BALANOPHORA SANG PARASIT SEJATI

BALANOPHORA SANG PARASIT SEJATI

Dilantai hutan gunung yang lembab dan berkarpetkan lumut hijau disapu embun dan kesunyian, ada sebuah tanaman khas yang bersembunyi dibalik sebuah tanaman inang. Bagi kita yang gemar menjelajah hutan gunung mungkin pernah melihat sebuah bunga yang mirip bunga jahe (ginger). Balanophora adalah nama yang disematkan oleh ilmuwan untuk satu jenis tanaman eksotik tersebut.

Balanophora berasal dari keluarga Balanophoraceae dan memiliki 19 spesies. Persebaran Balanophora berada dikawasan tropis, meliputi Asia, Afrika, China, Australia dan kepulauan Pasifik. Balanophora hidup pada ketinggian antara 1000 sampai dengan 2800 meter dari permukaan air laut. Hutan gunung merupakan adalah habitat yang cocok untuk Balanophora.

Balanophora hidup dan berkembang biak dengan menumpang pada tanaman inang. Tanaman yang hidup dengan menumpang pada tanaman lain disebut sebagai tanaman parasit (Parasitica Plants). Balanophora mendapatkan makanan (nutrisi) dari tanaman inang dengan cara mengambil sumber gula dari tanaman inang. Penyebab Balanohora menjadi parasit dikarenakan tanaman terebut tidak memiliki zat hijau daun (Chlorophill), sehingga tidak bisa berfotosintesis.

Tanaman yang berbaik hati untuk memberikan tumpangan hidup pada Balanophora salah satunya adalah, Manis Rejo (Rhododendron retusum). R. retusum banyak dijumpai pada bebatuan di lereng-lereng gunung. R. retusum memiliki bentuk perakaran yang eksotis mirip perakaran tananaman yang dibentuk menjadi bonsai, sehingga acapkali menjadi bahan buruan para kolektor tanaman hias. Balanophora dikatakan sebagai parasit sejati, dikarenakan tanaman ini tidak membiarkan inangnya mati. Berbeda dengan tanaman parasit lain seperti Benalu yang membuat inangnya menjadi kurus, kering dan akhirnya mati. Sebelum tanaman inangnya mati, benalu biasanya sudah regenerasi dulu pada inang lain. Balanohora mengambil nutrisi dari tanaman inang sedikit demi sedikit, sehingga kedua spesies tanaman yang bersimbiosis dapat hidup dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai puluhan tahun lamanya.

Dari nilai filosofi, kita bisa tarik sebuah pelajaran berharga untuk cerminan hidup. Planet Bumi yang menjadi inang dan kita yang selama ini menjadi Parasitic Human akankah menjadi Benalu atau Balanophora. Untuk menjawabnya kita tilik pada sikap kita terhadap Planet Biru, apakah sudah akan membunuh dan kemudian pindah ke Planet lain, atau kah hidup saling sinergis dengan tetap menjaga untuk kelangsungan hipup.

(Oleh Dhanang, anggota div Hutan Gunung Balaophora*)

*Kelompok mahasiswa peduli lingkungan, Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s