Pengamen Kadang Jadi Preman Kadang Melebihi Musisi (reportase hunting di Pati 1)

Siang sebelum komputer harus turn off, cek status sebuah layanan on line, dilayar nampak status teman “makan sweeke Pati enak”. Iseng saya komentari saja “bungkuskan saya satu” lalu dijawab “kesini mas tak tunggu”. Enta tanpa pikir panjang, saya angkat tekpon dan bilang kalo sore ini sampai Pati, segera ditanggapi dengan ucapan selamat datang.

Berangkat dari kantor jam 12.30 dengan kamera lengkap dengan amunisinya menuju terminal Terboyo. Sekitar jam 13.00 sampai terminal, kemudian dilanjut menuju bis jurusan Surabaya. Saat sudah duduk manis, seperti biasa para penjual suara silih berganti menjajakan suaranya. Suara pas-pas an, blero, falsh keluar tumplek beg memenuhi ruangan bus. Saat Bus menuju pintu keluar ada 3 musisi jalanan yang menyiksa telinga dan perasaan.

Pengamen pertama selesai menyanyikan lagunya Virgin “Tuhaaan berikanlah aku….” diakhiri dengan ucapan terimakasih. Saat meminta recehanpun dengan santun, tanpa ada tekanan dan murah senyum dan layak dapat sebuah koin. Berganti konser kedua, cewek cowok, dimana cewek memainkan kencrung “gitar kecil berdawi 4” dan cowoknya tinggal tepuk tangan tidak jelas iramanya. Lagu yang dibawakan xxxxxxx, nah tiba saat menarik recehan. Terlihat sang cowok arogan sekali, meminta dengan suara keras dan mengintimidasi kepada penumpang. Saya juga tidak mau bikin ribut, nah coin cepek saja deh karena suara dan kelakuan ancooor.

Pengamen ketiga membawakan lagu campur sari sepanjang perjlanan dari Semarang sampai Demak. Mungkin sekitar 1 album lagu yang ngehits karya Didi Kempot, saya tahu lagunya tetapi tak hafal judulnya. Selesai menyuarakan lagu Didi Kempot, saatnya mengambil recehan dari penumpang. Rasa kagum lagu Didi Kempot hilang sudah saat meminta recehan dengan cara yang kasar, bahkan cewek didepan saya dipaksa mengiklaskan seribu perak demi cari selamat. Cuek kebo budeg itu yang ada dibenak saya, tak saya pedulikan sama sekali.

Akhirnya Bus Indonesia menina bobokan saya hampir 1 jam, tahu-tahu sudah Selamat Datang Kudus Kota Kretek. Kota yang dipenuhi pabrik rokok tersebut sambil bis naik menurunkan penumpang. Naiklah seorang musisi jalanan, seorang cowok, badan tegap, gagah dengan gitar kumalnya. Lagu pertama, entah karya siapa yang menceritakan penebangan liar di Indonesia. Kalau tidak salah lagunya Iwan Fals, dengan suara lantang lagunya dikumandangkan.

Selesai bernyanyi, dia mendeskripsikan lagunya tersebut “Bapak, Ibu, Mas, Mbak lagu tersebut menceritakan tentang exploitasi hutan di Indonesia, akibatnya banjir dimana-mana, kekeringan dan bencana alam lainnya, lihat jakarta banjir karena apa? di Bogor banyak dibangun vila orang kaya yang menggusur hutan hampir 80%, akibatnya jakarta direndam air. Siapa yang tanggung jawab….?”. Lagu dilanjutkan dengan karya E G Ade “perjalanan ini, terasa sangat…disampingku kawan”, seperti biasa dilanjutkan dengan bercerita.”lihat (sambil menunjuk gunung Muria disisi kiri bus) bagaiama kalau hutan disana dibabat habis, batunya di ambili, dalam ajaran agama dikatakan gunung sebagai penyangga bumi, bagaiama kalau dirusak, siapa yang akan menerima dan menanggung bencana ini, lihat bumi dilobangi sampai keluar lumpur panas, siapa yang tanggung jawab siapa yang merasakan?”.

Lagu terakhir ditutup dengan lagu tentang ketidak percayaan terhadap pemerintah yang tidak benar mengurus rakyatnya. Entah itu lagu siapa saya kurang begitu paham, dan di akhiri dengan kotbah “masih percayakah dengan pemerintah saat ini? lihat bukti rakyat masih miskin, butuh kerjaan,( termasuk saya), korban lumpur… bagaimana dengan yang kalian pilih, semoga tidak salah pilih”. Selesai semua dan anda layak dapat koin.

