Sengsara Di Merbabu (Reportase & Catatan Perjalanan Pendakian Merbabu 17an)

Sabtu 15 agustus jam 16.30 kita bertemu di Meeting Point rumah rekan kami di Getasan. Disana sudah berkumpul Gunadi yang empunya tuan rumah, Taufik, Siti, Andi, dan Dani. Kurang satu peserta yakni Dinar yang belum tau dimana rimbanya dan dari pesan yang masuk, dia nanti minta di jemput di kopeng.

Dengan truck pick-up kami di antar menuju Basecamp Cuntel yang berjarak sekitar5 km dari Getasan. Sesampai di kopeng saya dan Andi segera turun untuk menjemput dinar di rumahnya. Ternyata Dinar sudah siap packing dan tinggal berangkat, tidak lupa menitipkan si kecil ke neneknya.

Perjalanan malam kian larut menuju basecamp dengan ketinggian 1600mdpl, dan sekitar pukul 18.30 kami sudah sampai di Basecamp dan langsung disambut senyuman ramah sang tuan Rumah Pak Partono dan Pak Yakub. 6 gelas susu cokelat menjadi jamuan selamat datang di basecamp Cuntel yang nampak hangat oleh rasa kekeluargaan.

Kami kembali packing untuk menata barang-barang bawaan kami yang cukup banyak kali ini, karena rencana untuk 3 hari pendakian. Satu persatu kami pilah barang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan tenaga untuk mengangkutnya.

Jam 20.00 kami berpose sebentar sebelum meninggalkan basecamp untuk menuju Pos Bayangang II yang akan kita gunankan untuk camp hari pertama. Setelah berpamitan dengan Pak TOno dan Yakup, rekan pendaki lain kami berjalan menembus kabut Gunung Merbabu di kegelapan. Kami berjalan beriringan dengan lampu senter ditangan, sambil di isi obrolan dan celotehan yang mengiringi perjalanan ini.

Perjalanan menuju POs Bayangan I dengan ketinggian 181mdpl cukup memakan tenaga, dengan jarak tempuh yang cukup jauh. 30 menit waktu yang kami butuhkan untuk berjalan di gelapnuya malam. Sesampai Pos I Taufik dan Siti memutuskan jalan duluan, saya, Doni, Andi dan Dinar istirahat sebentar, karena bawaam kami yang cukup berat dan banyak.

Setelah istirahat sejenak kami berjalan kembali melewati hutan campuran untuk menuju Pos Bayangan II yang berketinggian 2070 mdpl. Sekitar jam 21.10 kami sudah sampai di Pos Bayangan II, Taufik dan Siti juga sudah sampai. Segera kami mendirikan tenda digelapnya malam, kerjasama tim sangat dibutuhkan untuk merangkai kerangkan dan tenda menjadi bangunan yang hangat.

2 tenda sudah berdiri dan saatnya kami menjalankan yang menjadi tujuan utama kami. Memanjakan perut dan nafsu makan menjadi acara selanjutnya. Menu pertama adalah teh hangat dan kopi, kemudian di susul nasi goreng+telor+teri nasi. Makanan penutup kami adalah tempe mendoan dan teh hangat sebagai pengantar obrolan malam. Nampak keahlian kaum adam disini, Andi pintar dalam meracik bumbu dan menu, Dinar jago menggoreng mendoan, Dani nafsu sekali dalam membuat minuman hangat, saya spesialis nasi goreng tanpa cabe, sedangkan Taufik dan Siti kami manjakan dengan jamuan dari kami.

malam semakin larut, kami segera masuk ke tenda kami masing-masing. Dengan kantung tidur yang hangat membelai kami dalam dinginnya udara Merbabu. Dalam nyenyaknya tidur Andi di kejutkan “EKSPEDISI” teriakan Dani sambil mengigau. Malam semakin larut dan kami masuk dalam alam mimpi masing-masing.

