Jangan Panggil Aku Rombongan Pecinta Alam

Saat berjalan sendirian dijalan setapak menuju sebuah titik trianggulasi sebuah puncak akan banyak hal yang kutemukan. Ada salah satu hal yang acapkali membuat risih ditelinga dan membuat beban ini semakin berat. Entah mengapa kata-kata yang sederhana itu membuat saya gerah dan seolah-olah ingin lari saja.

“Mas-e dari Rombongan Pecinta Alam mana, kok jalan sendirian?”. Hah “Rombongan Pecinta Alam” hati saya bergejolak. Kenapa mesti disebut Rombongan Pecinta Alam buat orang yang melakukan kegiatan alam bebas. Mendaki gunung bisa dilakukan oleh siapa saja, turis, pertapa, tentara, Nabi, pemburu, Orang yang mengaku dirinya Pecinta Alam dan lain sebagainya.

Entah itu yang menggunakan kata PALA atau PA dijadikan embel-embel untuk sebuah organisasi. Mengapa harus memakai Pecinta Alam, huffhhh ironi sekali bila dilihat dan ditilik lebih lanjut. Nama yang begitu jelas makna dan artinya acapkali bertolak dengan manusianya.

Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan yang dilakoni oleh para Pecinta Alam. Saya acapkali menemukan orang atau organisasi yang menyatakan dirinya sebagai pecinta alam bertindak tidak sesuai nama yang disandangnya. Nyampah, ngrusak, vandalisme, dan habbit yang tidak sesuai dengan makna apa itu pecinta alam. Saya garis bawahi, tidak semuanya begitu, tetapi hanya beberapa saja.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa mau naik gunung harus menjadi seorang pecinta alam dan dikatakan pecinta alam. Mungkin sudah menjadi kamus dikalangan masyarakat, pokoknya yang naik gunung adalah Pecinta Alam, yang menjelajahi sungai deras adalah pecinta alam, bahkan panjat tebing dan jelajah rimba juga dikatakan pecinta alam.

Orang jarang menyebut lebih spesifik seperti; pemanjat tebing, pendaki gunung, pengarung jeram, penjelajah rimba tetapi semua digepok jadi 1 makna Pecinta Alam. Waduh, jadi beban moral tersendiri jika dikategorikan sama dengan pecinta alam, dimana idealisme dijunjung tinggi.

Menurut hemat saya, mendaki gunung lebih sreg dikatakan; pendaki gunung, atau kalau mendekati Alam bisa dikatakan penikmat alam saja atau Tempala (temannya Pecinta Alam). Beban berat Rombongan Pecinta Alam akan dengan mudah digantikan sebutan lain yang lebih pas. Kalau orang bilang apalah arti sebuah nama akan sangat ringat bebannya, tetapi kalau bilang apalah arti sebuah makna jelas berbeda esensinya.

Baiklah, kita yang mengaku dirinya sebagai pendaki gunung, penjelajah rimba, pemanjat tebing, pengarung jeram, penikmat alam dan temannya pecinta alam untuk berpikir dan bertindak selayaknya orang yang mencintai alam. Menaati aturan yang ada, menjaga dan menjalankan kode etik yang disepakati dan mempunyai habbit yang ramah akan alam ini.

Selamat mendaki, memanjat, menjelajah dan menikmati ciptaan Tuhan dan jagalah selalu, bolehlah merusak tapi cukup sekali dan sedikit, jangan lupa dibetulkan kembali.
Salam buat teman-teman Pecinta Alam, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dan mohon pencerahannya.

