LINMAS, Melindungi Masyarakat atau Melindas Masyarakat?

Demokrasi, pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi adalah rakyat yang memegang untuk sebuah pemerintahan. Kalau berbicara duit, demokrasi yang bayar juga rakyat untuk menjalankan pemerintahan. Lantas rakyat dapat apa? cuma dapat perintah dari pemerintah, duitnya lari kemana….?

Pajak yang ditarik pemerintah dari seluruh rakyat berupa duit receh sampai segepok-gepok dibuat apakah? ya untuk menjalankan roda pemerintahan tentunya. Gaji pegawai pemerintah, pembangunan sarana dan prasarana dan semua beban oprasional seluruhnya ditopang dari pajak.

Wah enak juga ya jadi pegawai pemerintah, sebut saja Pegawai Negeri Sipil. PNS hidup mati ditanggung negara, bagai mana dengan kau swasta, mati urip urusan sendiri-sendiri. Berbagi pengalaman yang sangat memprihatinkan dan mengecewakan, sekaligus ironis sekali apabila dihubungkan dengan duit negara.

Siang itu, saya pergi ke Dinas dan sebut saja Dinas air asin dan ikan asin. Motor saya parkir dihalaman, dan tugas saya saat itu sedang setor upeti buat lembaga pemerintahan negara. Sekian rupiah saya setor, yachh namanya juga swasta harus taat dan menjalankan apa yang sudah menjadi aturan main. Selesai setor upeti, mau pulang dan inilah kejadian yang membuat saya hampir main mahabarata (berantem ala suku bar-bar).

Gara-garanya cukup sepele, cuma uang parkir 1000 perak. Saat diminta uang parkir, saya sedikit terkejut “masak gedung pemerintah pakai tarif parkir?” tarifnya tidak beda jauh dengan mall, atau pusat hiburan lainya. Wah kenapa ndak dibuat kafe, wartel, warung lesehan atau apalah yang bisa jadi duit.

Jengkel, “mbededeg” itu yang saya rasakan, kalaupun dengan sopan sih masih bisa diterima, sudah tidak sopan sambil marah-marah. “oke pak, saya bayar, saya minta bukti tanda parkir, ni uang parkirnya” saya bicara sambil ngasih duit 50.000 perak. Ehhh… bapak parkirnya marah-marah, dikira menghina,
“mas ini parkir motor bukan parkir pesawat, apa ndak ada uang receh?”. “
“pak ini uang terkecil dan terbesar saya, dan tinggal satu-satunya didompet, mau ya tak bayar, ndak saya pergi!”.
“mas…e nantang yow…!!!!”
“saya tidak nantang, ini saya bayar, dan saya minta karcis tanda parkir, kalau ini memang parkir resmi”
“turun aja mas, dari pada ribut uang 1000” bentak tukang parkir.
“pak bukan saya ribut 1000 peraknya, tatapi bagaimana legalisasinya, bayangkan saja dulu waktu saya SD bayar dana sukarela PMI 100perak aja dapat karcis lho?” bantah saya, ehh semakin panas suasana, maun dak mau harus dilayani juga neh. Motor saya standar langsung adu mulut, dan akhirnya tukang parkir mengalah (gak sia-sia 7 tahun kuliah, jadi anggota BEM, masak kalah berdebat).

Waw… ironis benar, disaat saya selesai setor upeti kepada negara, masih diminta upeti buat lahan sekecil itu. Upeti saya juga ndak jelas sampai apa tidak ke negara, apalagi dengan lahan parkir secuil itu?. Seharusnya lembaran karpet merah untuk kita yang denga rela harus menyumbang untuk gaji mereka, bukan cacimaki yang kita dapat. Wah…

Apa kurang gaji mereka yang pakai seragam korpri tiap tanggal 17 atau seragam ijo ada tulisan LINMAS, melindungi masyarakat atau melindas masyarakat…? Kita kaum swasta yang berjuang mati-matian kenapa masih ditindas terus. hahahahaaaa…. dikira gaji swasta itu gede… iya gede utangnya…

Yaw… akan terus kucari gara-gara untuk melihat seragam negara ini berbuat curang.
Hidup rakyat…

Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dan sedikit lebay hihihihi….. salam damai saja

Emperan Gedung Air Asin dan Hewan berenang
22 Juni 2009, 14:10

DhaVe

2 thoughts on “LINMAS, Melindungi Masyarakat atau Melindas Masyarakat?

  1. Nggak perlu minta maaf mas Dhanang,…yang beginian memang sudah menjadi KULTUR PNS kok…dari mulai KOTA KECIL di pedalaman sana sampe ke kota yang (katanya) KOTA BUDAYA seperti JOGYA and SOLO and SEMARANG and SURABAYA sekalipun…busyeettt…mereka dah pada NYONTOH para PENGGEDE 2 nya seh…lihat DPR nya,..lihat DEPARTEMEN nya,..lihat MENTERI nya sekalian dehh…kan GAK BERBEDA dgn pak PARKIR ini…diingetin malah MLOTOT…apa kata duniaaaaa…..????

  2. mahakamhulu said: Nggak perlu minta maaf mas Dhanang,…yang beginian memang sudah menjadi KULTUR PNS kok…dari mulai KOTA KECIL di pedalaman sana sampe ke kota yang (katanya) KOTA BUDAYA seperti JOGYA and SOLO and SEMARANG and SURABAYA sekalipun…busyeettt…mereka dah pada NYONTOH para PENGGEDE 2 nya seh…lihat DPR nya,..lihat DEPARTEMEN nya,..lihat MENTERI nya sekalian dehh…kan GAK BERBEDA dgn pak PARKIR ini…diingetin malah MLOTOT…apa kata duniaaaaa…..????

    hehehe… terimakasih atas responnya,,,,, semoga pemilu ntar bisa dapat orang yang bersih buat bersihin kotoran lembaga negara,,,,, PNS..oh PNS…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s