Menjadi Tamu di Negeri Sendiri

Bego, bloon, dan memprihatinkan, itulah kondisi yang saya rasakan. Ngawulo (menghambakan diri) di perusahaan asing memang acapkali membanggakan dilihat dari sebuah prestis pekerjaan maupun penghasilan dibanding dengan perusahaan lokal. Apabila dicermati dan dirasakan lebih dalam, nelangsa (memelas) itulah jawabannya.

Indonesia dengan segala kekayaan dan potensinya dikuras untuk orang asing, bahkan kita yang memiliki hak sepenuhnya tidak pernah secuilpun menikmati dari kekayaan negeri ini. Sebut sajalah minyak bumi, dimana produk kelas satu yang disedot dari perut bunda pertiwi ini dijual ke negara lain. Yang lebih memprihatinkan adalah dari sektor kelautan, dimana sebagian besar produk kelautan Indonesia di nikmati bangsa Asia Timur, Eropa dan Amerika.

Kenapa kondisi ini terjadi? faktor ekonomi… duit sajalah biar mudah menganalogikan. Mereka (orang asing) berani bayar mahal untuk sebuah ikan tertentu, nelayan kita yang rata-rata hidup serba kekurangan mau tidak mau harus melepas. Tetapi apa yang terjadi, ikan yang di beli kemudian di proses sedemikian rupa akan memberikan nilai jual yang fantastis… hampir 200% (bruto). Contoh di perusahaan saya, beli teri nasi dari nelayan 16rb per kilo, lalu di proses menjadi US$ 12,00 per kilo… wow. Itu baru 1 jenis ikan, padahal ada ribuan spesies ikan yang punya potensi ekonomi tinggi.

Kenapa kita hanya bisa memandang fakta tersebut?, jawabnya kita tidak punya SDM, Market dan kebijakan pemerintah yang berpihak sebelah. Sebenarnya proses pengolahan ikan sangat mudah dan yang bekerja di pemrosesan juga orang kita, jadi paham benar apa yang dilakukan. Mesin, peralatan dan bahan buatan lokal, hanya lisensi, merk dan pengakuan dari asing. Kita hanya punya tenaga, keringat dan air mata di atas penjajah industri dan ekonomi.

Kapan kita maju dan mandiri, kita punya semua potensi yang ada. SDM bisa kita cari, SDA melimpah ruah, Market (semua butuh pangan), nah mudah kan, kalaupun tidak laku bisa di jual lokal dengan harga terjangkau. Teknologi kita gak jauh berbeda dengan bangsa asing. Yang menjadi masalah, orangnya yang susah di ajak maju (enakan disini, gaji gede, kerja enak)(ngapain susah-susah, tinggal jalanin apa adanya)(wallah kurang kerjaan, mau bunuh diri yaw). Yachh… kembali ke urusan perut dan duit, brow… ini jaman merdekan bukan perang kemerdekaan lagi, cinta tanah air dan bangsa, tetapi sekarang cinta anak istri inventasi dan posisi.

Jadilah tuan rumah di negeri sendiri, Anda sopan kami segan, Anda kurang ajar kami hajar…

Saatnya kita makan ikan kerapu, jangan mau gereh hahaha…

salam dan mohon maaf yang berkepentingan,

Ruang meeting bos Jepang, 21 mei 2009 10.10WIB…
-I Love INDONESIA-

10 thoughts on “Menjadi Tamu di Negeri Sendiri

  1. Tumben lo mikir dalem banget bozz….salut! Bener apa kata lo boz..ngapain sih bangga banget kerja di perusahaan asing? Gaji gede? Status sosial? Halaaaaah…gak nyadar apa sebener’nya kita jadi “jongos” di negeri sendiri..Cuma masalah’nya yaitu..kita terlalu takut untuk ambil resiko! Beda sama mereka yang punya keberanian untuk ekspansi..Gue lagi mencoba bangkit boz…doa’in langkah dan usaha gue!

  2. @opaytwo; mari kita teruskan pendahulu kita yang telah bebaskan dari penjajah, agar kita tidak terjajah lagi.@farhanmutia; iya,, masak anak cucu kita makan sampah dari hasil bumi pertiwi.@guruh78; anda benar, mari kita terus berjuang… kata bung Karno “berdikari” berdiri diatas kaki sendiri… ayo lanjutkan.@alexamzah; yach… ni libur agama saya, aku telah diperkosa untuktidak ibadah… maka saya cuma bisa rumongsa aja..”Tuhan Berkati pekerjaan saya, kiranya menjadi berkat bagi yang lain..Amin”…

  3. @opaytwo; mari kita teruskan pendahulu kita yang telah bebaskan dari penjajah, agar kita tidak terjajah lagi.@farhanmutia; iya,, masak anak cucu kita makan sampah dari hasil bumi pertiwi.@guruh78; anda benar, mari kita terus berjuang… kata bung Karno “berdikari” berdiri diatas kaki sendiri… ayo lanjutkan.@alexamzah; yach… ni libur agama saya, aku telah diperkosa untuktidak ibadah… maka saya cuma bisa rumongsa aja..”Tuhan Berkati pekerjaan saya, kiranya menjadi berkat bagi yang lain..Amin”…

  4. @opaytwo; mari kita teruskan pendahulu kita yang telah bebaskan dari penjajah, agar kita tidak terjajah lagi.@farhanmutia; iya,, masak anak cucu kita makan sampah dari hasil bumi pertiwi.@guruh78; anda benar, mari kita terus berjuang… kata bung Karno “berdikari” berdiri diatas kaki sendiri… ayo lanjutkan.@alexamzah; yach… ni libur agama saya, aku telah diperkosa untuktidak ibadah… maka saya cuma bisa rumongsa aja..”Tuhan Berkati pekerjaan saya, kiranya menjadi berkat bagi yang lain..Amin”…

  5. @opaytwo; mari kita teruskan pendahulu kita yang telah bebaskan dari penjajah, agar kita tidak terjajah lagi.@farhanmutia; iya,, masak anak cucu kita makan sampah dari hasil bumi pertiwi.@guruh78; anda benar, mari kita terus berjuang… kata bung Karno “berdikari” berdiri diatas kaki sendiri… ayo lanjutkan.@alexamzah; yach… ni libur agama saya, aku telah diperkosa untuktidak ibadah… maka saya cuma bisa rumongsa aja..”Tuhan Berkati pekerjaan saya, kiranya menjadi berkat bagi yang lain..Amin”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s