#4 Maryamah Karpov di Karimunjawa

Dikejar Api Di Bandara Dewa Daru

Balapan lari dari SMK-dermaga-SMK selesai dan dimenangkan Parjo tanpa hadiah atau medali, hanya pengakuan siapa lebih capet dan lebih dekat, tetapi tidak terbukti lebih dekat. Sabtu pagi saya berencana mengunjungi Bandara Dewa Daru di Pulau Kemujan yang masih menjadi satu pulau besar dengan Karimunjawa, tetapi hanya dipisahkan sebuah sungai.

Saya saat itu ditemani mas Kusumo, tetapi lebih senang di panggil Ki Kusumo, biar lebih mentereng kali. Dengan naik mobil Ford Ranger double Cabin warna merah “ wah sangar, kaya tim JePe”. Camcorder saya pasang disisi pintu untuk mengabadikan perjalanan menuju Bandara. Perjalanan melewati jalan aspal yang mulus diselingi hutan campuran, hutan hujan tropis dataran rendah, kampung penduduk dan hutan bakau (mangrove). Perjalanan sekitar 45 menit dengan jarak sekitar 20 km.

Sesampai di bandara saya di ajak berkeliling melihat-lihat lokasi bandara Dewa Daru dengan landas pacu yang pendek. Selesai berkeliling di Bandara saya di ajak makan siang di Rumah pak Hasa, salah satu tokoh masyarakat di Kemujan, beliau adalah Keturunan Bugis dan pawang Macan Karimunjawa.

Macan Karimunjawa adalah seekor ular berbisa yang diberinama Edor (Calloselasma rhodostoma) tetapi ada versi yang menamakan Angkisfrodon rhodostoma. Ular tersebut mirip dengan ular viper (derik) dan nocturnal (aktivitas malam hari) dan boreal (ada ditanah). Jenis bisanya bersifat hemotoksin (menyerang pembuluh darah) dan neurotoksin (menyerang susunan saraf). “Korban yang tekena gigitan sang Macan Krimun ini biasanya bengkak, terus dari hidung, mulut, telinga mengeluarkan darah dan kalau tidak tertolong ya inalilahi”, kata pak Hasa.

Jamuan makan siang selesai, dilanjutkan melihat koleksi ular pak Hasa di dalam wadah Tong besar yang berisi sekitar 6 ekor ular dari yang masih bayi sampai kakek-kakek. Perjalanan dilanjutkan menuju pantai Kemujan lalu berjalan menyusuri pasir putih. Dari pantai Kemujan terlihat pulau Tengah, dan pulau Parang.

Setelah puas berjalan, saya kembali kerumah pak Hasa menjelang Maghrib, dan malam itu saya di Undang ki Kusuma untuk main di mess Bandara. Setelah mandi saya langsung menuju Ke mess Bandara, disana ki Kusuma sudah menunggu dengan kepiting bakar dan nasi yang mengepul hangat dan beberapa ikan goreng. Maknyusss dan selesai makan kami ngobrol di teras mess dekat landasan pacu pesawat.

Kami asyik ngobrol dan berbagi pengalaman dibawah remang-remang sinar bulan, karena saat itu sekitar tanggal 14 pananggalan Jawa, sehingga bulan sedang bulat-bulatnya. Tiba-tiba tangan ki Kusumo menunjuk-nunjuk arah landas pacu sambil teriak “edor-edor masss”. Kami pun berlari menuju landas pacu di ikuti teman-teman ki Kusuma yang berhamburan dari Mess. “ayo pateni, gebug..gebug” (ayu bunuh, pukul.pukul) teriak orang-orang Mess. Saat semua berlari mencari kayu atau pentungan, tetapi tidak ada yang menemukan, namanya juga landas pacu mana ada tongkat, yang ada mungkin bendera angin atau tiang antena hehehe…

Tiba-tiba ki Kusumo mendapat ide, “dibakar wae yukk..disatee”, “sik tak ambilke minyake” kata teman mess ki Kusumo. “niki mas longonipun” (ini mas minyaknya) kata teman ki Kusumo sambil menyerahkan cairan dalam botol (AKUA) air mineral 1500ml. “aku sing nyiram kowe sing nyumet ya yooo, ayo podo minggir” (aku yang nyiram kamu yang nyalakan api, ayo minggir semua) kata ki Kusumo.

Cairan di tumpahkan sedikit “jres” pentol korek api di nyalakan dan tiba-tiba BLUMMMMM….JEGGLLERRRR. Bola api menyembul ke udara…semua berlari kalang kabut, terlihat ki Kusumo berlari dengan api di tubuhnya, mirip personel Fantastic 4, lalu berguling-guling di pasir samping landas pacu,

Keadaan dapat di kendalikan, lalu rame-rame menyamperi ki Kusumo yang sedang mandi pasir dan begitu di pastikan ki Kusumo dalam keadaan baik-baik saja, tetapi ada bau hangus terbakar dari rambut dan kaus oblongnya. Tiba-tiba terdengar pengakuan polos dari orang yang mengambil minyak “soriii Ki, mau tak kiro lengo pet, tibake Avtur je hehehehe” (maaf mas tadi aku kira minyak tanah, ternyata Avtur to”. Kemudian ki Kusumo bernjak dan berkata “wes gak papa, sing penting slamet kabeh, Edore ndi….?”

“EDORRRR….teriak kami semua”, edornya lari di rerumputan dibawah remang-remang purnama “kapok kualat…modarrrrrrrrrr” guman sang Macan Krimun sambil terkekeh menunjukan taringnya…

Bersambung “Pertarungan Chris John”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s