Saya begitu apresiasi dengan lagu dan cara membawakan karyanya yang diserati deskripsi dengan contoh yang mudah disertai ajakan positif. Cara meminta juga dengan santun. Jarang ditemukan pengamen dengan cara tersebut, sungguh kreatifitas musisi jalanan yang dapat acungan jempol dan keprok tangan.

Edisi selanjutnya….. Nasi Gandul khas pati…butuh karena terpaksa…

Salam

DhaVe
Rumahe Andi, 6 September 2009, 06:45

23 thoughts on “Pengamen Kadang Jadi Preman Kadang Melebihi Musisi (reportase hunting di Pati 1)

  1. Jadi inget kota kecil muntilan dan kota magelang. Kalau kita naik bus antar kota dan kebetulan mampir di kedua terminal ini, deretan selusin pengamen akan silih berganti menghibur (atau malah mengganggu) kita. Rasanya saya layak menjulki kedua kota tersebut sebagai kota pengamen hehehehe maaf buat warga muntilan dan magelang just kidding :)Saya juga sependapat dengan mas dhave dalam memberikan imbalan mereka. Seandainya ngamennya cukup bagus, tidak ngasal mereka layak dapat imbalan, tetapi kalau ngamennya ngasal ngga jelas lagu sama gitarnya, apalagi cuma satu lagu aja ga selesai saya abaikan aja, meskipun mereka suka setengah maksa mintanya.Dan saya yang paling tidak suka caranya mereka meminta imbalan ngamen dengan “tangan ngathung”. Di jakarta saja yang lebih kosmopolitan saya tidak pernah menjumpai pengamen meminta imbalan dengan cara seperti ini, kenapa di kota yang katanya masyarakatnya jauh lebih santun pengamennya justru lebih ngga sopan ya..Oh ya denger2 jalur sepanjang Solo Semarang juga jalurnya pengamen ya, bahkan kelakuan mereka lebih parah dibandingkan pengamen muntilan magelang. Dan konon pernah para pengamen jalur ini dirazia oleh polisi karena sudah sangat meresahkan para penumpang bus antar kota.Pengamen, di manakah duniamu sesungguhnya, sikap santun justru akan lebih menguntungkan daripada cara2 tidak simpatik, mengintimidasi dan sejenisnya yang akan semakin membuat kalian semakin dicap sebagai orang yang kurang lebih sama saja dengan preman.

  2. @sulysik; wow… analisa yang bagus Om… setuju dengan pendapat Om… Kadang kita mau sadar, buat apa mereka ngamen dan tujuan dari itu…? sedih juga melihat kota yang katanya santun, musisi jalananya seperti itu, apalgi ngathung dan ngoyok-ngoyok, sungguh menghilangkan kenyamanan perjalanan sudah lelah ditambah resah hahahaha…. makasih banyak Om..selamat hari minggu

  3. sulisyk said: Oh ya denger2 jalur sepanjang Solo Semarang juga jalurnya pengamen ya, bahkan kelakuan mereka lebih parah dibandingkan pengamen muntilan magelang. Dan konon pernah para pengamen jalur ini dirazia oleh polisi karena sudah sangat meresahkan para penumpang bus antar kota.

    hooh mas, dari semarang – solo bisa puluhan jumlahnya kalo dihitung2, naik turun ga ada hentinya.namun paling lumayan sampe salatiga…. biasanya dikota ini ada grup pengamen rombongan, musiknya bagus, lagunya oke dan tutur kata dengan bahasa daerah/indonesia yang cukup terpelajar meskipun mereka bukan dari kalangan pelajar… paling sedikit juga nyanyi 3 lagu, kadang malah ada penumpang yang request hehehehhee live music. Ga sayang kalo kasih lebih buat mereka :Dtapi kalo ketemu pengamen resek, ya mending pura2 tidur aja….dan kalo ga mau ketemu pengamen sama sekali lebih baik naik bus patas saja😀, hati2lah karena pengamen kadang juga “nyambi” dengan profesi lain2😀

  4. dhave29 said: Edisi selanjutnya….. Nasi Gandul khas pati…butuh karena terpaksa…

    aku paling penasaran dengan makanan khas pati yang satu initapi enggan untuk mencoba, karena katanya isinya banyak jeroan (ati, paru, dll)huwekssssss ga doyan aku…..

