Jahiliyah Pendidikan Masa Kini

Juni 1991, sebelum keberangkatan menuju Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Bapak bercerita tentang pengalaman masa kecilnya sewaktu menuntun ilmu.
“le..(nak).. jaman bapak masih sekolah sungguh sulit, nyeker (telanjang kaki), jalan kaki berkilo-kilo, buku 1 untuk semua pelajaran, spp sering terlambat, guru yang galak….”
Seolah kesengsaraan dimasa jahiliyah diceritakan semua, yang intinya berisi kejelekan, keburukan, kesusahan, kesengsaraan, kemelaratan, kebodohan dan semua yang dirasa tidak enak.

“sekarang sudah enak, sekolah dekat, spp mampu, buku banyak, dan tidak ada yang susah, tinggal belajar yang pintar” pesan Bapak sebelum kapal menyebrang dari pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah menuju Tanjung Emas, semarang. Hampir 24 jam terombang-ambing dilaut jawa diatas kapal motor Lawit.

Kelas 3 SD, hari pertama masuk sekolah. Busyet dah, kaya orang udik saya, bahasa tidak lancar (biasa pakai bahasa Dayak Indonesia campur Jawa), mental yang masih imbas-imbis (pemalu dan penakut). Saya mencoba untuk survive selama 1 tahun, dan hasilnya selalu duduk dipapan bawah (35 dari 36 murid), prestasi yang tidak buruk, karena saya tetap naik kelas. Kelas 4 sudah masuk papan tengah, baru kelas 5 dan 6 selalu diperingkat atas. Duduk dibangku SMP apes-apesnya 5 besar masuklah, begitu juga dengan SMA selalu 3 besar papan bawah (naik kelas terus hehehe…).

Bangku kuliah lebih hebat lagi, semester pertama IPK 1.97, seluruh keluarga menertawakan dan mencaci maki. Bak meniru ki Joko Bodo “kamu lahir sloso kliwon, tidak cocok kerja di air, cocoknya macul (nyangkul) saja”. Hinaan dan makian yang menjadi hiburan liburan semester, tetapi saya santai “lha SMA jurusan IPS kok ambil MIKROBIOLOGI”. Bagi orang, saya salah jurusan dalam mengambil mata kuliah, tetapi bagi saya sendiri, justru itulah yang terbaik (walau tidak nyambung sama sekali). Akhirnya setelah 7 tahun jadi mahasiswa, lulus juga hehehe… Sarjana Sains getuu lohh dan sekarang bekerja di laboratorium Mikrobiologi (nyambung kan?).

Nas sekarang berbicara kondisi saat ini, tentang para pelajar dan mahasiswa yang seolah menjadi fenomena gundukan tahi kebo (dilihat keren, dibongkar menjijikan). Pernah sekali saya diminta paman untuk menasehati anaknya yang tidak mau kuliah, karena tidak dibelikan mobil. Ponakan yang lain minta kuliah di Jogjakarta, Ponakan yang lain tidak mau kuliah, karena otaknya sudah membatu.

“kampret semua tuh ponakan” gerutu saya. Jadi teringat saat saya mau sekolah, nyebrang laut jawa, SD sehari dijatah 50 perak (1991-1995), SMP 150 perak (1995-1998), SMA perak (1998-2001), Kuliah 600ribu/bulan (2001-2008).
“Mas kuliah dikasih 600ribu/bulan kan banyak itu?” tanya ponakan.
“banyak ndok-mu (telur), 600ribu tuh termasuk Kost, makan, spp, sks, pulsa, dan semua, pokoke sebulan hidup-mati 600ribu pas” jawab saya.

“Lah kamu, tinggal kuliah saja, uang dikasih, makan ndak mikir, pulsa dijatah, motor disediakan, anggaran pacaran ada, minta laptop dikabulakan, kurang apalagi bradher….? dah tinggal jadi panitia pelaksana saja kan..!”. Sambil manggut-manggut, ngerti atau asal Om senang, saya kurang paham.
“masih banyak orang yang tidak seberuntung kamu (termasuk saya, yang mengadu keberuntungan) lahir dikeluarga yang berada dan mampu, banyak yang ingin sekolah, kuliah tapi pupus ditengah jalan karena biyaya dan kesempatan, ini kamu ada duit, kesempatan dan otakmu juga bisa di andalin ya tohh”.
“lah Om… kakean cangkem, lah sing nglakoni aku” (“Om..om.. ndak usah banyak ngomong, la yang jalanin aku”).
“djancook koe suuu…” dalam hati.

