Hijaunya Rumput Istana Bersiap Mengkhianati Profesi

Siapa yang tidak mau dan merasakan nikmat. Kata orang kenikmatan adalah tiba saat keluar dari suatu masalah. Dapat saya contohkan beberapa versi kenikmatan menurut saya; garuk ditempat dan tepat yang gatal, bisa bersin dan kentut, ketiduran di bus, dan dapat undian 1 miliar rupiah serta masih banyak lagi yang lain.

Saat ini yang membuat saya sedikit berkerut kening adalah, bagaimana menikmati pekerjaan. Pekerjaan adalah pilihan hidup dan bebas dipilih siapa saja, tetapi ada satu sisi yang memaksakan dengan alasa fulush. Kalau duit sudah berbicara mau apalagi, nikmat ndak nikmat yang penting bayaran di akhir bulan. Bagi kebanyakan orang, sangat sulit menemukan pekerjaan yang cocok, masuk keluar antar perusahaan adalah hal yang biasa dan wajar, kecuali Pegawai Negri Sipil yang hidup mati ikut penguasa apapun pekerjaannya.

Di instansi swasta dengan keberagaman profesi memberikan peluang bagi yang bernasib buruk karena tidak diterima sebagai PNS. Selepas melepas masa lajang universitas dengan gelar Diploma,Sarjana atau Master (kalau Doktor mending jadi dosen saja) mulailah menjadi Job Hunter. Dengan modal legalizir ijazah dan selembar surat penawaran diri dengan CV terlampir dan terbungkus amplop cokelat mulai disebarluaskan di perusahaan-perusahaan berharap belas kasihan dari HRD. Selepas sekian lama menunggu panggilan yang tak kunjung datang, akhirnya netes juga telor menjadi seorang karyawan.

Selesai training dan tanda tangan kontrak, baru merasakan nikmatnya menjadi karyawan yang sebenarnya. Seiring berjalannya waktu dan jejaring yang kuat, maka mulai lirik sana lirik situ tentang peluang lain. Pepatah “rumput istana lebih hijau” memang ada benarnya, walau acapkali tertipu oleh paving yang dicat hijau atau rumput sintesis. Beberapa perusahaan memang seperti itu dalam mencari pegawai yang akan dipekerjakan, istilahnya “budak belian”.

Hunting koran, dan laman-laman dunia maya dilakukan untuk mencari peruntungan yang lebih baik tentunya. Keserakahan dan kesetian karyawan di uji dengan gelar “memperbaiki nasib”, walaupun dari awalnya perusahaan yang telah mengentaskan dari jurang pengangguran. Andaikata perusahaan bisa berbicara “djancoook pengkianat”, tetapi ada juga yang berbicara “lekaslah pergi penjahat”.

Saya kadang sedikit trenyuh melihat ketamakan rekan-rekan setiap harinya. Acapkali kulirik saat kirim di surat elektronik terpampang jelas, judul: application letter, Lampiran: CV, ijazah dll. Iseng saya bertanya
“kok tiap hari nglamar, apa gak bosen ntuh”.
“ya… namanya juga usaha, sapa tau ada yang nyantol” jawabnya…
“lho padahal sudah 2 tahun kok gak ada panggilan”
“ya belum beruntung saja kalii.. coba terus” timpalnya
Busyet dah, gila bener hampir 2 tahun njaring kok tidak ada yang nyangkut sama sekali. Dalam hati “huff…. nyesel aku narik loe masuk ketempat kerjaku, kalau tiap hari menjala lowongan”.

Kesetian terhadap sebuah profesi dipertaruhkan dengan kebun yang lebih hijau dan rimbun. Saya merasa aneh saja, sudah diperjuangkan walau dengan kolusi dan nepotisme tetap saja statusnya bukan karyawan tetapi masih dengan job seeker. Istilah batu loncatan syah-syah saja, tetapi yang namanya profesionalisme tetap di utamakan dan jangan pernah setengah hati terhadap suatu pilihan, benak saya mulai bergejolak. Pernah juga terpikir, “kick out saja” tetapi hati nurani berbicara “lha 2 tahun nglamar saja tidak pernah dapat, apalagi tak tendang, gembel-gembel dah”.

