Muara Hutan Mangrove

Pencarian sesuatu yang baru dan asing bagi saya adalah kegiatan yang menyenangkan. Sambil merayap dan meraba tanpa kita tahu sebelumnya adalah petualangan yang hebat. Karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya berada terus didekat pantai, maka untuk sementara alat-alat pendakian kemping dulu di almari.


Saya bingung, petualangan apa yang saya di sepanjang pantai, apakah susur pantai, berenang atau hanya sekedar menikmati indahnya matahari dan deburan ombak. “ Wah bisa di sangka orang gila, sendirian di pantai”. Terbesit keinginan untuk mencari celah-celah dan sisi lain dari pantai.

Bersepeda menyusui pantai, tambak dan hutan pantai adalah pilihan yang saya ambil Minggu dini hari, jam 4 pagi bangun dari tempat tidur, kupersiapkan 2 botol air minum, kaca mata, helm dan seperangkat kamera dan 1 buah daypack.

Jam 5 pagi dalam dinginya udara pagi kukayuh polygon murahan saya menuju bibir pantai sekitar 30 menit kukayuh pedal dengan 3-7. Tak ingin terlewat matahari terbit dari ujung dermaga. Dan benar saja, jalan yang aku lewati salah dan harus memutar kembali untuk menuju dermaga. Setelah berpacu dengan waktu, dapet juga matahari nongol, walau terlambat. Ingat “Matahari Tidak Menunggi Kamu, Kejar terus”.

Istirahat sebentar sambil makan buah salak, karena adanya itu ya tak apalah, walau sedikit perih diperut. Kini saatnya menuju area tambak untuk menjelajahi pematangnya. Dibutuhkan konsentrasi dan keseimbangan plus power yang mantab, kalau tidak bersiap-siaplah berenang dengan kawanan bandeng-bandeng. Sepanjang pematang, kanan kiri tambak melulu dan jalur tidak rata. Sungguh track yang menantang, selain jalurnya sempit, sulit, licin dan yang parah lagi, sekali jatuh langsung basah.

Selepas area tambak selesai, kini saatnya masuk hutan pantai. Yang ada hanya jalan setapak nelayan dan penggarap lahan pantai. Banyak sekali tanaman bakau yang lebat dan rumput ilalang. Jalanan kadang turun tajam, belok patah sampai air selutut menggenangi jalanan. Sepeda naik orang adalah hal yang wajar untuk kegiatan yang satu ini.

Selepas hutan pantai, kini saatnya menuju pantai untuk menjelajahi pasir cokelatnya. Sampai penghujung pantai, roda sepeda saya berhenti dan kaca mata hitam yang sejak tadi nangkring dihidung melorot kebawah. Seakan saya tidak percaya, “Muara”.

Jalan sudah berujung didepan muara, yang ada hanya aliran air yang pelan disertai deburan omabak di ujung muara. Kembali, lanjut, kembali, lanjut, kembali, lanjut seraya membayangkan menghitung kancing seperti pada saat THB dulu.

Tongkat bambu saya ambil lalu saya cancapkan di dasar muara, dan ternyata dalamnya sepinggan dengar arus yang tidak deras. Sepatu saya lepas, daypack saya ikat kencang-kencang dan sepeda saya panggul. Perlahan saya jalan didasar muara yang hanya kedalaman sepinggang,

Tiba-tiba di bagian tengah kaki saya amblas dan mirip lumpur hisap, semakin masuk kaki ini ke kedalaman lumpur. Hanya kata tolong yang terucap dalam otak tapi tidak keluar dari mulut. Tubuh saya semakin terbenam semakin dalam dan semakin berat saja sepeda ini. Dikejauhan ada seorang nelayan yang terheran-heran melihat orang berendam sambil nyuci sepeda,begitu melhat saya semakin dalam, nelayan tersebut loncat ke air dan langsung menyahut saya. “cul ke…cul ke… mas pitmu guwak..guwaakkk…!” sambil teriak nelayan tersebut yang kira kira artinya “ lepaskan..lepaskan…mas buang sepedanya buang..buang”.

Sepeda saya lepas dari pundak saya dan kaki saya ditarik sekuat tenaga dari hisapan lumpur, setelah lepas saya jalan ke sebrang muara sambil di tuntun nelayan. Tas dan sepatu saya letakan dan saya kembali ke air, disana nelayan masih clingak-clinguk mencari dimana tadi saya melepaskan sepeda.

Kembali kekonsep petualangan, meraba, merayap dan mencari, setelah beberapa saat mengitari temapat saya terbenam, terasa roda sepeda saya terinjak, “lah ini sepedanya”. Dengan dibantu pak nelayan , kami mengangkat sepeda yang sudah terbenam lumpur. Sesampai di sebrang segara saya mandiin sepeda dari lumpur. Tanpa menyebutkan namanya pak nelayan tersebut segera berpamitan dan menghilang dibalik rimbunya bakau. “Matur suwun sanget pak….!” Teriak saya.

Setelah sebentar istirahat, kembali sepeda saya pacu sepanjang pesisir pantai yang landai. Hampir 1 jam pasir pantai ku jelajahi, sampai akhirnya tiba di pelabuhan. Sesampai dipelabuahan, saya berdiri di menara pantai dan terlihat jalur perjalanan saya dengan waktu tempuh 4 jam lebih. Kembali saya berpikir “meraba yang tidak kuketahui” gila kenapa aku sampai disini, bagaimana aku kembali…..?

Advertisements

4 thoughts on “Muara Hutan Mangrove

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s