“Aku Tidak Tersesat” Hanya Lewat Jalur Baru Saja –(yang sesat)–

Siapa yang tidak kenal denga Sir Edmun H dan Tenzing Norgay, mereka adalah pendaki gunung yang pertama kali menginjakan kaki atap dunia. Lantas apakah yang mereka dapat?; nama besar, kepopuleran, gelar, dan masih banyak lagi kebanggaan bagi mereka berdua. Semua yang mereka berdua adalah pujian dan rasa hormat sebagai pendaki pertama yang sampai dititik tertinggi didunia.

Melihat keberhasilan Sir Edmun dan Tenzing N tersebut, memberikan angin segar buat kalangan dunia pendakian. Berangsur-angsur jalur pendakian dibuat, mencoba rute baru dengan segala macam teknik. Bahkan orang-orang hebat seperti Reinhold Messner, Patrick Habbelar, B Bishop, Junko Tabei dan lain sebagainya telah merintis cara mereka mendaki.

Yang menjadi pertanyaan? apakah yang diperoleh atap dunia dari kedatangan orang-orang penyuka titik ketinggian. Kerusakan dan pencemaran, itulah yang didapat dari onggokan batuan yang berketinggian ribuan meter. Jalur pendakian yang semakin lebar, pengaman logan bertancapkan, sampah berserakan, kotoran manusia berceceran, vandalisme dan peninggalan-peninggalan barang bukti bahwa sudah sampai puncak.

Saya dan rekan yang baru saja mengenal dunia pendakian barusan tersadar begitu sampai puncak tertinggi yang dapat saya injak. Awal perjalanan kami awali dengan mulai merangsek naik kesemak-semak, pepohonan dan hutan. Gemertak pohon dan semak kami robohkan hanya untuk memberi kesempatan kaki menginjak dan melangkah serta tangan menggapai. Batuan berdiri dengan sepinya kami usik dengan pijakan, guratan sepatu dan goresan tangan.

Sungguh pencapaian yang tidak sebanding dengan yang kami peroleh. Puncak yang masih kinyis-kinyis, pemandangan yang indah, rasa bangga yang meluap, emosi yang tercurah, haru yang tak terkira dan semuanya buyar, bubar, hancur begitu melihat kebelakang.

Tertunduk malu dan bersalah ketikan kulihat apa yang dibalik punngung. Rerumputan hijau nan indah tertunduk lunglai hanya untuk memberi kami jalan, batu yang elok tanpa cacat harus tergores pijakan kaki dan belaian tangan, pepohonan yang tegak berdiri harus rebah oleh kami. Kami semakin trenyuh ketika membayang suatu saat ada yang mengikuti langkah kami, maka akan semakin tidur rerumputan, terkoyak bebatuan dan robohlah pepohohonan, yang lebih menyakitkan adalah mereka mewariskan sampah.

Kucoba mencari jalan turun yang sudah ada, tidak ingin kami mengulang jalur yang telah kami buat. Ku ingin tidak mengulang kelakuan kami yang merusak demi mendapatkan sesuatu yang absolut. Yach pencapaian yang menjadi kenangan dan cerita bagi kami yang menjalaninya dan takkan terulang kembali. Semoga apa yang kami lakukan terhadap alam segera menjadi pulih kembali dan tidak diikuti orang lain.

(cerita ini; menjadi inspirasi bukan karena kami ingin membuat jalur baru untuk mencapai puncak, tetapi karena kita tidak tahu jalur dan terpaksa membuka jalur(tersesat untuk mencapai puncak)).

Terimakasih
Jesus Christ; Your protection when im climb…
Andi P; patner baru untuk jalan baru… semangat dan lanjutkan…
Jo; puncak pertama, pemanjatan pertama dan naik-turun dengan jalur berbeda, angka 8.
Pren-pren; makasih udah menunggu dibawah
Tumis kangkung dan dedak sebagai ganjel perut…

Salam

DhaVe

Puncak; selatan ungaran….8 juli 2009 sehari semalam…

8 thoughts on ““Aku Tidak Tersesat” Hanya Lewat Jalur Baru Saja –(yang sesat)–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s