Kucoba menikmati dan back-up job beliau agar tetap jalan roda data di perusahaan. Gaji menjadi alasan klasik yang dipanggulnya untuk job hunter, tetapi bisakah dian menikmati salary yang dia terima. Pesan dari Mario Teguh menjadi pegangan saya; “bekerjalah dengan sepenuh hati dan iklas, terimalah gajimu dan mengucap syukurlah, karena itulah rejeki dari Tuhan yang dititipkan lewat perusahaan”. Tuhan tidak pernah salah kasih rejeki, lha dapat pekerjaan yang sesui dengan bidang keahlian adalah bonus dari Tuhan, sekarang bagaimana menikmati dan berbagi bonus tersebut.

Bekerja dengan sepenuh hati dan iklas apakah sudah ditanamkan dalam benak? buat apa gaji melimpah kalau tidak damai sejahtera dan tidak bisa menikmati hehehe….?. Saat ini kuterima apa yang ada, gaji cukuplah untuk status single, bisa terus berkarya dan belajar, bisa ijin sewaktu-waktu, bisa bolos tanpa ada yang memarahi, bisa hunting foto setiap saat, make internet kantor tanpa ada yang negur dan yang terpenting bisa memakai kaos dan jeans dibalut sepatu gunung.

Disaat karyawan lain harus berpenampilan formal, saya cukup bersembunyi dibalik mikroskop laboratorium, padahal online dan maenan photosop. Tak ada yang berani menjamah laboratorium dan saya penghuni tetapnya, sebab dipintu ada tulisan “DANGER BIOHAZARD”, padahal aslinya “Pemulung di Larang Masuk”. Saat karyawan lain harus presensi dengan checklock saya cukup rapelan 1 bulan tanda tangan, pulang kerja baris rapi saya cukup lewat pintu belakang sambil gendong Mountain Bike dan kalungan DSLR syap untuk hunting.

Kucoba mengenalkan dan meracuni karyawan lain “betapa nikmatnya bekerja”, lah tidak mempan sama sekali. Yang ada diotak mereka hanya duit, kerja enak dan masa depan cerah.
“Ya sudah, silahkan klik jobstrit dot kom dan nglamar terusss.. kerjaan tuh kelarin,aku tak naik gunung dulu byeee preennn”

Sudahkah anda menikmati apa yang menjadi pilihan anda, apabila anda belum bisa berarti “terpaksa oleh keadaan”
Bekerja sepenuh hati dan pikiran, iklas juga tentunya dan syukuri apa yang diperoleh….

salam

DhaVe
Lab Mikro, Wako-

Advertisements

21 thoughts on “Hijaunya Rumput Istana Bersiap Mengkhianati Profesi

  1. jadi inget seorang lulusan Fisika perguruan tinggi negeri yang akhirnya jadi “Pekerja Desain”, menurutnya bakat cuma 1% yang 99% adalah kerja keras! Kerja Keras inilah yang akrirnya mengubah jalur hidupnya dari seorang Scientist ke pekerja seni (baca: Desain) dan mendedikasikan hidupnya (bekerja, mengabdi dan membagikan ilmu) pada dunia desain. karena ketika bekerja, dia sangat “mnikmati” setiap proses mencipta dan berbaginya. dan setiap ada yang tanya “Kok lulusan Fisika bisa ngajar desain..eduan tenan”. dan setiap kali itupula dia tersenyum.. heheheheeee… Kerja Keras dan bisa menikmati serta mensyukuri yang kita kerjakan insyaAllah nantinya akan menjadi berkah dan manfaat bagi kita dan orang laen. Ginbate Kudasai…

