Jangan Sebut Mereka Plagiasi, Kita Berbeda

Tadi malam melihat acara televisi 1 jam lebih dekat, bersma KH Zainudin MZ. Pada acara tersebut, hadir bintang tamu Kiwil, dimana Kiwil ditengarai suka menirukan gaya sang Kyai dengan slogan “bethuul..”. Ketika ditanya Indi Rahmawati tentang bagaimana tanggapan sang Dai yang gayanya ditiru orang, dengan santai sang kiayi menjawab “tidak masalah, Kiwil juga sudah berdiskusi dengan saya”.

Nah itu masalah Kiwil ala Zainudin MZ sudah diklarifikasi, bagaimana dengan para komedian saat ini yang memakai gaya pelawak tempo dulu. Apabila dilihat gaya komedian saat ini memang lucu dan konyol, tetapi acapkali memakai gaya lelucon dari orang lain. Coba perhatikan Opera Van Java, dimana kebanyakan gaya lelucon diplagiasi dari lawak senior. Azis Gagap, biasa memakai gaya Komeng yang bisa memakai benda mati untuk dijadikan guyonan yang hidup. Gaya gagapnya juga mirip Tompel yang terkenal di era 90an. Beralih ke stasiun sebelah, Democrazy yang menampilkan Mucle yang bergaya ala Rhoma Irama.

Beberapa artis juga tidak jauh dari gaya tiru-meniru, jiplak-menjiplak dan plagiasi lebih tepatnya terhadap style mereka. Mbah Surip yang beken lewat “tak Gendong” tidak jauh dari sang legenda Bob Marley. Bahkan ada yang tergila-gila dengan Jacko, hingga merelakan dirinya dibatasi dengan gaya Jacko, walau dengan sedikit memaksakan diri.

Dikalangan politik, Mantan Dan-Jen Koppasus Prabowo Subianto, mencoba menduplikasi gaya IR Soekarno dengan setelan pakaian Safari. Didunia Olah raga lebih parah lagi, sampai-sampai pemain lokal indonesia yang notabene aseli berdarah daging dan budaya Indonesia memaksakan diri memberi nama anak mereka dengan nama pemain idolanya.

Saya pernah bakti sosial didesa pelosok di lereng Gunung Merbabu, saya terkejut ketika membaca absensi dan data murid beserta walinya. Desi Ratna Sari, Bapak Tukino, Ibu Parjiyem. Sahrul Gunawan, Bapak Paidi, Ibu Surtini. Setelah saya tanya, ternyata nama tersebut terinspirasi dari televisi saja. Memang apalah arti sebuah nama, tetapi makna dibalik nama itulah yang terpenting. Tidak bisa dibayangkan beratnya memikul nama pada suatu saat, kadang pujian, ejekan dan cemoohan yang muncul dibalik sebuah nama.

Plagiasi, Duplikasi, apapun memang acapkali tidak dibenarkan tetapi apa boleh buat, tuntutan berkata lain. Disaat orang tidak atau belum menemukan gaya, ide, inspirasi maka milik orang lain syah-syah saja dicomot untuk dipakai. Keanekaragaman memang indah dari sebuah keseragaman, tetapi akan jauh lebih indah apabila muncul dari empunya diri sendiri.

mohon maaf bila ada yang kurang berkenan….

Salam

DhaVe

GBL, 24 Juni 2009, 11:45

2 thoughts on “Jangan Sebut Mereka Plagiasi, Kita Berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s