#2 Nur Edan dan Lelaki Terbodoh di Depan Ibu dan Istrinya

Obrolan berlanjut tentang curahan hati Nur Edan yang sejak tadi bersemangat sekali mendongeng. “Mas gimana kehidupan rumah tangganya, dengan kondisi mas yang antik dan nyentrik begini?” saya membuka topik pembicaraan.

Kemudian Nur Edan menghirup nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan, “wah.. serius nih kayaknya”. Dia mulai bercerita dengan gaya khas logat Jawa Medoknya. Saya dalam keluarga adalah orang yang pantang menangis dan menyesal. Kalau saya sakit, sedih, atau tertimpa musibah haram hukumnya untuk menangis. Kenapa demikian?, karena apakah dengan tangisan semua bisa selesai atau berakhir?

Saya mesiasati semua itu dengan ucapan syukur dan bahagia saja kok. Prinsip saya, apa yang terjadi pada diri saya sudah ada dibuku kehidupan Gusti Allah. Lah kenapa mesti saya tangisi? alangkah baiknya saya syukuri karena diberi kesempatan untuk menjalankan skenario Gusti Allah…ya Tho? “leres Mas” (betul Mas) jawab saya pelan.

Oh ya… kenapa setiap orang yang ditinggal mati oleh ayah atau ibunya pada menangis?. Saya paling anti menangis apabila ada yang ditarik yang punya dealer kehidupan. Menangis ada beberapa sebab, seperti; merasa kehilangan, kawatir tidak kejatah warisan, takut tidak dinikahkan…? Maka daripada itu, biar tidak menangis saya melakukan apa saja yang diminta orang tua, walaupun kadang-kadang tidak sampai tujuannya, yang penting berangkat jalankan misi. Ingat… bisa membahagiakan orang tua bisa memperpanjang nafas kehidupan kita, walaupun “nggih-nggih mboten kepanggih” (iya-iya, tapi tidak terlaksana”.

Hari semakin malam, kemudian Nur Edan menutup cerita dengan berpesan. “Mas jangan sekali-kali menjawab atau membantah ketiku Ibu sedang ngomong atau marah dihadapanmu dan Istrimu”, “kenapa Mas?” tanya saya. “Bila kamu berani ngomong, maka kamu adalah lelaki dan suami terbodoh”, “kok bisa?, bukannya pinter” jawab saya. “Pinter gundulmu, Istrimu akan tahu kalau kamu berani pada Ibumu, maka istrimu akan berfikir, kalau suamiku berani kenapa aku tidak” “hayo cilaka kamu sekarang”, “wah bener juga ya Mas”.

Maka berhati-hatilah saat Ibumu marah padamu disaat ada orang lain….

Jam di tangan menunjuk angka 18.30 dan nyamuk penghisap darah semakin liar. Banyak orang tersenyum saat melihat kami berdua yang sedang asyik ngobrol, wah orang gilanya bertambah 1 lagi neh mungkin kata orang-orang yang lewat, atau tumbu oleh tutup (Panci dapat tutup), maksudnya pasangan yang pas.

Yach itu semua real terjadi dan saya hanya bisa membagikan lewat tulisan saja, semoga berkenan bagi yang membacanya. Semoga lain waktu bisa bertemu dan ngobrol dengan Nur Edan yang memiliki hati selembut tutur katanya yang halus dan pola berfikir yang nyentrik. Aku nantikan wejangan penuh kebijakan kehidupan. Salam Hormat saya Mas Nur Edan.

Pematang Sawah Wonosari, 2 April 2009 jam 18.45

Nur Edan dan Lelaki Terbodoh di Depan Ibu dan Istrinya

Obrolan berlanjut tentang curahan hati Nur Edan yang sejak tadi bersemangat sekali mendongeng. “Mas gimana kehidupan rumah tangganya, dengan kondisi mas yang antik dan nyentrik begini?” saya membuka topik pembicaraan.

Kemudian Nur Edan menghirup nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan, “wah.. serius nih kayaknya”. Dia mulai bercerita dengan gaya khas logat
Jawa Medoknya. Saya dalam keluarga adalah orang yang pantang menangis dan menyesal. Kalau saya sakit, sedih, atau tertimpa musibah haram hukumnya untuk menangis. Kenapa demikian?, karena apakah dengan tangisan semua bisa selesai atau berakhir?

Saya mesiasati semua itu dengan ucapan syukur dan bahagia saja kok. Prinsip saya, apa yang terjadi pada diri saya sudah ada dibuku kehidupan Gusti Allah. Lah kenapa mesti saya tangisi? alangkah baiknya saya syukuri karena diberi kesempatan untuk menjalankan skenario Gusti Allah…ya Tho? “leres Mas” (betul Mas) jawab saya pelan.

Oh ya… kenapa setiap orang yang ditinggal mati oleh ayah atau ibunya pada menangis?. Saya paling anti menangis apabila ada yang ditarik yang punya dealer kehidupan. Menangis ada beberapa sebab, seperti; merasa kehilangan, kawatir tidak kejatah warisan, takut tidak dinikahkan…? Maka daripada itu, biar tidak menangis saya melakukan apa saja yang diminta orang tua, walaupun kadang-kadang tidak sampai tujuannya, yang penting berangkat jalankan misi. Ingat… bisa membahagiakan orang tua bisa memperpanjang nafas kehidupan kita, walaupun “nggih-nggih mboten kepanggih” (iya-iya, tapi tidak terlaksana”.

Hari semakin malam, kemudian Nur Edan menutup cerita dengan berpesan. “Mas jangan sekali-kali menjawab atau membantah ketiku Ibu sedang ngomong atau marah dihadapanmu dan Istrimu”, “kenapa Mas?” tanya saya. “Bila kamu berani ngomong, maka kamu adalah lelaki dan suami terbodoh”, “kok bisa?, bukannya pinter” jawab saya. “Pinter gundulmu, Istrimu akan tahu kalau kamu berani pada Ibumu, maka istrimu akan berfikir, kalau suamiku berani kenapa aku tidak” “hayo cilaka kamu sekarang”, “wah bener juga ya Mas”.

Maka berhati-hatilah saat Ibumu marah padamu disaat ada orang lain….

Jam di tangan menunjuk angka 18.30 dan nyamuk penghisap darah semakin liar. Banyak orang tersenyum saat melihat kami berdua yang sedang asyik ngobrol, wah orang gilanya bertambah 1 lagi neh mungkin kata orang-orang yang lewat, atau tumbu oleh tutup (Panci dapat tutup), maksudnya pasangan yang pas.

Yach itu semua real terjadi dan saya hanya bisa membagikan lewat tulisan saja, semoga berkenan bagi yang membacanya. Semoga lain waktu bisa bertemu dan ngobrol dengan Nur Edan yang memiliki hati selembut tutur katanya yang halus dan pola berfikir yang nyentrik. Aku nantikan wejangan penuh kebijakan kehidupan. Salam Hormat saya Mas Nur Edan.

Pematang Sawah Wonosari, 2 April 2009 jam 18.45

2 thoughts on “#2 Nur Edan dan Lelaki Terbodoh di Depan Ibu dan Istrinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s