Salam

DhaVe

Puncak Botak 2065mdpl, 8 juli 2009

23 thoughts on “Jangan Panggil Aku Rombongan Pecinta Alam

  1. Makna Pecinta Alam sudah salah kaprah dipakai oleh sebagian penggiat alam bebas di sekolah-sekolah, perguruan tinggi ataupun kelompok-kelompok yang memakai embel-embel ‘Pecinta Alam’, padahal jelas-jelas porsi terbesar mereka adalah petualangan dialam bebas bukan konservasi ataupun pendidikan lingkungan.Jadi…..Tanpa ada niat meluruskan, maka akan selamanya seperti ini😦

  2. kl aku, Aku menikmati setiap perjalanan ke puncak..hingga turunnya..Menantang ego dan kesabaran ku..Mengacuhkan title, jabatan, strata sosial, kekayaan duniawi..Mengagumi dan mencintai segala ciptaanNya..Apa mas Dhave namanya..?Ah, tapi apalah arti sebuah nama.

  3. hijjau said: Makna Pecinta Alam sudah salah kaprah dipakai oleh sebagian penggiat alam bebas di sekolah-sekolah, perguruan tinggi ataupun kelompok-kelompok yang memakai embel-embel ‘Pecinta Alam’, padahal jelas-jelas porsi terbesar mereka adalah petualangan dialam bebas bukan konservasi ataupun pendidikan lingkungan.Jadi…..Tanpa ada niat meluruskan, maka akan selamanya seperti ini😦

    makasih analisanya… manteb dah.. Yua… makna yang sudah melenceng, bagi kita yang tidak berembel-embel cinta alam tersebut.. sebaiknya bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pecinta alam… hebat..

  4. polarbugs said: kl aku, Aku menikmati setiap perjalanan ke puncak..hingga turunnya..Menantang ego dan kesabaran ku..Mengacuhkan title, jabatan, strata sosial, kekayaan duniawi..Mengagumi dan mencintai segala ciptaanNya..Apa mas Dhave namanya..?Ah, tapi apalah arti sebuah nama.

    PEROMAN ALAM kalee,,,,? penikmat romantisme alam wuahahahah…….aaaa..memang apalah arti sebuah nama, tetapi ada apa dibalik sebuah nama itu sendiri….Setuju dengan mbak Riris,,, syukuri apa yang telah Dia ciptakan.. dan dirawat serta di jaga ya?

  5. polarbugs said: kl aku, Aku menikmati setiap perjalanan ke puncak..hingga turunnya..Menantang ego dan kesabaran ku..Mengacuhkan title, jabatan, strata sosial, kekayaan duniawi..Mengagumi dan mencintai segala ciptaanNya..Apa mas Dhave namanya..?Ah, tapi apalah arti sebuah nama.

    Saya pelari yang suka naek gunung tapi gak suka nyampah. Jadi tak tgl 19jul?

  6. mbin034 said: Saya pelari yang suka naek gunung tapi gak suka nyampah. Jadi tak tgl 19jul?

    Andalah orang yang layak di contoh…..oke 19 saya layani dah… kita lari bareng sampe puncak.. kebetulan ada rekan yang mau kesana

  7. mbin034 said: Sip sip, yang nyampe belakangan traktir wedang ronde hohoho

    syap… wedang ronde, mia ayam, bakso planet… teh anget ama hawa sejuk siap m,emanjakan anda semua….. okeh… semangat..

  8. mbin034 said: Tidak perlu lanjutkan, yang penting TETAP SEMANGAT!

    Wew.. Mau lari ke puncak? Kalo nurul mah ngesot., :DGood luck aja dweh..Pecinta alam tidak harus menjadi pendaki, tapi pendaki harus menjadi pecinta alam, karena semua orang memang wajib menjadi pecinta alam.

  9. mbin034 said: Tidak perlu lanjutkan, yang penting TETAP SEMANGAT!

    @ulil4lb4b; terimakasih….. setuju jadi penikmat alam yang mencintai alam…. jangan bilang cinta kalau gak bisa menikmati….

  10. mbin034 said: Tidak perlu lanjutkan, yang penting TETAP SEMANGAT!

    @alam204; wew kalo kepuncak gremet-gremet slamet, alon-alon klakon… lha ngesotnya saat turun, gantikan kaki dengan pantat… mencintai tanpa harus mendaki, tetapi mendaki wajib mencintai…gitu yachhh setuju dah ma Nurul….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s