Egoisme Generasi Pancal Mubal Meruntuhkan Gunung

Naik, mendaki, memanjat gunung atau apalah namanya sudah saya kenal 11 tahun belakangan ini. Hampir 100 kali catatan pendakian menghiasi buku kumal yang selalu ikut kemana saja. Selama kurun waktu tersebut, sudah banyak yang berubah, baik kondisi alam dan manusia. Gunung sudah banyak berubah, bahkan ada yang melebihi tarif hotel, jalan sudah parah, sampah melebihi tingginya gunung. Faktor alam berubah drastis dari waktu ke waktu. Saya mencoba melirik ke faktor manusia, dan perubahan juga semakin drastis dan cenderung merosot

Naik gunung adalah aktifitas yang penuh dengan tantangan, perhitungan, kematangan dan idealisme. Bukan perkara mudah untuk naik gunung pada masa 90an, peralatan dan pengetahuan yang sangat terbatas dan menjadi rahasia kelompok penggiat alam bebas. Saya yang dali golongan proletar mencoba mencari cara bagaimana bisa naik gunung.

Dengan segala cara saya lakukan untuk mencari peralatan naik gunung. Tas ransel pinjem sodara yang sudah jadi veteran, senter pinjem penjaga pasar, celana lapangan pinjam tetangga yang jadi hansip begitu pula dengan sepatu boot-nya. Rantang ambil punya nenek, jaket kakek tak embat, baju lengan panjang milik Om, kupluk milik ponakan yang masih balita imut “mas pinjem bentar ya”, jas hujan pinjem sepupu yang jadi tukang ojek, matras motong tikar, logistik ngutil diwarung. Lengkap sudah dan bersiap berangkat DikSar.

Waktu berjalan, dan tidak ada perubahan tentang peralatan yang saya pinjam. Bahkan pernah thermos nenek, saya pinjem hanya untuk bawa air panas (mau beli nesting, parafin, dan kompor tidak mampu). Sleeping bag-nya mana? tidak ada, yang saya bawa sarung milik kakek dan selimut adik bayi. Tenda dome pinjem siapa? tak ada istilah tenda, yang ada hanya lembaran plasti transparan yang saya curi dari pasar. Bahkan pernah nyolong spanduk dijalan, trus dijahitkan untuk jadi tenda.

Masa-masa jahiliyah tersebut, tetap saya kenang dan ceritakan kepada teman dan rekan, bukan saya tutupi sebagai aib. Sungguh tahun 90an akhir, peralatan pendakian sangat sulit dicari, walaupun ada harganya tidak mampu saya jangkau. Dengan segala cara digunakan untuk bisa naik gunung dan berpetualang. Pernah bawa karung goni untuk alas tidur, alhasil kelabakan semua, ternyata bekas karung gula dan semutnya minta ampun. Dokumentasi, hanya dengan kamera film pocket manual, film isi 36 bisa digunakan 2-3 kali pendakian, dimana motret saat sampai puncak saja. Buku dan informasi pendakian juga terbatas, saya hanya cari dikoran, majalah, dan semua saya susun jadi kliping (masih tersimpan rapi :D).

Saat ini, ketersediaan alat pendakian semakin banyak ragamnya dan dengan harga yang terjangkau. Semua orang bisa beli dan memakai. Dahulu memakai celana lapangan (alpina.red) dengan stelan kemeja flanel kotak-kota dan topi rimba sudah bikin orang merinding, tetapi sekarang malah dicibir “jadul mas.. gaull…”. Sekarang jaman sudah berbeda, naik gunung memakai kaus, celana pendek, sandal, sungguh mirip ABG main di mall.

Seolah ilmu naik gunung yang diperoleh saat Diksar, telah hilang dimakan jaman. Keahlian navigasi seolah tidak penting lagi, kecakapan survival di anggap tidak penting dan menjijikan, mountenering seolah protokoler dan sebuah SOP belaka, komunikasi lapangan sudah digantikan signyal ponsel. Alam tidak selalu ramah dan bersahabat kepada siapa saja yang mencoba mencumbuinya. Disaat bersahabat tak ada aral melintang, tetapi disaat tidak bersahabat seolah tak berdaya menghadapinya.

