Detik-detik Erupsi Merapi

IMG_9802

5 November 2010 pukul 12:05 dan waktupun berhenti seketikan. Wedus gembel dengan suhu ratusan bahkan ribuan derajat celcius melibas apa saja yang ada di depannnya. Itulah salah satu segmen tragedi erupsi Gunung Merapi di sisi selatan, yakni di Kali Adem. Tragedi karena murkannya alam, kini masih terlihat sisa-sisa keganasannya lewat benda-benda yang hampir mendekati titik lelehnya waktu itu.

Sekelumit cerita yang mengawali pagi ini 9 Februari 2013 untuk menapaki sisa-sisa erupsi Merapi. Mobil merah berpenggerak 4 roda meraung-raung melintasi medan aspal lalu banting kemudi ke jalanan berpasir. Inilah salah satu petualangan menarik kami. Lava tour, begitu GMTC menyebut jalan-jalan di sepanjang jalur perlintasan lahar dingin Gunung Merapi.

1360827381389110842
Mobil buatan tahun 60an dengan penggerak 4 roda inilah yang mengantar kami menuju Kali Adem (dok.pri)

Sebagian besar kendaraan yang dipakai dalam lava tour adalah mobil dengan penggerak 4 roda karena medannya berpair dan berbatu. Kendaraan ini sangat cocok dengan medan ini karena beberapa kelebihannya. Tidak menutup kemungkinan ada juga city car yang nekat melewati jalur ini, namun dengan pengemudi yang berpengalaman tentunya.

Bagi yang ingin memacu ledakan adrenalin, bisa juga bertualangan dengan sepeda motor trail. Kendaraan ini sudah banyak di psaran dengan ciri yang mencolok. Roda dengan ukiran yang garang, suspensi peredam getar yang panjang dan tubuh yang ramping adalah beberapa ciri khasnya. Meliuk-liuk di jalan setapak yang berpasir, kerikil hingga batu-batur berukuran besar adalah tantangan yang harus dilewati.

13608274501110095100
Memanjakan kaki dibalik pesona alam Gunung Merapi (dok.pri)

Bagi yang percaya dengan kemampuan kedua kaki, lokasi ini cocok untuk memanjakan kaki. Dengan sepatu yang cocok, yakni yang dirancang kuat, lentur, dan mampu mencengkeram medan labil adalah pilihannya. Udara yang bersih, sejuk dan pemandangan yang indah adalah sebuah bonus dari mereka yang membiarkan raganya terpapar kemegahan alam.

Kembali dikendaraan berwarna merah yang terus meraung-raung membelah sela-sela pasir yang mulai mengeras. Di beberapa titik kami berhenti untuk sesaat menikmati indahnya pemandangan alam sekaligus memanjakan kamera untuk melukis semua apa yang ada didepan mati. Tak henti-hentinya pandangan ini meliuk-liuk menembus hamparan lahar dingin untuk mencari sudut-sudut bidikan. Begitu sudah ketemu target sasaran, barulah rana ini terbuka untuk merangkap warna cahaya.

13608275401701471847
Kali adem, kini benar sudah sedingin hawa gunung (dok.pri)

Mendung menggelayuti tubuh merapi yang diam disisi utara. Rintik gerimis memaksa kami untuk berhenti dari aktivitas ini. Kini saatnya memanjakan lidah kami disaat perut sudah meronta karena tak ada lagi yang harus di cerna. Tak salah lagi, pilihan kami adalah minuman khas sini yang tak dijumpai di daerah lain. Wedang Gedang, atau minum pisang. Minuman ini terbuat dari seduhan air jahe yang panas lalu diberi pisang yang sedikit dilumatkan. Rasa manis, sensasi hangat dan wangi, ditambah pisang memang sebuah kenikmatan yang tiada duanya, terlebih saat hujan turun dengan lebatnya.

13608275921215245730
Menu terakhir kami sebelum meninggalkan Kali Adem. Rumah mungil ini menjadi saksi saat erupsi Merapi (dok.pri)

Kami harus mengakhiri langkah kaki ini, seiring langit yang mulai membaik. Tujuan terkahir kami adalah sebuah museum mini sisa erupsi Gunung Merapi. Pada awalnya adalah rumah penduduk yang saat tragedi merapi ikut tersapu awan panas. Bangunan yang setengahnya sudah rusak berantakan kini disulap menjadi sebuah galeri yang sangat unik.

Erupsi merapi terekam jelas dari museum ini. Jam dinding yang berhenti berputar menjadi tanda awal dari tragedi ini. Botol minuman bersoda dan kecap nampak berbentuk seperti pernah dilumerkan, ini artinya ada suhu lebih dari seribu derajat celcius. Tabung-tabung televisi nampak masih utuh, namunrangka luarnya sudah tak bernentuk. Rangka-rangka sepeda motor hingga mamalia sapi terlihat jelas yang kini jadi hiasan.

13608276821823109486
Seorang penutur yang menggunakan rumahnya sebagai museum sebagai bukti murkanya alam waktu itu (dok.pri)

Wati, 65 tahun sempat menuturkan momen pasca tragedi dimana semua luluh lantah oleh murka alam. Namun pelan dan pasti semua akan kembali normal dan tertata seperti semula. Dibeberapa tempat, tentangganya sudah direlokasi, namun ibu ini tetap bertahan di tanah yang memberikan kehidupan baginya. Rumah yang nyaris rubuh kini sudah disulap menjadi museum satu-satunya untuk menyaksikan ulah wedus gembel 3 tahun yang lalu.

Merapi yang dingin karena hujan siang ini nampak beku karena tertutup kabut tebal. Hangatnya sambutan gunung terkatif ini dengan menyajikan keindahan dan pesonannya adalah bukti betapa alam ini tetap memelihara kehidupan. Dibalik itu semua, awan panas tetaplah potensi bahaya diwaktu-waktu tertentu dan di depan mata adalah salah satu buktinya.

About these ads

3 thoughts on “Detik-detik Erupsi Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s