  2. dhave29 said: @manja80; yups setuju Mbak hehehe… nie aja masih dikantor… yang lain sudah ngacirr… kampret dah.. pulang tepat waktu..datang molor..”busyet dahhh…”

    sabarrr pasti klo sabar disayang Tuhan he he he

  3. dhave29 said: @manja80; yups setuju Mbak hehehe… nie aja masih dikantor… yang lain sudah ngacirr… kampret dah.. pulang tepat waktu..datang molor..”busyet dahhh…”

    saya cuma pembantu usaha ortu, jualan gorengan, ga punya kerjaan tetaptapi untunglah dari yang kecil itu keluarga tetap bisa bertahan.dan dari situ aku berhenti mencari kenikmatan apalagi kepuasan karena sebenarnya yang bisa membungkus keduanya hanya kedamaian

  4. dhave29 said: @manja80; yups setuju Mbak hehehe… nie aja masih dikantor… yang lain sudah ngacirr… kampret dah.. pulang tepat waktu..datang molor..”busyet dahhh…”

    @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

  5. dhave29 said: @manja80; yups setuju Mbak hehehe… nie aja masih dikantor… yang lain sudah ngacirr… kampret dah.. pulang tepat waktu..datang molor..”busyet dahhh…”

    @manja80: yie mBak… udah kelar nie… mau kopi darat teman MP hehehe…. mau?

  6. dhave29 said: @manja80; yups setuju Mbak hehehe… nie aja masih dikantor… yang lain sudah ngacirr… kampret dah.. pulang tepat waktu..datang molor..”busyet dahhh…”

    @alexam; yups anda benar… jadi inget pertama ketemu dan mojok di greja blenduk hehehee….. Einstein yang merubah hukum relativitas menjadi hukum kekekalan fotografi “no rule just good photography” hehehe.. cen edan tenan cak…

  7. dhave29 said: @manja80; yups setuju Mbak hehehe… nie aja masih dikantor… yang lain sudah ngacirr… kampret dah.. pulang tepat waktu..datang molor..”busyet dahhh…”

    @trineptun; terima kasih… hanya merasakan dan menikmati apa yang ada sajah… hehehe… salam…

  8. dhave29 said: @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

    kalau kita ihlas, menjalani apapun bisa jadi nikmat. nah, ihlas ini yang gak gampang…-omongane bakul-

  9. dhave29 said: @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

    @nakamura: hemmm… ada betulnya juga Om… bakul yang bijak hehe.. salam dan selamat hari minggu…

  10. dhave29 said: @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

    dhave…., kalau pas kaya gini…. rasanya saya terlalu tua untuk sampeyan panggil om. Falsafa jawa “Nrimo ing Pandum”, masihlah valid dialam hidup yang serba hedonisme, yang lebih menitikbetakan keberhasilan seseorang pada karir jabatan, harta yang berlimpah…” Bukan sekedar pasif menerima keadaan tanpa usaha, tetapi ketika kita selalu mengucap syukur atas apa yang Tuhan berikan maka segala sesuatu dan keadaan akan terasa nikmat karena semua itu berkat Tuhan. ya nggak?

  11. dhave29 said: @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

    3ojo: Mas saja yoh…?bener Mas saya setuju dengan pendapatnya… ajari saya untuk selalu bisa bersyukur dengan apa yang ada…. salam (lagi ngesot di Banaran kafe, habis hunt di rawa pening).

  12. dhave29 said: @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

    disitulah kesabaran qta diuji..bersyukur dgn apa yg qta punya saat ini..Tuhan gk akan salah kasih rejeki bg umatnya..cukup adalah perkara hati bkn diukur dgn materi yg ada pd qta..te2p semangat..

  13. dhave29 said: @lala; hehehe… damai sejahtera, pengharapan dan ucapan syukur tentunya… setujuu mbak… ntar pas hanting… bawain gorengannya ya hehehe…

    @tjah; setuju mas Cahyoo… makasih buat apresiasinya.. dan semangat buat Mas juga.. salam

  14. dhave29 said: Sudahkah anda menikmati apa yang menjadi pilihan anda, apabila anda belum bisa berarti “terpaksa oleh keadaan”Bekerja sepenuh hati dan pikiran, iklas juga tentunya dan syukuri apa yang diperoleh….

    Aku senang kalimat itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s