Termanjakan oleh fasilitas dan keadaan acapkali menumpulkan atau meniadakan ilmu naik gunung, tak ayal kecelakaan di gunung sungguh luar biasa yang disebabkan faktor manusia. Pernah saya berpakain ala jadul, sepatu track, celana alpina, flanel kotak-kotak, topi rimba, ikat pinggang webbing+veld pless, terkesan aneh, tetapi itu standardnya. Coba perhatikan pakaian tentara, sejak jaman jadul sampai saat ini sama prinsipnya. Tentara bukannya tidak gaul, tetapi sudah menjadi acuan, walau acapkali ada beberapa modifikasi dan penambahan.

Melihat pendaki saat ini yang masih kencur, sungguh trenyuh sekali. Sikap dan tatakrama hilang ditelan jaman. Rasa solidaritas, kebersamaan, setiakawan, kekeluargaan sudah dipisahkan oleh tembok tenda dome, kehangatan sudah di batasi jurang sleeping bag, skill mengikuti rusaknya gunung. Idealisme pendaki gunung yang dicanangkan di makasar hancur sudah, digantikan keegoisan dan narsis untuk mencari pujian dan pengakuan.

Mengingat betapa susah dan mahalnya untuk menapaki satu persatu puncak tertinggi, mahalnya resiko yang harus dibayar, dan kehilangan banyak waktu hanya untuk menuntaskan ego. Apakah hanya akan ditebus dengan pengakuan, pujian dan kenarsisan ego. Sudah saatnya lebih bijak pada alam, agar bisa menjadi sahabat untuk bercengkrama. Berbuat sesuai dengan aturan dan porsi, niscaya generasi kita mendatang bisa merasakan apa yang kita nikmati dulu.

Mari naik gunung, temukan diri anda saat mencumbui lerengnya, merayapi tebingnya, menginjak puncaknya dan berbisik “ayo turun kembali pulang”.

Mendaki gunung bukan malah bagaimana sampai puncak, tetapi bagaimana turun kembali dengan selamat dan bijak… sang kekasih menunggumu….

Salam

DhaVe

Pulokapuk, 31 Agustus 2009: 23:30

20 thoughts on “Egoisme Generasi Pancal Mubal Meruntuhkan Gunung

  1. mendaki gunung… cuma 2x itupun kalo bisa disebut mendaki hehehehhehejaman sma waktu kemah pramuka naik ke candi gedong songo lewat lereng ungaran?beberapa bulan yg lalu naik ke gardu pandang puncak merapi di plawangan turgocuapek deh…….. aturan main yg tak pernah terucap “dilarang memetik tanaman apapun”

  2. “Masihkah terbersit asaAnak cucuku mencumbui pasirnyaDisana nyalimu terujiOleh ganas cengkraman hutan rimbaBersama sahabat mencari damaiMengasah pribadi mengukir cinta”(Mahameru, Dewa19)

  3. @alexhamznaik…naik kepuncak gunungtinggi..tinggi..sekali…kiri kanan kulihat saja…banyak jurang menganga…depan belakang..kulihat sajabanyak sahabat alam….(ayo kutunggu di merbabu)

  4. @alexhamznaik…naik kepuncak gunungtinggi..tinggi..sekali…kiri kanan kulihat saja…banyak jurang menganga…depan belakang..kulihat sajabanyak sahabat alam….(ayo kutunggu di merbabu)

  5. @amsi: Pancal Mubal, dari kata Pancal: mancal–> nyalakan motor dengan kick… Mubal: air bening jadi keruh, atau udara bersih jadi kotor. Bisa saya artikan Pancal Mubal: kaya motor starter dengan dipancal..masuk gigi 1 langsung gas kenceng, jadi gak ada pemanasan mesin, hidupin lampu, pake helm dll. Artinya, naik gunung tinggal naik gunung tanpa adanya persiapan dan pengetahuan yang matang…. akibatnya… good luck hehehe… paham Mas… semoga dan salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s