Gaji Besar Abdi Rakyat Yang Lupa Melayani

Disaat mencari pekerjaan susah dan dunia persaingan semakin sengit menjadikan orang-orang berduit atau berbakat untuk memberanikan diri menjadi wakil rakyat diparlemen. Parlemen baru berarti lowongan baru untuk menempati. dibutuhkan usaha dan kerja keras untuk menduduki kursi wakil rakyat yang terhormat. Berlomba-lomba untuk merebut kursi kekuasaan, menghalalkan segala cara untuk menjadi yang terdepan.

Selesai sudah pesta demokrasi negeri tercinta Indonesia. Hasil yang carut marut dan kisruh disana-sini menandakan demokrasi yang hidup kebablasan. Rakyat menjadi penentu kemenangan masing-masing kubu dengan contrengan yang syah. Dengan embel-embel; mengabdi kepada rakyat, mengabdi kepada negara, para calon wakil rakyat memberi angin surga kepada pendukungnya dan rakyat.

Mengabdi, sungguh kata yang tidak asing bagi kita. Abdi adalah tindakan menghambakan diri kepada seseorang tanpa adanya paksaan, pamrih atau tekanan. Abdi dalem kraton, menghambakan diri kepada raja tanpa mendapat gaji, atau tunjangan, tetapi hanya sandang dan pangan yang cukup. Hanya rasa bangga dan memiliki yang mereka dapatkan sebagai abdi dalem kraton. Dalam dunia misionaris, mengabdi kepada Tuhan dan agama dilakukan tanpa unsur paksaan, tetapi karena panggilan hati.

Mengabdi kepada rakyat, mengabdi kepada negara “GOMBAL MUKIO” atau lebih halusnya omong kosong. Masak abdi rakyat mendapat gaji cukup besar, tunjangan lebih dari cukup, mobil dinas, rumah dinas, amplopan, sabetan, upeti dan sumber masukan yang lain. Abdi rakyat sekarang menjadi jutawan diatas penderitaan rakyat yang semakin tertindas.

Andakata benar-benar mau mengabdi kepada rakyat dan negara, cukup dengan panggilan hati bukan karena panggilan gaji besar, tunjangan lebih dari cukup, kekuasaan dan gengsi. Apakah kalau sudah menjadi abdi rakyat di kursi parlemen akan mengingat rakyat yang dulu telah mempercayai, mendukung dan memilihnya. Kembali modal mungkin kata yang lebih sreg, menutupi ongkos cetak spanduk dan baliho, bensin kampanye, buat kaos dan atribut sampai upeti kepada beberapa pihak. Pantas banyak yang depresi saat kalah dikursi demokrasi.

Abdi yang tinggal kenangan dan angan-angan. Suara lantang dimedan kampanye telah redup dengan urusan politik dan duit. Janji manis menguap sudah larut dalam euforia panggung kekuasaan dan bagi-bagi uang negara. Tim sukses seolah terlupakan, rakyat seakan terabaikan. Abdi rakyat telah menggombal dan mencicipi ludah basinya, sungguh menjijikan.

Andaikata benar menjadi abdi rakyat, cukup menjadi rakyat dikursi parlemen. Tidak perlu gaji, tunjangan dan fasilitas yang super mewah. Rakyat akan menilai apabila ada abdi rakyat yang menolak gaji, dan fasilitas kemewahan negara. Rakyat berharap abdi rakyat bisa membawa idealisme abdi dalem kraton, cukup rasa bangga dan cinta akan bangsa ini.

Engkau kami pilih untuk melayani kami, bukan kami yang menjadi kacung anda.
Kami memilih anda untuk menyuaraka jeritan kami, bukan untuk terlena bersama simpanan dihotel.
Kami percaya anda untuk memajukan kami, bukan untuk menindas kami.
Kami yakin anda yang terbaik, bukan menjadi calon penghuni bui karena korupsi.
Abdiku ingat kata-katamu dimasa lalu, semoga menjadi berkat buka karma anak cucu….

Salam

DhaVe

Emperan Demokrasi Koyak; 13 Agustus 2009; 00:17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s