikan jaman dahulu yang lebih menekankan sebuah proses pembelajaran untuk mendapatkan hasil maksimal. Anak raja, pangeran atau putra mahkota harus ngenger (mengembara atau mencari ilmu) dahulu selama sekian waktu. Dengan belajar di padepokan dan menyamar menjadi rakyat jelata, duduk sama rendah tidur sama rebah dengan rakyat jelata. Proses pembelajaran pemerintahan, kanuragan, dan budi pekerti benar-benar ditanamkan sejak kecil.

Maka tidak heran apabila seorang pangeran digandrungi perempuan, sudah tampan, tajir, pintar, sakti, berbudi mulia lagi, membela rakyat kecil pula. Tengok saja putra mahkota kerajaan Inggris, 2 pangerannya tidak duduk manis dan ongkang-ongkang di istana Buckingham. Mereka dikirim didaerah konflik, belajar dinegri orang, menjadi tentara, menjadi relawan didaerah bencana dengan segala penyamarannya. Tujuan semua itu adalah untuk membentuk karakter agar layak jadi putra mahkota.

Berbeda dengan anak penguasa, pejabat dan orang kaya. Semua memanjakan anaknya dengan fasilitas, sekolah dinegri bule, semua dilayani dengan fasilitas lengkap, “pokoknya kamu sekolah yang pinter”, dan hasilnya apa “pinter minterin”. Kalau hanya sebatas pinter itu gampang, tiap hari disuapin pelajaran bakalan pinter dan jago dibidangnya, tetapi bagimana dengan terapan ilmu yang lain. Olah raga contohnya, teman saya yang pinter-pinter blas tidak bisa main sepak bola, naik gunung, bersepeda, berenang paling pol menata pion.

Budi pekerti apalagi, kalau sudah pinter maunya dimakan sendiri, yang lain “makanya belajar…!”. Nah buat apa ilmunya kalau udah pinter, “mau minteri” yach sama aja boong. Banyak orang pinter yang sebenarnya bodoh, lihat berapa banyak sarjana yang bekerja dibukan disiplin ilmu dan kepakarannya, padahal lulus IPK cumlaude “PARCUMA…!!!”

Saatnya menjadikan orang menjadi pintar, bukan minterin…

Salam

DhaVe
Gudang Kardus, 8 September 2009, 13:15

13 thoughts on “Belajar dari Pangeran, Bukan Minterin biar jadi Pintar

  1. khkhkhkhsss….. sekali lagi, postingan yang bagus…nyentil banget…Putu Wijaya pernah bilang “kehidupan adalah sekolah dengan pengalaman sebagai maha gurunya..”apapun yang dipelajari di pendidikan formal atau pun informal, buat saya masih lebih berarti apa yang kita pelajari dalam kehidupan kita sehari hari….

  2. @harataya; bener mbak… pengalaman adalah maha gurukesusahan adalah tempaan untuk karakterkecerdasan bijak adalah hasilBudi luhur ijazahnya hehehe… asyik… makasih banget buat analisanya.. salam

  3. hehehhehehe aku ga pernah masuk perguruan tinggi…..cuma SR (sekolah rakyat) ajajadi yah…. cuma bisa jualan gorengan deh 😀 Syukur, puji Tuhan, Alhamdulillah.tapi menengok tetangga sebelah yg lulus dengan gelar didepan dan belakang namanya dari perguruan tinggi favorit sekarang nasibnya cuma jaga kandang aja tuh…..ah…. aku pikir kepinteran dari disiplin ilmu memang tidak selalu bisa diterapkan dalam dunia kerja, namun penalaran dari disiplin ilmu itu sendirilah yang bisa membantu untuk mempraktekan dalam kehidupan.*jane ngomong opo tho aku ki, aku yo ora mudeng je*:D

  4. @lalaBagus mbak..deskripsi yang bagus dan memperjelas tulisan saya, saya sadar filsafat padi dan maksud dari SR hehehe… makasih banyak, semoga tidak jaga kandang tapi bisa buat dan mengisi kandang… salam

  5. @lalaBagus mbak..deskripsi yang bagus dan memperjelas tulisan saya, saya sadar filsafat padi dan maksud dari SR hehehe… makasih banyak, semoga tidak jaga kandang tapi bisa buat dan mengisi kandang… salam

  6. Nah d t4 saya macul bnyk deh tipe2 yg sbnrnya bodoh tp sok pinter dan sok minteri meski ttp keliatan bloonnya. Para manajer yg rata2 bawaan bos dg gelar yg wah tp ternyata sm anak buahnya msh kalah jauh pinternya. Akibatnya yg beneran kerja malah staf2nya dan para anak berhala itu resminya cuma pajangan dgn jabatan resmi manajer. Piye jal?

  7. Cb bayangin kl seorang manajer keuangan bc laporan keuangan aja ga bs, bikin cash flow apalagi lbh ga bs, menentukan strategi keuangan walah ampun deh, alhasil justru stafnya yg jalanin fungsi manajerial. Gaji manajer kerjaan ga lbh clerk sementara staf tugas manajer gaji tetap mepet.

  8. @sulisyk: bener om, ditempat saya nguli juga gitu, yang oon malah dapat tempat yang empuk dan selalu salah dalam setiap kebijakannya, akibatnya tumbalnya sarjana-sarjana pinter ntuh. Sering juga jadi korban kebodohan atasan, ya memang mau apalagi, itulah tugas jagoan-jagoan yang harus melibas masalah hehehe… masalah gaji jangan ditanya….cukup setelah dicukup-cukupin… mentok setelah dimentokin… tapi syukur dan menikmati yang menjadi penghibur hahaha… dengan dicekoki masalah membuat dan mengasah untuk terus menjadi pintar….salam…..

  9. @sulisyk; hahaha banyak juga boneka dan wayang golek yang dipajang menjadi manager… lumayan bisa disetir dan dimainin hahaha…. lucu kalau pas meeting, kwalitas otak dan bahasanya keliatan belepotan hahaha “alasannya bukan bidangnya tapi kok dikerjakan” hahaha payaaah.. malu sendiri.. Tuhan gak salah kasih rejeki…

  10. dhave29 said: lucu kalau pas meeting, kwalitas otak dan bahasanya keliatan belepotan hahaha

    iya betul banget mas, kalau lagi meeting ketok banget gobloknya, cara bicara, cara menyampaikan pendapat seringkali menggelikan karena keliatan oonnya. Ya salah bosnya sendiri, ngapain juga ngasih jabatan aja salah orang. Para manajer ini kalau dibelakang cuma jadi cibiran karena memang kapasitas mereka ga ada sama sekali

  11. dhave29 said: lucu kalau pas meeting, kwalitas otak dan bahasanya keliatan belepotan hahaha

    @sulisyk; maklum Om.. masuknya gak disaring, tetapi dicangking. Kolusi dan nepotisme kental sekali, kadang lucu juga…. manajer suruh ngajarin anak buahnya dan “wes pokoe bereslah piye caramu” kalau dah begitu serong kekanan serong kekiri… mulailah permainan dimulai, seperti main layangan, kapan saatnya ditarik kapan saatnya di ulur, kalau ada musuh tantangin tinggi-tinggian, sekirannya benang gak kuat turun pelan-pelan, jangan gengsi buat maksa gesekan, putus layangan ilang benangpun juga… mengalah… ~kok malah mbladrah, asyik omongin atasan hahaha…oon..oon..~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s