Minggu 16 agustus pukul 06.00 kami mulai menggeliat dan pelan-pelan keluar dari kantong tidur. Gosok gigi, cuci muka sambil gerak-gerak badan sedikit. Segera kami membentuk formasi lingkaran di dapur untuk mempersiapkan makan pagi kami. Menu pagi ini, teh dan kopi hangat, tumis sawi, nasi hangat, pizza teri ala kadarnya. Kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Dani dan Dinar membuat minuman, Andi dengan urusan Nasi dan tumis sawi, saya pizza ala kadarnya, Taufik bermain dengan camcoder dan handy talkinya, siti rapi-rapi tenda. Sungguh suasana yang selalu kami rindukan.

Selesai masak kami kembali membuat formasi lingkaran ala suku pedalaman. Nasi kami tumpahkan ditengah-tengah dan dikelilingi oleh lauk pauk dan minuman hangat. Bendera start dikibarkan dan kami sibuk dengan tangan dan mulut kami untuk menyikat habis apa yang didepan kami. Kami merasa ada sensasi yang berbeda, apabila menilik yang dibawah sana dimana egoisme piring bisa membuat sesamanya kelaparan, tetapi disini kami merasakan sama rasa sama rata tergantung selera.

Selasai makan, kami menjalankan tugas masing-masing, mencuci piring, membereskan alat masak dan membenahi apa yang dikira tidak benar. Tidak ada yang menganggur dan berpangku tangan, semua bekerja sesuai apa yang dilihat dan dilakukannya. Semua sudah beres, kami kembali ketenda untuk bercengkrama, baca komik, dengarkan musik, ngopi, atau ngobrol lewat handy talkie. Jam 09.00 taufik memutuskan untuk naik duluan menuju puncak bersama Siti, kami nanti akan berencana menyusul dan membuat camp II di Pos II. Kami berpisah dengan handytalkie di tangan untuk tetap berkomunikasi diperjalanan.

Jam 9 mas Taufik dan Siti melanjutkan perjalanan dengan membawa bekal untuk satu hari perjalan. Rencana kami adalah, nanti kita bertemu di pos II, dan kalau ada waktu saya akan menyusul menuju puncak. Sesaat kemudian kami segera berkemas untuk menuju Pos II untuk membangun camp2. Beban kami semakin bertambah, sebab ransel Taufik dan Siti ditinggal, mereka hanya membawa daypack kecil. Kami terpaksa membawa tas depan belakang agar semua terangkut.

Perjalanan menuju pos I Watu Putut yang berketinggian 2145 mdpl membuat nafas terputus-putus, tetapi kami terus bersemangat, sebab segera menemukan tempat yang indah di Pos I. Hampir 20 menit kami berjalan, dan akhirnya sampai juga di Pos I. Disana pemandangan sudah terbuka dengan hamparan lembah yang luas dan beberapa pohon peneduh. Kami merasa betah sekali, dan menjadikan tempat favorit untuk bermalam. Hampir 30 menit kami istirahat dan sudah tiba waktunya untuk naik lagi.

Menuju Pos II lebih menanjak jalurnya, sambil diselingi semak belukar kami terus melangkah. Sempat beberapa kali kami istirahat untuk melemaskan otot kaki. Jam 11.15 kami sampai di Pos II Kledokan 2300 mdpl. Segera kami bangun tenda ditanah datar yang agak luar, sedangkan Dinar mendapat jatah mengambil air di lembah.

Sekitar 15 menit tenda sudah berdiri, Dinar juga belum kembali. Saya menuju punggungan untuk melihat track yang dilalui Dinar, sambil teriak saya memanggil Dinar, tetapi tidak ada jawaban. Kami menunggu dengan sedikit cemas, dimana Dinar tidak terdengar suaranya. Hampir sati jam kemudian Dinar datang sambil tergopoh-gopoh, dengan 1 jerigen 5 liter dan botol air mineral 1,6liter. Dengan tubuh basah kuyup keringat, Dinar bercerita kalau sumber mata air di Pos II kering dan terpaksa turun di Pos Bayangan II tempat camp tadi malam, Sungguh acungan jempol untuk sebuah tanggung jawab.

