Ayam Kampung di Ambang Kepunahan

Pangan adalah kebutuhan pokok bagi semua manusia, tetapi pada saat ini sulit sekali menemukan pangan yang bener dan baik. Sumber bahan pangan saat ini telah berubah menjadi butiran mesiu yang siap meledak menjadi sebuah bom yang disebut penyakit. Berbagai gangguan kesehatan banyak yang ditimbulkan dari makanan, baik yang bersifat racun/toxit atau kangker.

Berbagai cara telah dilakukan untuk memperoleh sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Genetic Modified Organisme, atau pangan transgenik, yaitu organisme hewan atau tumbuhan yang sudah di ubah gentiknya yang dibuat sedemikian rupa untuk bisa memenuhi tuntutan kebutuhan. Semua serba instat, ayam umur 40 hari siap saji, kedelai umur 2 bulan siap panen, padi 3 bulan siap giling dan lain sebagainya.

Semua organisme yang sudah dirubah materi genetiknya menjadi masalah tersendiri. Hukum alam sudah diacak-acak dari ketidakwajaran pertumbuhan, organisme varietas lokal tergusur, kandungan materi dalam tubuh organisme yang tidak wajar dan lain sebagainya. Semua berlalu begitu saja dan dianggap sebagai sebuah penemuan spektakuler, padahal benih bencana mulai bersemi.

Ada sebagian orang tetap bertahan dengan varietas lokal, tetapi kelamaan akan tergerus Genetic Modified Organism (GMO). Dapat saya contohkan, acara selamatan dikampung yang biasanya dihiasi dengan ingkung ayam jantan lokal (ayam jago jawa yang dimasak utuh, hanya jerohan yang dibuang) sekarang sudah diganti dengan ayam ala fast food. Dahulu pengrajin tahu mengandalkan kedelai lokal karena memiliki aroma dan tekstur yang khas, sekarang sudah diganti kedelai impor dari produk GMO dengan alasan lebih murah dan mudah didapat.

Bebuahan yang ada dipasaran juga begitu, kalau ada buah dengan embel-embel ibu kota negri Gajah Putih, pasti laris manis diserbu pembeli. Jambu bangkok, Ayam bangkok, durian bangkok sampai lele bangkok pun ada. Mau ditaruh mana jambu klutuk, duren petruk, ayam buras yang sudah lama menjadi tuan rumah yang kelamaan tergusur eksistensinya.

Teori evolusi mulai berbicara, “strugle for life”, disaat varietas lokal tidak bisa bertahan dari eksistensinya maka akan segera tergusur dengan produk transgenik atau mancanegara. Nah dari jagat hiburan juga demikian, produk blasteran atau impor lebih laku dari lokalan karena permintaan pasar yang berbicara. Kepunahan varietas lokal sudah diambang pintu apabila tidak ada konservasi, akibatnya anak cucu kita melihat ayam jawa dimusium zoology untuk kedepannya.

Nah bagaimana dengan penduduk lokal disuatu daerah, saya yakin pasti juga akan tergusur apabila tidak bisa bertahan dari keberadaannya. Saat sekarang sulit mencari rumah makan ayam kampung, penjual jambu monyet, padi gogo dan lain sebagainya. Ranah hiburan juga begitu, topeng monyet sudah diganti PS3, balap merpati sudah diganti remot control race, lukisan diganti potoshop wuahhh apa lagi?

Sudah tidak usah berdebat, bijaksana saja dalam memanfaatkan produk-produk yang ada. Jaga kesehatan dan cinta tanah air, dan tetap menjaga kekayaan lokal. Disaat semua tersaji dalam GMO, instant dan semua serba cepat ada baiknya kita tengok proses masa lalu apa yang dikerjakan nenek moyang kita. Apresiasi terhadap produk lokal ternyata…. tidak kalah dengan produk pendatang baru… lebih original..

Salam

DhaVe

Emperan, Kucingan Friend Community, 6 Agustus 2009, 09.00

10 thoughts on “Ayam Kampung di Ambang Kepunahan

  1. iya lucu bngt smua yang brand luar mlh diserbu……………..pdhl lom tentu loohh yg luar itu lbh baik dr yg kita pypdhl ayam produk luar pasti pakai suntik,lbh baik cinta dalam negeri aza dech……………yang NATURAL itu yg BEST

  2. lavenderpagi said: iya lucu bngt smua yang brand luar mlh diserbu……………..pdhl lom tentu loohh yg luar itu lbh baik dr yg kita pypdhl ayam produk luar pasti pakai suntik,lbh baik cinta dalam negeri aza dech……………yang NATURAL itu yg BEST

    yuuk setujuu….. tapi susah dapet yang lokalan dan mahal pula… hehehe i love local full…..

  3. ariefkurni said: ayam kampus natural ga?hahahahaha

    wah kalo ayam kampus..ntuh tergantung kebutuhan, tentunya ada permintaan pasti ada penawaran, hukum ekonomi berlaku tentunya Mas,,, mau coba.. atau udah angkrem nie mas Arif, eh Wawan,,,,,

  4. dhave29 said: yuuk setujuu….. tapi susah dapet yang lokalan dan mahal pula… hehehe i love local full…..

    datang ketempat laven mas…………….all is originil…………..sgl macam sayur bokap yg nanam,ayam kampung………….sglnya ada deechditempat laven yg beli cm garam ama minyak sayur tooox

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s