Pasar Gede, Klenteng dan Timlo Ya Ada di Solo

Tugu dan gerbang pasar gede, yang menjadi ikon pusat perdagangan di kota Surakarta (dok.pri).

Tugu dan gerbang pasar gede, yang menjadi ikon pusat perdagangan di kota Surakarta (dok.pri).

Surakarta, nama yang tak asing lagi jika dipadankan dengan nama Solo. Mungkin orang akan lebih familiar dengan kata Solo dibandingkan dengan Surakarta. Berbicara Solo, pasti tak jauh-jauh dengan nama sungai Bengawan Solo  dan Kraton. Surakarta, sebuah kota penuh dengan sejarah yang panjang yang dulunya pemerintahan monarki dan berubah semenjak NKRI berdiri.

Di pusat kota, ada sebuah banguan bersejarah yang tak kalah menariknya untuk di kunjungi. Sebuah pasar yang penuh denga cerita sejarah, dan pasar itu bernanama Pasar Gedhe Hardjanegara. Pasar ini bukan sembarang pasar, karena pasar yang selesai di bangun pada tahun 1930 yang di arsitki oleh Ir. Thomas Karsten. Konstruksi bangunan 2 lantai dengan atap yang megah, menjadikan pasar ini terbesar se Surakarta, sehingga dinamakan pasar Gede (besar).

13865726032021834062
Tulisan Pasar Gede Hardjonagoro, sangat khas sejak awal ada (dok.pri).

Pasar yang terlekat di seberang Balaikota adalah pusat tataniaga pada saat itu. Beberapa kali pasar ini mengalami kerusakan dan renovasi, namun hingga saat ini masih dipertahankan bentuk aslinya. Tulisan PASAR GEDE HARDJONAGORO masih utuh dari semula tulisan ini dibuat. Warna cat dinding pasar dengan warna merah bata dan kuning kecoklatan juga masih dipertahankan mengikuti warna awal pasar ini.

Di ujung pintu masuk terdapat tugu di tengah-tengah jalan. Tugu ini terdapat jam yang dulunya dijadikan satu-satunya penunjuk waktu. Hingga saat ini tugu tersebut masih kokoh berdiri. Ikon pasar gede yang hingga saat ini masih ada, yakni tugu dan tulisan pasar gede. Dari depan pasar ini terdapat papan informasi elektronik yang memberitakan harga-harga terbaru bahan kebutuhan pokok. Dengan adanya informasi tersebut harga-harga sembako bisa dikendalikan.

13865727161012513210
Pembagian blog dan los pasar gede (dok.pri).

Kaki melangkah masuk kedalam pasar. Seperti pasar-pasar tradisional lainnya, pasar ini dibagi menjadi beberapa blog. Ada 4 blog di pasar ini dengan 16 jenis bahan dagangan. Jadi bisa dibilang, barang-barang di pasar gede sangat lengkap untuk menyediakan bahan kebutuhan pokok. 2 lantai pasar ini pada jam-jam pasar atau jam sibuk nampak penuh sesak para pedagang dan pembeli yang saling bertemu dan bertransaksi.

13865727602016521560
Saya berhenti di blok yang menjual jamu racik. Nampak seorang pedagang sedang meracik wedang uwuh (dok.pri).

Kaki saja mengarah di lantai 1 yakni disebuah blog bertuliskan ‘jamu racikan’. Aroma rempah-rempah memenuhi blog ini, benar saja inilah blog untuk obat-obatan tradisional. Saya menghampiri seorang pedagang yang sedang meracik jamu. Di depan saya terpapar serutan kayu sejang, kayu manis, daun pandang. Saya mencoba menebak “wedang uwuh ya bu..?”, dan ibu penjual menganggukan kepala. Wedang uwuh, biasa ditemukan di Imogiri, Bantul-Yogyakarta bisa ditemukan di pasar ini dan bisa meracik sendiri. Lantas saya membeli racikan wedang uwuh yang sepaket di jual Rp 1.500,00.

