Sapi Lebih Suka Makan Tempe..?

Slogan 4 sehat 5 sempurna, sudah menjadi makanan kita sejak kecil dalam wujud teori diatas kertas, realitanya mungkin tidak seperti yang diajarkan. Ada kalangan yang menjadikan 4 sehat 5 sempurna sebagai menu sesehari, adapula yang 2 sehat 3 krupuk (nasi, kecap, dan krupuk). Idealisme, pemenuhan gizi tersebut yang sekarang menjadi fenomena. Munculnya busung lapar yang diperhalus gizi buruk, nasi aking yang diperahalus nasi afkir dan lain sebagainya.

Dibutuhkan pangan alternatif dan murah, tetapi memiliki nilai gizi dan kwalitas yang tidak kalah dengan yang berharga mahal. Protein adalah salah satu sumber pemenuhan kebutuhan akan nutrisi. Tubuh mutlak membutuhkan protein untuk pembentukan dan pemeliharaan sel serta pertumbuhan. Dari namanya saja sudah terdengar wah, orang beranggapan protein berhubungan dengan daging, keju, susu dan telor. Berbeda dengan karbohidrat, dengan mudah diasumsikan dengan beras, singkong, gaplek, jagung dan semua terkesan murah.

Saat ini begitu prihatin melihat balita-balita yang kekurangan gizi, padahal ditempat tinggalnya melimpah sumber protein. Kekurang tahuan pengelolaan dan pemanfaatan sumber protein menjadi kendala tersendiri. Bagi sebagian balita, sebagian besar kebutuhan protein dipenuhi dari susu, daging dan telur. Nah bagaimana dengan bebijian yang ternyata kaya akan protein. Sebut saja, kedelai, kacang hijau, kacang merah dan lain sebagainya.

Saat ini saya coba bagikan susu yang berasal dari bebijian. Kalau mendengar susu dan kedelai langsung disangkutkan dengan susu kedelai, anda tidak salah dan belum tentu benar. Susu kedelai yang saat ini dikenal dkalangan masyarkat memang memiliki kelebihan dan cirikhas tersendiri dibanding susu sapi, seperti; bebas lemak dan kolesterol, tidak amis, murah dan bebas lactotoleran*.

Pepatah mengatakan tingginya gunung, masih tinggi langit, begitu juga dengan susu kedelai. Susu kedelai menyebabkan flatulensi (sebah, kembung akhirnya duuut….), yang larut protein, dan bau langu (bau khas bebijian). Nah untuk mengatasi kelemahan susu kedelai, maka terciptalah susu tempe.

Tempe atau kedelai busuk dan berjamur sudah dikenal ribuan tahun yang lalu di negri China, dan pada akhirnya menyebrang di Republik ini berkat mobilisasi pedagang. Tempe penyet, tempe goreng, tempe bacem mungkin sudah banyak yang kenal, bagaimana dengan susu tempe. Aneh dan nyleneh, tempe kok dibuat susu.

Kita kupas teorinya terlebih dahulu agar bisa diterima secara logika dan akal sehat. Proses awalnya kedelai di rebus, dikupas dan dikukus, setelah itu kedelai ditaburi ragi (Rhyzopus). Nah ragi tersebutlah sebagai biangkeroknya kedelai menjadi berjamur. Bukan proses berjamurnya kedelai yang ditandai dengan adanya benang-benang putih dipermukaan, tetapi lihat lebih jauh kedalam.

Pada saat pertumbuhan dan perkembangan ragi, maka terjadi proses biokonversi, yaitu merubah protein menjadi asam amino. Pemecahan protein menjadi materi sederhana yang disebut asam amino menjadi yang terpenting. Tubuh akan lebih mudah menyerap asam amino daripada gumpalan protein. Untuk menyerap protein, saluran pencernaan harus bekerja keras mensekresikan enzim protease untuk mengkonversi protein.

Apabila dihitung nilai efektifitasnya, maka tempe lebih tinggi nilainya. Nah bagaimana bila tempe dibuat susu…? Tata kerjanya cukup sederhana, yaitu dengan mengancurkan tempe dengan diblender sambil ditambah air secukupnya, setelah itu di rebus dan disaring. Suspensi susu tempe bisa ditambahkan aneka rasa sesuai selera dan rasanya pun sedikit unik bagi yang kebal rasa nyleneh. Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan susu tempe, memiliki kekurangan yaitu; tingkatan palabilitas (kesukaan) yang rendah dan diluar kelaziman.

Kedepannya susu tempe akan ditambah suspensi prebiotik dan bividobacteria. Kedua jenis bakteri tersebut yang saat ini digandrungi sebagai mikroba untuk memperbaiki proses pencernaan. Nilai tambah dari sebuah tempe akan ikut terangkat, bukan hanya sebagai makanan kelas bawah, tetapi akan menjadi hidangan yang mewah namun murah.

Susu tempe+probiotik+bividobacteria sudah diseminarkan dalam Indonesia Microbiology Society, 2005, sehingga sudah tidak lagi diragukan. Semoga bermanfaat buat semua…

Salam

DhaVe

Emperan Kost, 27 Agustus 2009; 21:15
*lactotoleran; tubuh tidak bisa menerima gula susu (lactosa), dan akibatnya mual, diare….

Advertisements

4 thoughts on “Sapi Lebih Suka Makan Tempe..?

  1. banyuireng said: lha anak ku umur 3,5 tahun lebih suka nggado tempe daripada makan nasi dengan lauk nya šŸ˜€

    @lalarosa; yups materialnya sama, tetapi efektifitas daya cerna berbeda… bagusan tempenya, saya kira begitu, tetapi tergantung selera saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s