Baris Saja Pletat-Pletot Masak Mau Angkat Senjata

Sudah hampir 10 kali saya melewatkan momment 17an tanpa melihat upacara kemerdekaan. Selama kurun waktu 10 tahun tersebut, saya gunakan untuk naik gunung dan mengarungi hutan belantara. 17an dipuncak gunung terasa memiliki rasa tersendiri dibanding mengikuti upacara dibawah yang seremonial.

Rasa nasionalisme dan cinta tanah air bisa diwujudkan dalam semua hal, termasuk dengan pendakian proklamasi. Mengibarkan sang saka merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipuncak gunung memberikan sensasi tersendiri. Perjuangan dari titik terendah berakhir dititik tertinggi. Peluh keringat dan deru nafas adalah harga yang harus dibayar.

Perjuangan saya dan teman-teman pendaki untuk mencapai puncak gunung adalah hal yang sepele dan ringan apabila dibandingkan dengan para pejuang kita. Merebut puncak gunung ternyeta lebih mudah daripada merebut kemerdekaan yang dikoyak penjajah. Kami hanya mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga, tetapi pejuang kita, nyawa, masa depan, keluarga dipertaruhkan untuk dijadikan jaminan Indonesia Merdeka.

Bangsa Yang Besar Adalah Yang Bisa Menghargai Jasa Pahlawannya, kata-kata itu yang terngiang dibenak saya. Nah bagaimana cara menghargai jasa Pahlawan kita..? Saya mencoba menapaki pinggiran jurang untuk merenungkan kata-kata tersebut. Mengisi kemerdekaan menjadi tugas kita sebagai penikmat buah kemerdekaan.

Saat saya iseng menyaksikan tayangan ulang upacara bendera di stasiun televisi, ada hal kontras yang terlihat. Para veteran yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia begitu khidmat dan bersemangat dalam mengikuti upacara. Gurat nadi perjuangan terlihat dari mimik muka yang bangga melihat sang saka merah putih melambai di angkasa. Tangan renta mereka masih tegap untuk memberi hormat, kedua kaki masih kuat berdiri untuk menyangga kemerdekaan ini. Sungguh luar biasa saya menyaksikan kakek-kakek saya yang menjadi saksi bagaimana perjalanan Republik ini.

Hal kontradiktif terlihat dari barisan disebelahnya, para siswa sekolah dan pegawai negeri sipil (PNS). Mereka terlihat terpaksa dalam mengikuti upacara bendera, terlihat dari cara mereka berdiri, memberi hormat dan sikap. Baris saja “pletat-pletot” tidak lurus, hormat tidak tegap, berdiri dengan tidak sikap sempurna.

Anak sekolah seharusnya dibeli pelajaran lebih untuk belanegara, cinta tanah air dan nasionalisme, begitujuga dengan PNS. Lha tinggal ikut upacara, tidak perlu angkat senjata dan menjadi tameng untuk republik ini, kok masih susah. Saya setuju adanya wajib militer di Indonesia, atau pendidikan bela negara untuk para anak sekolah. Sedang untuk PNS perlu dihajar dicamp militer untuk bisa tahu betapa berharganya gaji mereka yang jutaan rupiah dibanding rupiah yang diterima para veteran perang.

Saya mencoba menggaris bawahi, untuk mengisi kemerdekaan tidaklah mudah. Ikut upacara saja yang tidak lebih dari sekian jam saja tidak becus, apalagi dengan hal yang berat. Apa yang harus kita perbuat untuk Republik tercinta yang semakin renta dan terkoya ini?. Akankah kita akan mengangkat senjata dan mengenakan rompi perang, atau hanya mengikut kemana arus penjajah mengalir. Semua hal yang baik untuk Republik tercinta bisa kita lakukan sekuat apa yang bisa diperjuangkan.

Salam dan selamat ulang tahun INDONESIA…. MERDEKAAAA….!!!!

Salam

DhaVe

Lereng Merbabu, 20 Agustus 2009, 06:20

12 thoughts on “Baris Saja Pletat-Pletot Masak Mau Angkat Senjata

  1. @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

  2. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    merdeka dalam arti apa nih yaaah?merdekanya indo bikin bingungya ttp saja spt itu…………………merdeka lagi yaaahhwkkwkwkwkkwkwkkwk

  3. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    @lave; merdeka dalam segala hal hehehe…. pokonya merdeka dah.. minimal memerdekakan diri sendiri dulu aja… hehehe salam….

  4. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    Ayo optimis…banyak sisi positif dr bangsa ini yg bisa kita share🙂

  5. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    @trineptun; setuju…. mari kita perbuat hal yang baik buat Indonesia… salam

  6. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    “Lanjutkan!” Oops salah, maksudnya “Laksakan!” hehe..

  7. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    mending k gunung aj drpd upacara pletat pletot..he…

  8. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    @vivi… syap laksanakan….

  9. dhave29 said: @lave; mbak kemarin saya baru turun gunung, mendaki selam 3 hari, jadi disana tidak ada leptop, sinyal gprs buat ngnet, jadi sekarang dah baru aplot… ya lebih baik terlambat yang penting tetap merdeka dan merdeka…hidup Indonesia… MERDEKA…..

    @tjah..; hehehe setuju mas… tak jamin kalo digunung biar kaki mletot juga hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s