Terlena Nasi Gandul Mabuk Teh Poci (reportase hunting di Pati 2 -selesai- )

Selesai mendengarkan lagu dari musisi jalanan, perjalanan harus berakhir di Stasiun Puri. Sesampai di Puri, Andi (ndiphe13.mp.com) sudah menunggu dengan motornya. Awal perjalanan dimulai dan kali ini untuk mencoba explorasi fotografi di Kabupaten Pati, Bumi  Mina Tani. Dengan motornya anda terus melaju menembus aspal yang membelah kebun singkong.

Tujuan hunting pertama adalah Gerbang Majapahit di Rondole. Konon ceritanya, bangunan yang mirip pintu gerbang tersebut dibawa terbang oleh punggawa kerajaan, tetapi entah kelelahan atau lain hal, gerbang tersebut ditinggal begitu saja ditempat ini. Bangunan mirip pendapa tersebut berisi, sebuah ukiran gerbang pintu kayu dengan berbagai motif ukiran.

Perjalanan dilanjutkan menuju waduk Seloromo yang merupakan kawasan tampungan air di bagian barat Pati. Perjalanan menuju ke waduk cukup nyaman, pepohonan randu dikiri kanan, hutan singkong, disertai hamparan gunung Muria yang berdiri di sisibarat. Akhirnya sampai juga di Waduk Seloromo, saat itu debit air berkurang drastis sehingga nyaris separo dasar waduk terlihat. Hampir 3 jam memandangi waduk dengan berbagai gaya kamera, sambil melihat atraksi ABG pati dengan akrobat motornya.

Selesai sudah berburu pemandangan, berganti berburu makanan. Tujuan kami adalah Nasi Gandul Pak Sardi di Gajah Mati. Sego Gandul Pak Sardi adalah salah satu yang menjadi favorit disana, terlihat banyaknya yang motor dan mobil dalam maupun luar kota Pati. Begitu masuk, bujubuneng….tidak beda jauh dengan antrean BLT.

Mengingat jam buka puasa, maka pengunjung melonjak, sehingga terlihat pegawai Kedai Makan tersebut kepayahan. Saat mau cari tempat duduk-pun sudah terisi pantan dengan tangan menyangga piring. Harus sabar menunggu dimuka pintu untuk bisa ikut antre. Akhirnya dapat juga tempat duduk, pesan teh hangat dan jeruk dulu untuk menghilangkan dahaga, sambil mencicipi tempe goreng yang kriuk-kriuk.

Andi yang sudah hafal dan dihafal (red list pelanggan tetap) mencoba lewat jalur khusus untuk memesan dan dapat juga hasilnya. 1 porsi kulit sapi dan 1,5 nasi “anyep” (tidak pedes), dan 1 porsi daging dan 1,5 nasi( pedes). Nikmatnya makan saat perut benar-benar lapar, kulit sapi yang kenyal berpadu dengan kuah yang guring diselingi tempe goreng dan digelontor wedang jeruk, sungguh menyesatkan lidah. Nasi 1,5 piring hanya seolah lewat di lambung saja dan rasa lapar belum terpuaskan, tetapi ingat kata nabi “yang berelbihan tidak baik, cukup..”. Antrean semakin membludak dan ramai sekali, akhirnya sudah saatnya meninggalkan Sego Gandul Pak Sardi untuk menuju kediaman Andi di Widarijaksa.

Selesai mandi, Andi mengajak saya untuk maen ke teh Poci. Mendengar teh poci, jadi teringat teh Poci Simpang Lima, Semarang yang saat ini sudah dimusnahkan oleh Pemkot. Teh Poci semarang, secangkir teh dan poci sebagai menu utama, sedangkan ciblek menu pilihan. Ciblek “cilik-cilik betah melek” (kecil-kecil kuat bergadang), adalah ABG cewek yang dipekerjakan untuk melayani lelaki hidung belang dan cowok iseng. Teh poci hanya sebagai topeng untuk menutupi bopengnya prostitusi.