Siang itu kami memasak untuk makan siang. Andi mengusulkan untuk membuat mie goreng dan teh hangat, sungguh menu yang tepat untuk menyambut kabut yang mulai turun. Mie kami rebus lalu kami tiriskan, kemudian kami goreng dengan tambahan bawang merah, ikan teri, dan bumbu penyedap. Dinar dan Dani sebagai koki sungguh luar biasa dalam berkolaborasi, saya dan andi cukup menunggu air mendidih untu 4 cangkir teh hangat dan kopi. Akhirnya jadi juga apa yang kami tunggu dan nikmat sekalai makan siang kali ini. Udara semakin dingin dan berkabut, kami mengenakan jaket dan segera masuk tenda. Dinar dibalik selimut bermain dengan HT, Dani sibuk dengan komik Hacker, Andi meringkuk dalam sleeping bag, saya asyik dengan kamera.

Sore berlalu dan tidak terasa kami terlelap tidur, diluar Dinar nampak membuat perapian bersama Andi. Saya segera menyusul keluar walau hanya sekedar menghangatkan badan. Menu di dekat api unggun adalah Teh Trasan. Teh Trasan adalah daun
teh hijau segar yang direbus dalam air mendidih dengan ditambah sedikit garam. cara menikmati cukup unik, karena memakai gula jawa atau gula batu sambil dikunyah. Sambil ditemani biskuit dan Teh Trasan kami bercengkrama mengelilingi perapian. Badan hangat perut kenyang.

Pukul 17.00 kami kontak HT taufik tetapi tidak tembus sama sekali, sedikit sanksi dengan kondisi cuaca yang ada. Saya dan Andi memutuskan untuk naik menuju Pos III Kergo Pasar 2492 mdpl. Tujuan kami berdua adalah untuk menyusul Taufik dan Siti dan mengejar momment matahari tenggelam. Setelah sekitar 10 menit berjalan, kami mengdengar taufik mengontak melalui pesawat HT. Ternyata Taufik dan Siti baru saja turun dari Puncak Kenteng Songo 3142 mdpl. Hal yang tidak diinginkan terjadi, baterey HT saya drop dan tidak bisa di gunakan untuk komunikasi. Akhirnya saya dan Andi berhenti di Pos III dan rencana menuju POS IV kami urungkan begitu melihat kabuttebal turun dan angin semakin kencang berhembus. Saya dan Andi bertahan di POS III sambi memotret momment yang ada, dan memutuskan untuk segera kembali turun, karena tidak membawa bekal logistik dan senter. Jam 18.00 saya dan Andi Turun dengan terseok-seok karena sudah gelap gulita dan tak berapa lama sampai juga di camp.

Malam semakin larut dan dingin semakin menusuk. Malam ini kami segera membongkar dapur kami untuk membuat makan malam sambil menunggu Mas Taufik dan Siti. Menu malam ini adalah Ca Sawi+teri, Nasi, Mendoan Tempe, Teh hangat dan kopi. Saya bertugas menanak nasi, Doni dan Dinar memasak Mendoan, Andi membuat Ca Sawi. Dengan 2 kompor kami menjalankan misi masing-masing. Sungguh suasana yang sering kami rindukan malam itu. Masakan selesai, tetapi kami tidak segera makan, sebab menunggu Mas Taufik dan Siti turun.

Menjelang jam 21.00 belum ada tanda-tanda Taufik dan siti turun, kami menunggu dengan cemas dan muali berfikir yang macam-macam. Saya memperkirakan mereka turun dan salah jalur menuju Pos III Watu Gubug, jalur Thekelan. Pikiran saya segera saya buang jauh-jauh, sebab 1 tahun yang lalu saya pernah lewat jalur tersebut bersama Taufik. Dinar kemudian mengajukan diri untuk menuju Pos III, siapa tahu mereka sudah sampai di POs III. Hampir 1 jam Dinar meninggalkan kami, dan skitar pukul 22.30 Dinar kembali turn dan hasilnya nihil.