Belum selesai bertransaksi wedang uwuh, ibu tadi menawarkan lulur kecantikan. Tanpa ragu tangan saya dioleskan lulur dan digosok-gosok. Benar saja kulit ari terkelupas dan itu yang dinamakan daki dan dalam sekejap jadi halus dan wangi. Mujarap sekali lulur ini, namun saya tidak jadi membelinya daripada 2 teman dibelakang saya salah tafsir.

138657283964069914
Saya keluar dari sela-sela padatnya pengunjung pasar gede (dok.pri).

Usai puas menikmati dagangan herbal kini saatnya mencari kuliner khas pasar gede. Ada yang menawari ayam bakar khas sarde, namun saya memilih untuk mencari yang khas dan ditempat lain tidak ada. Berjalan dari blok ke blok untuk mencari sesuatu yang unik. Akhirnya kaki ini melangkah menuju halaman luar dengan mata jelalatan mencari sesuatu yang unik.

Berjalana melewati pertokoan, yang pada tahun 1998-1999 sempat porak-poranda akibat kerusuhan. Kini bangunan-bangunan baru sudah berdiri kembali, tetapi bangunan lama yang menjadi saksi tragedi reformasi itu juga masih kokoh berdiri. Di pertigaan jalan kaki saya berhenti dan ini yang saya cari sudah ketemu.

1386572889766674207
Timlo sastro yang legendaris, dari luar nampak sepi tetapi di dalamnya penuh sesak (dok.pri).

Timlo Sastro, demikian nama warung di ujung pertigaan jalan. Dari luar nampak kumuh dan kotor, namun jangan dilihat nampak luarnya. Warung timlo yang ada sejak tahun 1952 ini dari luar nampak sepi, tetapi di dalamnya penuh sesak dengan pengunjung yang berjubel. 2 menu andalan warung ini timlo dan sosis. Di papan menu terdapat sebuah jam dinding berlogo salah satu stasiun televisi swasta yang menjadi pertanda warung ini pernah diliput, sehingga menjadi salah satu tujuan kuliner.

138657294723967770
Timlo berisikan sosis dan telur, benar-benar memanjakan lidah siang itu (dok.pri)

Hari itu saya memesan timlo sosis telur dan segelas es jeruk. Dalam mangkuk yang berisi sosis dan telur dan disiram dengan kuah, jadilah timlo. Sosis disini bukan sosis yang daging giling yang dibungkus bulat memanjang, namun mirip dengan martabak. Lidah ini benar-benar dimanjakan dengan kuliner yang tak ada duanya. Timlo sastro menemani siang ini sebelum kaki melangkah keluar mencari apa yang ini di seputar pasar gede.

Perut kenyang matapun kembali terang dan masih ada 1 tujuan kunjungan lagi yakni Klenteng. Pasar gede dikelilingi oleh komplek perumahan yang dihuni etnis Tionghoa dan masyarakat sekitar menyebut pecinan. Tidak salah jika disekitar situ ada klenteng. Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie demikian nama tempat ibadah pemeluk tridarma tersebut. Klenteng ini terletak persis didepan pasar gede, tepatnya di jalan Ketandan.

13865730051611791843
Perjalanan ini di tutup di Kelenteng depan pasar gede (dok.pri)

Selesai sudah berkeliling pasar gede. Menikmati sajian dagangan berupa jamu tradisional. Memanjakan lidah di timlo sastro yang konon tempat lain tidak bisa meniru rasanya dan berakhir di klenteng Tien Kok Sie. Akhirnya waktu di tugu di depan Pasar Gedhé Hardjonagoro mengakhiri jelajah pasar hari ini.

About these ads

12 thoughts on “Pasar Gede, Klenteng dan Timlo Ya Ada di Solo

  1. Warnanya mantap, Dhave.
    Eh itu timlonya bikin lapar juga nih pagi-pagi dingin gini. Pasti asyik tuh makan yang anget-anget kaya gitu ya :)
    *he he he . . . ini kita koq ya malah ngomongin makanan terus sih Dhave*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s