Dombaku di Tengah Para Srigala

Masa kecil disebuah dusun terpelosok dari keramaian kota, menjelang SMA baru merambah sebuah kota dan saat kuliah sampai kerja berada dikota besar. Sungguh kontras sekali apa yang kualami dan rasakan.

Pergeseran budaya dan tatakrama sosial sudah keluar jalur, sehingga kelihatan sekali jurang pemisah yang sulit untuk dihubungkan. Didesa, disebuah lereng gunung kurasakan kedekatan antar keluarga, masarakat begitu guyub (kebersamaan) dalam situasi dan kondisi apapun. Sikap keterbukaan dan toleransi beserta kaidah-kaidah norma sosial begitu dijunjung tinggi. Jiwa paranoid akan kecaman sosial menjadi kontrol dalam bersikap dan bertindak. Rasa penghargaan dan keterbukaan yang tulus diperlihatkan. Sungguh suasana yang indah dan romantis dalam kultur sosial.

Saat ini saya berada disebuah urban kota besar, sungguh berbeda apa yang kurasakan sebelumnya. “ini ibu kota mas…ora edan ora keduman”, separah itukah jargon yang dimunculkan. Kurasaka penolakan, dihindari, dicurigai dan kesan ketertutupan muncul. Siapa sebenarnya mereka kaum-kaum seperti itu.

Pendatang atau kaum urban, yang notabene dari plosok kampung sekarang menjadi penghuni ibukota yang lupa pada budaya akar. Budaya urban telah menjadi budaya baru mereka, dimana sifat individualisme dan egoisme menjadi dasar dalam bertindak. Yang menjadi pertanyaan, kenapa sifat itu muncul? “survive” yachh bertahan hidup, layaknya binatang liar yang soliter, dimana harus merebutkan daerah kekuasaan, makanan dan pasangan hidup. semua akan dilakukan dalam tahap pencapaian.

Manusiawikah yang terjadi saat ini? sungguh mengerikan dan menyesakan batin. Saat dikampung aku bisa diterima dengan tangan terbuka, walaupun belum kenal satu dengan yang lainnya. Suasana itu juga kudapatkan saat kulakukan dipendakian-pendakian gunung di Indonesia. Kurasakan kultur masyarakat yang sama disetiap wilayahnya. Ramah, santun dan familiar menjadi cirikhas yang selalu kutemui.

Persamaan kebutuhan untuk bertahan hidup dengan perbedaan kondisi lokasi (desa-kota) telah mengubah budaya leluhur. Apakah aku harus mengikuti budaya tersebut…. (hati nurani…LAWAN)

Kutemukan sisi menarik kehidupan dan karakternya, sehingga bisa ku lebih mengerti arti kehidupan sebenarnya. Jadilah domba ditengah srigala, dari pada menjadi srigala berbulu domba, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

#warga asli yang ada di kota besar, berbeda dengan pendatang#
~semua baik padaku~

mohon maaf bila kurang berkenan…

Pasar Turi, 26 Mei 2009, 08.30

12 thoughts on “Dombaku di Tengah Para Srigala

  1. @arifkurni; matursuwun cak..@alexham; siap, tapi gak ada kompi..jadi yo gur tambah loro ati tok hahaha… bingung meh kemana brother.. wes waras tha?

  2. dhave29 said: bingung meh kemana brother..

    sorry interupt…dikit…gini bro…aku lahir di kota…keluarga dari buyut ada disini…dikota…ndak punya desa…jadi lebaran ngak ada istilah mudik…itu sampai sekarang…istri juga orang kota asli….tapi bro… bekal ortu&mbah buyut…soal tatakrama, unggah-ungguh, tepo sliro lan mituhu marang wong tuo….itu palajaran wajib!!!!…yang lucu bro..(mohon sangat2 dikoreksi…& mohon jangan dijadiin bahan ketersingungan…please)…di sini…dikota…just like U said “Pendatang atau kaum urban, yang notabene dari plosok kampung sekarang menjadi penghuni ibukota yang lupa pada budaya akar. Budaya urban telah menjadi budaya baru mereka, dimana sifat individualisme dan egoisme menjadi dasar dalam bertindak. Yang menjadi pertanyaan, kenapa sifat itu muncul? “survive” yachh bertahan hidup, layaknya binatang liar yang soliter, dimana harus merebutkan daerah kekuasaan, makanan dan pasangan hidup. semua akan dilakukan dalam tahap pencapaian”..so what happen with wong NDESO…???…. wrong lesson from the older..or just …sorry kepanjangan…

  3. dhave29 said: bingung meh kemana brother..

    @jingglang; wo hohoho… interest juga yow.. woke, what happen with wong ndeso? alesan kebutuhan untuk hidup; ekonomi, status sosial, dan kebutuhan lain yang sifatnya mendesak membuat keterpaksaan bagaimanapun caranya. Adanya rutinitas masalah tersebut yang bisa mengukir sifat-sifat tadi (individu, ego..), masalahe butuh. Sedulur jadi musuh… Kalau Anda masih bisa menjunjung nilai-nilai dari leluhur “bersyukur” masih banyak yang bisa. Dengan jaman yang serba mie goreng “instant” juga ikut berpengaruh, dimana orientasi orang sudah berubah, mereka lebih mengedepankan hasil daripada sebuah proses. Yach malah tambah mbulet-mbulet… masalahnya saat ini saya sedang melihat dan mengalami situasi tersebut… akulturasi budaya dan kebutuhan… hahaha.. sisi menarik salam

  4. dhave29 said: bingung meh kemana brother..

    @jingglang; kata teman saya “tuh ciri-ciri wong sing gak sukses, susah, sugih tanggung dan beban kebutuhan yang berlebihan” sehingga yang terpikirkan hanya “butuh dalam arti materi” sedang kebutuhan sosial berkurang. TIDAK SEMUANYA BEGITU…hehehe..

  5. dhave29 said: @jingglang; kata teman saya “tuh ciri-ciri wong sing gak sukses, susah, sugih tanggung dan beban kebutuhan yang berlebihan” sehingga yang terpikirkan hanya “butuh dalam arti materi” sedang kebutuhan sosial berkurang. TIDAK SEMUANYA BEGITU…hehehe..

    setuju….ginana kalo orang2 itusampean ajari motret …biar nuraninya tajam kaya’ njenengan….xixixixixixii..serius lho iki…

  6. dhave29 said: @jingglang; kata teman saya “tuh ciri-ciri wong sing gak sukses, susah, sugih tanggung dan beban kebutuhan yang berlebihan” sehingga yang terpikirkan hanya “butuh dalam arti materi” sedang kebutuhan sosial berkurang. TIDAK SEMUANYA BEGITU…hehehe..

    @mas Jingglang; ah jangan gitu ah… aku sendiri aja sulit je hehehe… masih belajar terus mas… buat jadi orang baek xixixixiii…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s