Malam itu kekawatiran kami semakin bertambah, melihat mereka berdua tidak membawa bekal yang cukup untuk bertahan di ketinggian dan cuaca ekstreem. Logistik mereka hanya air 1 liter, beberapa biskuit dan hanya membawa 1 lampu senter. Jaket dan sleeping bag juga tidak ada. Jam 23.00 kami putuskan makan malam, tetapi makan malam tersebut terasa hambar, karena ada dua rekan kami yang tidak hadir. Sungguh nafsu makan saya hilang malam itu, begitu pula dengan yang lain. Selesai makan malam, kami segera istirahat sebab besok pagi kami akan segera ke menyusul mereka.

Ditengah lelapnya tidur, saya dan Andi tetap terjaga dan sulit untuk memejamkan mata. Berkali terdengar suara Andi berteriak “mas Taufik ya…?” begitu ada langkah kaki pendaki yang lewat disamping tenda kami. Semua berlalu dan berharap segera pagi menjelang.

Senin 17 Agustus 2009, pukul 5.00 saya terbangun untuk melihat kondisi di luar, ternyata masih gelap. Saya segera menuju dapur di ikuti teman lain untuk membuat sarapan pagi. Kami membuat makanan yang instant kali ini, teh hangat dan kopi beserta sarapan havermuut. Jam 06.00 Saya, Andi dan Dani mulai berjalan menuju puncak untuk menyusul Taufik dan Siti, sedangkan Dinar jaga tenda, sebab sekitar jam 07.00 Dinar harus turun karena ada acara di kampungnya.

baru 10 menit kami berjalan, nampak di Depan Mas Taufik dan Siti berjalan turun. Rasa syukur dan bahagia menyeruak di muka kami. mas taufik bercerita, kalau tadi malam nyasar turun di Watu Gubug dan diputuskan untuk kembali ke Pos IV pemancar dan bermalam disana. (Buat rekan dari Salatiga, terimakasih untuk bantuan rekan kami).

kami segera menuju camp, disana Dinar sudah berkemas untuk segera turun. Sampai di camp Siti segera minta bihun dan teh hangat, Taufik teh hangat dan mie goreng. Selesai mereka berdua makan kami segera packing. Kami berencana untuk segera turun, sebab Taufik dan Siti sore ini akan segera kembali ke Jakarta.

kami berencana turun melewati mata air Pos II untuk menuju POs Bayangan II seperti yang di lakukan Dinar kemarin. Kami berjalan pelan menuju Mata air, tetapi hampir 200m kami belum menemukan mata air dan pertigaab menuju POS bayangan II. Setelah hampir 500M kami berjalan, kami bertemu dengan penduduk yang mencari kayu. Hasilnya kami sudah melewati pertigaan dan dijalan yang salah. Tetapi kami mau kembali ke Pos II juga tanggung dan akhirnya diputuskan berjalan menuju ke Bawah ke Desa Dakan.

Hampir 1.5 jam kami berjalan dan lega juga kami sampai di Desa Dakan. Saya tidak begitu asing dengan desa tersebut sebab sudah 4 kali lewat jalur tersebut, jadi remang-remang masih hapal. Kami berjalan terus menuju jalan raya dekat Koramil Ngablak yang berjarak 4 KM. Sepanjang jalan saya kontak basecamp dengan HT tetapi tidak tembus, sebab base camp di balik lembah dan kebetulan signal HP ada. Segara saya kontak via SMS ke ponsel PAk Tono dan yakup memberitahu kalau kami turun lewat Dakan dan semua baik-baik saja. Begitu sudah dikonfirmasi lega hati ini untuk terus berjalan menuju Ngablak. jam 10.00 kami sudah sampai di bawah dan segera menuju Rumah Gun. akhirnya selesai juga perjalanan ini dengan sejuta cerita dan kenangan.

beberapa pelajaran yang bisa kami ambil
1. Hemat baterey HT, jangan buat main-main, apalagi dengerin lagu.
2. Pastikan kondisi mata air pada penduduk setempat.
3. Pastikan sudah paham jalur dan bawalah peta, GPS.
4. Bawa air lebih dari cukup.
5. Bawa minyak goreng dan bahan bakar yang cukup.
6. tetap semangat dan jalin kekeluargaan

Terimakasih kepada
Jesus Christ, terimakasih buat berkatmu
Gunadi&Fam; jamuan makannya dan menampung gembel-gembel gunung
Tukimin: buat transportasi menuju basecamp
Pak Tono & Yakub: sambutan dan pelayanan di basecamp…
Taufik: bocah tua nakal yang selalu menipu istri demi naik gunung
Siti: maaf kami sudah menyesatkanmu 2 kali
Andi: thanks buat semua properti gunung-nya
Dani: trims buat powermu yang luar biasa “EKSPEDISI”
Dinar: Semangatmu dan setiakawanmu jempol 4 bener.