Selang berapa lama, ada sms dari ponakan “Om kesini bentar, tolong benerin komputer”, tak lama kemudian sms dari mama-nya “mas tolong bulik buatkan laporan untuk kabupaten”, selisih satu jam papanya nelpon “le tulong terjemahke boso enggres, aku ora mudeng”. Dalam pikiran… “orang kaya dan mampu kok tolol ya….?”.

Tidak sia-sia kuliah 7 tahun, SMU peringkat bawah, SMP 150 perak, SD imbas-imbis bisa menolong sodara yang lebih mampu. Tuhan maha adil buat si UCOK (uang cukup otak kurang) dan si OCUK (otak cukup uang kurang). Saya melihat dan membaca beberapa buku tentang entrepreneur atau pejabat, rata-rata sebagian besar berlatar belakang jahiliyah duit dan kesempatan. Situasi dan kondisi membuat semua menjadi kenyataan, tetapi disertai kerja keras dan doa. Lihat sosok Ciputra, Soeharto, Sanders, Sosro, Tirta… semua dari jahiliyah kesempatan dan kekayaan.

Mari kita cintai pekerjaan dan tetap kerja dan kerja, jangan lupa ibdaha dan hunting tentunya… salam semoga berkenan.

(terinspirasi dari kisah kawan yang coba ku tulis)
Salam

DhaVe
Pabrik Teri, 4 September 2009, 11:00

Advertisements

20 thoughts on “Jahiliyah Pendidikan Masa Kini

  1. wakakakakakaka ngakak habis saya bacanya.Memang mas, kadang2 kesempatan begitu besar orang tidakbisa memanfaatkannya, justru di sini orang yang susah malah jadi mampu untuk melihat dan memanfaatkan kesempatan yang ada seberapun adanya.Selamat mas, anda termasuk sangat luar biasa.

  2. dhave29 said: (terinspirasi dari kisah kawan yang coba ku tulis)

    … dan pada gilirannya menginspirasi banyak teman kan! Jadi inget seorang teman yang gara-gara keracunan terus siang malem jaga warnet agar dapet segera membeli DSLR. Syukur di jaman masih mendapati semangat juang jaman lalu. Hehe.

  3. dhave29 said: (terinspirasi dari kisah kawan yang coba ku tulis)

    @hearttone; Yups benar…. semoga api semangat terus menyala dan berkobar… dukungan dan inspirasi sebagai tetesan minyak sumber nyala… semoga bisa memberikan pencerahan… terimakasih banyak buat apresiasinya… salam hangat dan semangat.. (salam buat rekan yang jaga warnet buat beli SLR, saluuuud….)

  4. dhave29 said: (terinspirasi dari kisah kawan yang coba ku tulis)

    makane kudu ngeplak ae ndelok anake wong sugih ra gelem sekolah, padahal aku lek pengen sekolah nggenah, fasilitas lengkap,… kudu njungkel2 disik nggolek duwite, lha iki wis ono karek nggawe thok sik mayak djampoootttt… keplakono ae ponakanmu iku…

  5. bambangpriantono said: Hidup hunting!!!!

    @alex: bener cak… pengin tak kaploki.. lah bapake pulisi je hehehe… djancoook tenan je.. meh tak racoon wae jane… aku wae pada njengkine yen pengin sekolah… djampoot..Hunting apa tah? kudune kan sampeyan lebih mengerti tha… apalah daku. hehehee

  6. dhave29 said: jangan lupa ibdaha dan hunting tentunya…

    hahahah sama nih pengalamannya, kuliah cuma dikasih 200 rb per bulan , setiap harinya cuman makan nasi ama tempe……. n adek ku juga gitu gak sekolah ampek gede gini, padahal ayah mampu nyekolahinnya, pengen napok aja……………, bersyukurlah kita disini mau berpikir…dari pada gak mau berpikir kayak monyet, hahahahahhahahahah (kalo gini terus Indonesia akan jadi budidaya monyet dan asu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s