  5. dhave29 said: Edisi selanjutnya….. Nasi Gandul khas pati…butuh karena terpaksa…

    Jd inget Jogja-Solo ada ngamennya selalu lagu Ebiet n suaranya mayan mirip..Tp klo dah yg maksa2 gitu.. Wah, PPT dah mas.. Pura-Pura Tidur ajahh.. Hehee

  6. lalarosa said: hooh mas, dari semarang – solo bisa puluhan jumlahnya kalo dihitung2, naik turun ga ada hentinya.namun paling lumayan sampe salatiga…. biasanya dikota ini ada grup pengamen rombongan, musiknya bagus, lagunya oke dan tutur kata dengan bahasa daerah/indonesia yang cukup terpelajar meskipun mereka bukan dari kalangan pelajar… paling sedikit juga nyanyi 3 lagu, kadang malah ada penumpang yang request hehehehhee live music. Ga sayang kalo kasih lebih buat mereka :Dtapi kalo ketemu pengamen resek, ya mending pura2 tidur aja….dan kalo ga mau ketemu pengamen sama sekali lebih baik naik bus patas saja😀, hati2lah karena pengamen kadang juga “nyambi” dengan profesi lain2😀

    wow.. analisa yang bagus Mbak lala…. benar apa yang anda bilang, saya sering ngalahi saja naik patas walau sedikit mahal tentunya, tetapi acapkali pengin dan rindu bau keringat hehehe… makasih dan salam

  7. lalarosa said: aku paling penasaran dengan makanan khas pati yang satu initapi enggan untuk mencoba, karena katanya isinya banyak jeroan (ati, paru, dll)huwekssssss ga doyan aku…..

    hehehe…. tunggu besok pagi ya… sabar….

  8. angelinelex said: Jd inget Jogja-Solo ada ngamennya selalu lagu Ebiet n suaranya mayan mirip..Tp klo dah yg maksa2 gitu.. Wah, PPT dah mas.. Pura-Pura Tidur ajahh.. Hehee

    ya kalau memang bagus layak kita memberi apresiasi dari sebagian rejeki kita,k tapi kalau dah nyleneh dn aneh… dah diem saja… hehehe,, membangkitkan memori yach.. salam

  9. dhave29 said: @sole; makasih Om… besok tak aplot fotonya… ini upload pake ponsel hehehe.. sabar yach….

    nice posting, Mas…. jd pengen juga jadi petualang…Kalo saya ikut mungkin njenengan bakal malu kali ya? tiap ada pengamen bawain lagunya Didi Kempot dan pas saya tau dan hafal liriknya, biasanya kalo lagi kumat, saya ikutan nyanyi2…. hehhehee…

  10. dhave29 said: @sole; makasih Om… besok tak aplot fotonya… ini upload pake ponsel hehehe.. sabar yach….

    Jd inget tkg ngamen d metromini 76 dr blok m, bersuara mirip fadly padi n ganteng pulak. Ikhlaaas bgt ngasih duitnya. Hehehe…

  11. dhave29 said: @sole; makasih Om… besok tak aplot fotonya… ini upload pake ponsel hehehe.. sabar yach….

    @harataya; hahaha… bisa saja mbak Dyan… tak tinggal turu wae hehehe… nek ora begitu pengamene mudun, mbak tak suruh nyanyi didi kempot 1 album, ngko aku yang ambil saweran wes hehehe…. sewu kutooo..wes tak liwatiii… sampe gemporrr…

  12. dhave29 said: @sole; makasih Om… besok tak aplot fotonya… ini upload pake ponsel hehehe.. sabar yach….

    @viviana; mungkin fadli tuh lagi bokek… masak seh…? asal bagus dan masuk di ati.. saya perbuat seperti mbak kok…

  13. dhave29 said: @harataya; hahaha… bisa saja mbak Dyan… tak tinggal turu wae hehehe… nek ora begitu pengamene mudun, mbak tak suruh nyanyi didi kempot 1 album, ngko aku yang ambil saweran wes hehehe…. sewu kutooo..wes tak liwatiii… sampe gemporrr…

    tenan thaaaa?….hehehhehee…..

  14. harataya said: tenan thaaaa?….hehehhehee…..

    lho kan akhire ngamen bareng,,,, yo aja ngunu Mbak.. cukup di bathin saja nyanyinya,,, kalao bagus sih oke..lha kalo ndak pa… “mas temannya ya..” bakalan jadi petrus aku.. “ndak kenal tuh ” hehehe,,,,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s