Salam

DhaVe

Semarang 19 Agustus 2009.

Advertisements

24 thoughts on “Sengsara Di Merbabu (Reportase & Catatan Perjalanan Pendakian Merbabu 17an)

  1. dhave29 said: Rasa….banyak bicara langsung makan aja hehehe,,,,, rasanya ya ampunnn ancoor,,,, lupa gak bawa teflon nie,, jadinya ancur dah hehehe

    woooowww hebat trs masaknya pakai apa mas kok bs berbentuk kotak gt maslaven mo dong dibagi yaaah

  2. dhave29 said: Rasa….banyak bicara langsung makan aja hehehe,,,,, rasanya ya ampunnn ancoor,,,, lupa gak bawa teflon nie,, jadinya ancur dah hehehe

    Wah benar-benar kucing-kucingan.. aku dan temen-temen merbabu.com 21 orang naik dari cuntel tanggal 16-17 agustus 2009.. wah kapan ya kita bisa jalan bareng ke merbabu ya???? 16 agustus 2009 bertepatan dengan hari ulang tahun basecamp Cuntel.. ada panggung dang dutnya.. saya sempet dikerjain teman-teman untuk nyanyi naik ke panggungfoto-foto kita ada di http://picasaweb.google.com/sintse.laras/Merbabu1617Agustus2009#

  3. skrekanex said: Wah benar-benar kucing-kucingan.. aku dan temen-temen merbabu.com 21 orang naik dari cuntel tanggal 16-17 agustus 2009.. wah kapan ya kita bisa jalan bareng ke merbabu ya???? 16 agustus 2009 bertepatan dengan hari ulang tahun basecamp Cuntel.. ada panggung dang dutnya.. saya sempet dikerjain teman-teman untuk nyanyi naik ke panggungfoto-foto kita ada di http://picasaweb.google.com/sintse.laras/Merbabu1617Agustus2009#

    waduh pancen belom jodoh… aku tanggal 15 malem naik, turun tanggal 17.. sempat denger juga seh di pos 2, ketikan rekan dari merbabu dot com lewat… tapi kantuk luar biasa. naik lagi tolong kontak saya sebelumnya.. yach.. makasih mbah Steve…

  4. skrekanex said: Wah benar-benar kucing-kucingan.. aku dan temen-temen merbabu.com 21 orang naik dari cuntel tanggal 16-17 agustus 2009.. wah kapan ya kita bisa jalan bareng ke merbabu ya???? 16 agustus 2009 bertepatan dengan hari ulang tahun basecamp Cuntel.. ada panggung dang dutnya.. saya sempet dikerjain teman-teman untuk nyanyi naik ke panggungfoto-foto kita ada di http://picasaweb.google.com/sintse.laras/Merbabu1617Agustus2009#

    Selamat bro! Semoga banyak pelajaran yg bisa diambil buat kita semua:)

  5. dhave29 said: hehehe,,,,, nyoba jalur baru.. tanya tuh si Dinar yang bikin cilaka hehehe…..

    @stresmetal; Dinar udah turun duluan dan rekomendasi kita untuk lewat pos2 langsung menuju pos bayangan 2, karena jalur lebih landai, tetapi info yang diberikan tidak akurat dan nyasar adalah hasilnya…. hehehe…

  6. dhave29 said: hehehe,,,,, nyoba jalur baru.. tanya tuh si Dinar yang bikin cilaka hehehe…..

    @pilar; kan ada batas sucinya dipintu tenda…. dan kebersihan adalah sebagian dari iman… hehehe.. kan kalau bersih enak dipandang apalagi ditiduri hehehe..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s