Samapi di lokasi teh poci, wuihhh busyet tidak kalah dengan sego gandul. Semua lesehan ditrotoar jalan, kepulan asap tembakau, kopi campur, gorengan, cangkir dan poci ikut menghiasi sajian para tamu. Saya dan Andi, memesan 2 porsi teh poci, dan sepiring gorengan. Teh poci disajikan dalam poci tanah liat, dimana satu bungkus teh poci ukuran kecil diseduh dengan 300ml air mendidih. Didiamkan beberapa lama dalam poci, lalu dituang dalam cangkir tanah liat dengan gula batu sebagai pemanisnya.

Malam semakin larut, pembicaraan makin asyik ditemani seduhan teh Wasgitel “wangi, sepet, legi, kentel”. Topik seputar teman MP, fotografi, pekerjaan menyejukan malam itu, dimana udara pati benar luar biasa panasnya. Tak terasa 1 poci habis, kemudian kami pesan 2 porsi lagi, tetapi kali ini dengan ukuran poci yang lebih besar. Tuang..tenggak…tuang…tenggak… lama kelamaan kepala pusing dan berat dimata.

Kafein dan tein dalam teh ternyata sudah mulai meracuni darah kami. Baru kali ini saya merasa mabuk teh. Kami segera bergegas pulang dan segera beranjak tidur. Malam semakin larut, kepala pusing, mata tidak bisa terpejam, pikiran melayang, berasa kencing terus, sungguh malam yang panjang dan menyeramkan. Akhirnya malam iseng online saja sambil buka-buka pesbuk, mp dan semua yang bisa membuat amata terpejam. Jam 3 pagi, akhirnya mata sudah mulai berat dan baru 30menit tidur sudah harus bangun mendengar suata sahur… sampai pagi hari. Sungguh malam yang berat.

Pagi hari saat ibadah digereja, terasa dininabobokan, mata berat, badan pegel semua, masuk angin, semua lengak sudah. Ibadah selesai, akhirnya badan mulai segar dan sehatkan oleh semangkuk sweeke. Daging binaraga katak ini nikmat sekali dimulut dan luar biasa dilidah. Puas menikmati sweeke kami segera berkemas untuk perjalanan selanjutnya.

Perjalanan dimulai dari Pati menuju Menara Kudus yang menjadi ikon kota Kudus. Menara peninggalan wali songo tersebut masih megah berdiri, saat kami berkunjung masih mengalami tahap renovasi dibeberapa bagian. Puas menikmati menara kudus, kami mampir di rumah kawan saya kuliah, dan ternyata dunia tidak selebar daun kelor, hanya sebatas monitor. Teman saya tersebut mempunyai adik yang berpacaran dengan kawannya Andi, dan 1 fakultas dengan adik kandung saya. Sungguh dunia yang sempit, dan siang tersebut menjadi reuni dadakan benang merah.

Perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Agung Demak yang juga peninggalan Wali Songo (sunan Kalijaga). Sambi menunggu acara buka puasa, kami berburu matahari yang kiat turun dibelakang Masjid Agung, sampai menjelang senja tiba. Perjalanan 2 hari di Pati kami akhiri dengan makan malam dan pulang ke Semarang.

Terimakasih
Jesus Christ, buat penyertaanMu….
Andi dan Family
Nani dan family

Salam

DhaVe

Semarang, 7 September 2009. 11:00

14 thoughts on “Terlena Nasi Gandul Mabuk Teh Poci (reportase hunting di Pati 2 -selesai- )

  1. lalarosa said: mas, foto isinya nasi gandul ya…..kok aku malah kepengen

    ndak sempet moto isi nasi gandul..keburu laper hehehe,,,, enak kok..ada menu non kolesterol juga kok.. nasi putih ma tempe goreng hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s