Belajar Bercinta pada Cacing Tanah

Cacing Tanah (LUMBRICUS TERESTRIS) iehhh… jijik, geli dan menakutkan bagi beberapa orang, termasuk saya tentunya. Mahluk gilig kecil, merah dengan tubuh bergelang-gelang memiliki peranan besar bagi alam ini. Para mancing mania dengan sadis menusuk hewan ini dari ujung sampai ujung dengan mata kail untuk menjebak ikan lapar. Para tabib, memasak hidup-hidup bangsa Vermes ini untuk melawan serbuan bakteri SALMONELA. Bagi petani, cacing dijadikan hewan detritus (pemakan sisa) dan pembusuk dari matrial organik dalam tanah.
Yang saya bicarakan bukan itu, tetapi lebih ke aspek fungsi biologis Cacing. Saya coba bertanya, apa yang paling nikmat sesaat dalam dunia ini?
1. Menggaruk yang pada posisi yang tepat pada lokasi gatal.
2. Bersin sepuas-puasnya.
3. Habis dari buang air besar.
4. Titik puncak saat bercinta dengan pasangan.
Wah enak semua kayaknya yaw…? lantas apa hubungannya dengan cacing tanah?.
Cacing tanah tidak bisa menggaruk tubuhnya saat gatal, tidak bisa bersin, buang air besar melulu dan….. bercintanya kapan dan bagimana?. Hush..ki stop disini dulu, pindah topik kesebelah biar otak tidak kotor, sekotor “untuk Cacing” (kotoran cacing), tetapi subur lho?.
Nah ini yang akan saya bicarakan, “siapa yang bisa membedakan cacing jantan dan betina..?” nah bingung kan?. Ndak usah bingung dan tidak usah dijawab, kenapa? karena cacing adalah hewan hermafrodit (berkelamin ganda). Lantas apa hubungannya dengan kenikmatan dunia di atas tadi?.
Cacing yang notabene punya alat kelamin ganda tidak bisa melakukan hubungan seks swalayan (sendiri dalam satu tubuh), berbeda dengan manusia, walau punya satu masih bisa swasembada (mampu mandiri), swakarya (mampu bekerja), Swadana (modal) dan swalayan (melayani dirinya sendiri). Lantas bagaiman cacing untuk proses reproduksinya? selayaknya manusia normal, cacing akan tetap mencari pasangannya, ntah dapatnya jantan atau betina sikat saja yang penting kawin. Hanya 1 gaya, kalau dikaum HOMO SAPIENS dikenal 69, yach seperti itulah kira-kira posisinya.
Yach itu filosofi kawin ala cacing, walau memiliki tubuh yang secara seksologi sempurna “double seks” tetap tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi harus mencari pasangan. Manusia yang notabene hanya single seks juga tetap mencari dan membutuhkan yang namanya patner. Tidak bisa swalayan, karena tidak dapat menghasilkan apa-apa, mungkin kenikmatan dunia sesaat urutan nomer 4 kali yaw?.
Belajar dari hewan menjijikan, walau punya kesempurnaan seks, dapat jadi penjebak ikan apes, obat tipes sampai penggembur tanah pertanian, tetati cacing hanyalah cacing dan tetap “BUTUH PASANGAN” tidak bisa hidup sendiri….

Sekarang saya lagi meriang, saya butuh pasangan untuk menjalankan uang koin dan balsam diatas punggung “kerokin dunk”.

Kalisari, 21 Juni 2009, 14:45

salam
DhaVe

4 thoughts on “Belajar Bercinta pada Cacing Tanah

  1. coba ada mutasi gen dimanusia yang bisa menyerang kaum laki2 (dlm hal ini bagian hermafroditnya itu..) mungkin,, mungkin lho.. kasus pemerkosaan akan terjadi penurunan drastis sekarang.. (hehe, just a thought..)

  2. afsharry said: coba ada mutasi gen dimanusia yang bisa menyerang kaum laki2 (dlm hal ini bagian hermafroditnya itu..) mungkin,, mungkin lho.. kasus pemerkosaan akan terjadi penurunan drastis sekarang.. (hehe, just a thought..)

    hehehe…. bener juga yach…. mau coba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s