17an nyasar di Merbabu

tujuh belas agustus tahun empat lima

itulah hari kemerdekaan kita

bla..bla…

setiap tahun pasti terdengar lagu tersebut dikumandangkan

bagi setiap angota TNI, Polri, PNS dan anak-anak sekolah wajib ikut upacara bendera untk memperingati kemerdekaan Indonesia tercinta. segenap persiapan dilakukan untuk menyambut hari kemerdekaam Indonesia, dari mulai ngecat jalan, loma-lomba sampai karnaval. Semua dipersiapkan semeriah mungkin, bahkan adik saya yang masih SD sibuk mencari sepatu hitam, kaos kaki putih, dan dasi untuk upacara.

Bagimana teman-teman penggiat alam bebas, apakah akan seperti angota TNI, Polri, PNS dan anak-anak sekolah, tentu tidak. Ada ritual wajib yang dilakukan dalam menuangkan rasa nasionalismenya. Salah satu agenda wajib adalah pendakian proklamasi, pendakian kemerdekaan dan entahlah, pokonya naiknya pas 17 agsutus.

Hamper semua gunung ramai dan tumplek blek pendaki, bahkan gunung yang statusnya waspada juga didaki, seperti pengalaman waktu naik semeru bertepatan 17an. Semeru yang pada saat itu aktif tetap didatangi pendaki, walaupun pendakian hanya mento Ranu Kumbolo.

16 agustus 2007 saya mencoba mengulang kegiatan tahunan tersebut, walau hanya di Merbabu, padahal Mas Taufik ngajak 17an di Kinabalu, karena alasan equitment saya mundur dalam pendakian tersebut.

Jam 20.00 pendakian dimulai dari Umbol Songo menuju Thekelan, karena buru-buru 25 menit sudah sampai dan tanpa basa-basi langsung menuju tempat Favorit, “pending is my paradise” begitulah maksudnya. Sekitar jam 22.00 sampai juga di Pending dan buka tenda, logistic, masak, makan-makan dan yang paling penting cuci mukan plus gosok gigi. Perjalanan tidak berhenti begitu saja, kemudian perjalanan panajang dilanjutkan menuju alam mimpi dulu.

Sekitar pukul 05.00 alarm HP berbunyi menandakan waktunya buang air kecil, setelah sebentar keluar tenda lalu masuk lagi dan melanjutkan perjalan yang sebentar lagi finish. Jam 05.30 alarm meraung-raung menandakan waktunya sesi pemotretan, kali ini yang jadi model adalah matahari terbit dan pemandangan. Tanpa diperintah, kamera dan tripod sudah dipunggung bersiap cari angel yang bagus.

Selesai sesi pemotretan ganti wisata kuliner, buat makanan dan minuman yang make news (mak nyuzzsss…) udah kenyang lalu packing dan lanjut ke atas. Jalur alternative menjadi pilihan, ehh setelah hampir dua jam berjalan, jalur yang dilewati semakin aneh dan asing, ya maklumlah sudah 4 tahun gak dilewati hehehee. Usut punya usut teranyata saya seperti pendaki yang bikin jalur baru (turn wrong) maksudnya. Dah akhirnya cuaca semakin panas, diputuskan untuk berteduh dan menjernihkan pikiran, seteloah istirahat dilanjt mencari rute yang benar masih tetap saja salah, akhirnya isturahat lagi sekitar 1 jam sambil wisata kuliner lage, pokoke mak nyusss dan legender…

Orang bijak bilang, rajin pangkal pandai, menabung pangkal kaya dan nekat pangkal tersesat, dah akhirnya kembali ke laptop, ehhh jalur yang tadi.

3 jam waktu untuk sampai base camp. Sesampai basecamp Thekelan istirahat dan leyeh-leyeh. Ada fenomena yang aneh dan masih ada dijaman modern seperti ini, yaitu anak berambut gimbal. Setiap dataran tingi pasti punya mitos anak berambut gimbal, Dieng contohnya. Setelah cekrak-cekrek dengan kamera, insting wartawan saya muncul dan beratanya apa penyebab rambut gimbal. Ada yang bilang itu karena keturunan, kena kutuk Bethara Kala dan harus diruwat pada waktu-waktu tertentu (untuk jelesanya masih dalam investigasi, tunggu kelanjutanya) bahkan ada yang bilang kurangnya sanitasi (jarang karmas, bener juga sebab disana (tekelan) udara dan airnya dingin sekali) bahkan yang lebih konyol “dulu Bob Marley dapet mantu orang Thekelan (mohon maaf bagi pihak yang bersangkutan, hanya bercanda). Pada intinya siapa yang benar belum bisa dijelaskan, tinggal dari sudu pandang mana dilhatnya, apakah dilihat dengan kacamata medis, social, supra natural atau dagelan.

Selesai bercanda dengan anak Gimbal saya kembali turun menuju Kopeng..dah itu dulu oleh-oleh 17an, dah sok tau, nyasar akhirnya gak dapet moment 17an, tapi perlu dicatat tahun depan saya kembali lagi.

Regards

Dhanang

3 thoughts on “17an nyasar di Merbabu

  1. ketemu, aku liat kalian kok rame-rame…inget aku yang pake dome kuning, jalan via thekelan dan aku masing inget wajah2nya kok.salam kenal.oke kalau mau jalan kontak dulu ya…salam kenalDhanang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s