QC vs Sales Obat Nyamuk

Wawan (25 tahun) profil lulusan PTN di Surabaya jurusan Perikanan dengan dengan indeks prestasi 3.5. Saat ini berkerja di sebuah perusahaan PMA Jepang di Jawa Timur sebagai Quality Control untuk produk kemasan ikan. Yang saat ini dirasakan Wawan adalah, jemu, bosen, tertekan dan tidak bisa melakukan apa-apa diluar jam kerja. Dengan gaji yang cukup tidak menjajikan, kenapa Dia tidak nyaman?

Kembali jauh sebelum Dia bekerja sebagai QC, dia bekerja sebagi sales keliling Obat Nyamuk. Dengan memakai sepeda motor roda 3, dia keliling dari warung kewarung. Kulit hitam, muka kumal menjadi penghias dirinya. Susahnya mencari pekerjaan paska wisuda, membuat apapun dilakukan. Setiap hari bergaul dengan obat nyamuk ke warung-warung membuat Wawan semakin kreatif mengepakan sayapnya. Berbagai sembako coba ditawarkan untuk memberikan tambahan hasil, dan hasilnya luar biasa. Dalam waktu sekejab Wawan sudah punya pelanggan tetap untuk disetori obat nyamuk dan dagangan sembako. Kantong semakin tebal saja, sehingga mampu membeli beberapa alat pemenuh kebutuhan dan hidup semakin mapan.

Suatu hari disaat tak terduga, ada sodaranya didesanya yang memergoki Wawan sedang nyeles obat nyamuk. Akhirnya kabar lulusan sarjana perikanan yang nyeles obat nyamuk menyebar keseantero keluarga besarnya. Segala tudingan negatif dan merendahkan berdatangan ditelinga Wawan dan keluarganya. Akhirnya sang bapak “le nek bisa, gaweanmu diganti ben rada kajen karo iso ngangkat martabat keluarga” (nak, kalau bisa, pekerjaanmu di ganti biar bisa ngangkat martabat keluarga).

Koran, internet dan koneksi teman-teman di uber untuk mencari lowongan. Akhirnya ada perusahaan yang membutuhkan seorang QC dan surat lamaran dilayangkan. Singkat kata dia diterima dan bekerja sebagai qc produk. Dia membandingkan QC dan Sales, jauh berbeda sekali yang dia rasakan.

sebagai QC, setiap hari selalu monoton yang dia kerjakan, kerja dibawah tekanan, berangkat jam 8 pulang jam 4, gaji hidup mati segitu saja, berangkat wangi pulang bau amis, makan dan istirahat dibatasi. Yang membuat dia bertahan adalah “gengsi keluarga”. Sebagai sales obat nyamuk, dia bekerja dengan target, ada tantangan dan tidak monoton, mau istirahat dan makan terserah, barangkat bersih pulang tetap lusuh. Yang membuat nyaman adalah “kebebasan berekspresi dan pendapatan yang bisa di atur”.

Gengsi bertentangan dengan kepuasan… mana yang anda pilih? berkerja denga hati ataukah dengan gengsi? walaupun menyabet gelar sarjana perikanan bukan berarti harus jadi ahli ikan, walaupun idealnya begitu. Tekanan dan gengsi yang acapkali membuat orang tidak bisa berkembang dan berkreasi dalam berkarya. Apapun pekerjaannya asalkan halal, benar dan dilakukan denga ketulusan serta ketekunan akan mengasilkan yang namanya kepuasan.

Selamat berkarya kawan… kita senasib..hehehe..
Makan tuh Gengsi….
Kamar kost, pabrik kulit Surabaya, 25 mei 2009, 09:00

9 thoughts on “QC vs Sales Obat Nyamuk

  1. hehehehehehe…lho nyindir aku iki…kerja di BUMN yang saham 50% dikuasai asing…job describ=aktifitas beku,…rutin on office 8 jam saben hari,…berangkat wangi..pulang mandi dulu…fasilitas kantor lebih sip dari kamar mandi rumah….soal gaji….xixixixixixi…sisanya bisa buat beli 2 body camera and lensa2 idaman….tapi bro soal gengsi…??? :-$….so kerja buat nyelesaikan masalah….motret….is my live style…& the way my live in…xixixixixixi

  2. @jingglang; hahaha… senasib kita…. aku bar dolan dari sentradig marina… iseng nonton kamera hehehe… jepret is my life hahaha… mending BUMN,aku sekantor ama mas Wawan hahaha… “ROMUSHA” hikssss hikss

  3. @jingglang; hahaha… senasib kita…. aku bar dolan dari sentradig marina… iseng nonton kamera hehehe… jepret is my life hahaha… mending BUMN,aku sekantor ama mas Wawan hahaha… “ROMUSHA” hikssss hikss

  4. yang penting menjadi diri sendiri, rela mati buat yang diyakini daripada hidup tidak punya harga diri (baca: diperbudak)… hehehe… cerita dari seorang lulusan Fisika yang ngajar Desain🙂

  5. @alexam; hahaha… be your self begitu yaw… Eduksai yang berakhir dengan gelar, ilmu yang dipakai cuma sedikit persen daripada pengalaman selama proses edukasi. Bersyukurlah yang lulus lama, karena pengalaman segudang (bukan berarti bodo lho). Yaw gimana lagi…. saat nya “(nyileh iklan) MATI ANTI BERKARYA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s